Operator Diminta Rasional Tawarkan Tarif Layanan i

Sekjen Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) M Danny Buldansyah (Sumber: youtube)

Oleh: Emanuel Kure / GOR | Selasa, 30 Mei 2017 | 14:05 WIB

JAKARTA – Operator tekemonunikasi seluler di Indonesia diminta untuk bersikap rasional dan tidak terlalu murah dalam menawarkan tarif layanan kepada pelanggannya agar tetap bisa menjaga kelangsungan usahanya. Sebab, kondisi industri seluler saat ini sedang berjuang untuk menjadi lebih efisien dan tetap bertahan dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat.

Sekjen Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) M Danny Buldansyah mengatakan, industri seluler di Tanah Air kini menghadapi kondisi anomali. Sebab, operator yang menjadi pusat ekosistem kondisinya masih 'berdarah-darah' dan hanya ada satu yang benar-benar telah stabil kinerja keuangannya. Namun, ada operator yang memberikan tarif yang sangat murah kepada pelanggannya.

“Ini kan ada yang gak bener. Salah satunya karena penetapan tarif tak dilandasi cost margin, tapi berbasis kondisi pasar, akhirnya yang dikorbankan profit dan sustainability dari bisnis,” kata Danny, dalam diskusi media yang digelar Forum Lingkar Kuningan di Jakarta, Senin (29/5).

Menurut dia, jika operator bisa menjaga laba bersih (net profit) sebesar 10% dari pendapatan usahanya (income) sudah bagus. Hanya masalahnya, banyak operator yang membuat kesalahan dengan cenderung memberikan tarif gratis ke pelanggan tanpa edukasi yang benar.

“Konskuensinya, ketika mencoba menyehatkan tarif itu menjadi berat, karena ada pemain lain melakukan hal sama (yang juga memberikan gratis karena tak mau kalah),” ujar Danny.

Sementara itu, Direktur Service Management XL Axiata Yessie D Yosetya mengungkapkan, selama ini, XL sudah menawarkan tarif sesuai dengan profil yang ditargetkan. XL berusaha mengemas produk yang sesuai dengan karakteristik penggunanya.

“Tentunya, itu semua komponen cost sudah diperhitungkan, termasuk memperhitungkan profitabilitas produk,” ungkap Yessie.

Dia menuturkan, penawaran tarif promosi dianggapnya merupakan 'ongkos belajar' yang dilakukan XL selama ini. “Tapi, kami sudah mulai pangkas bonus kuota. Kami juga sudah lakukan efisiensi agar profitabilitas bisa lebih terjaga,” tambahnya.

Lebih jauh, analis dari Binaartha Securities Reza Priyambada melihat, kompetitifnya tarif yang ditawarkan operator tak bisa dilepaskan dari mekanisme pasar. Sebab, ada permintaan tarif murah dari pelanggan dengan tetap menjaga pelayanan yang lebih baik.

“Kalau dilihat EBITDA (earning, before, interest, tax, depreciation, and amortisation) dari emiten operator itu di kisaran 40-60%, artinya ada pendapatan yang terpangkas operasional sebesar itu. EBITDA ini kan menunjukkan kesehatan keuangan dari perusahaan,” ulas Reza.

Sedangkan anggota Komisi Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) I Ketut Prihadi Kresna mengatakan, operator sudah berusaha optimal melakukan efisiensi untuk bisa memberikan tarif yang kompetitif bagi pelanggannya.

“Pertanyaanya kan sekarang, masih mau tarif turun? Kalau begitu, salah satu solusi berbagi jaringan aktif (network sharing). Itu bisa menghemat biaya jaringan dan mengurangi komponen tarif,” pungkas Ketut. (man)




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT