Medsos Dapat Meningkatkan Kebahagiaan Masyarakat

Ilustrasi Media Sosial (Istimewa/istimewa)

Oleh: / GOR | Sabtu, 10 Juni 2017 | 23:00 WIB

YOGYAKARTA– Media sosial (medsos) secara signifikan mampu meningkatkan kebahagiaan masyarakat penggunanya, kata Psikolog Klinis dari Universitas Bina Nusantara, Pingkan CB Rumondor.

“Penggunaan medsos diyakini mampu meningkatkan tingkat kebahagiaan masyarakat penggunanya. Karena siapa yang kita ikuti di media sosial bisa berdampak bagi kebahagiaan diri kita,” ujar Pingkan, yang juga awardee LPDP Program Doktor di Universitas Indonesia (UI), dalam siaran persnya, di Yogyakarta, Sabtu (10/6), saat menyikapi peringatan Hari Media Sosial Nasional.

Pingkan mengatakan, pengguna media sosial perlu menyadari bahwa media itu memungkinkan penggunanya mengamati kehidupan orang lain. Baik kehidupan orang yang berada ‘di atas’ maupun ‘di bawah’. Termasuk, kata dia, orang-orang yang lebih mapan, cerdas, tampak bahagia, maupun orang-orang yang lebih berkekurangan dan merana.

Berdasarkan Social Comparison Theory, jelas Pingkan, manusia cenderung membandingkan diri dengan orang lain. Jika membandingkan dengan orang di atas, maka cenderung membuat manusia itu merasa kurang puas dengan kehidupannya.

“Akibatnya, menjadi kurang bahagia. Sementara jika membandingkan diri dengan orang yang dibawahnya, cenderung membuat kita merasa bersyukur, dan dampaknya mendorong kepuasan hidup serta kebahagiaan,” terang Pingkan.

Terkait penggunaan media sosial, ia mengingatkan agar masyarakat untuk memahami hal ini agar bisa memanfaatkan media sosial secara optimal untuk mendorong kebahagiaannya.

“Tips praktisnya, follow akun yang membuat Anda merasa bersyukur, bukan iri. Dan unfollow/mute akun yang membuat Anda merasa iri, merana, atau tidak puas dengan diri. Jadi, kendali dan pilihan untuk merasakan kebahagiaan ada ditangan kita,” tandas Pingkan.

Kontribusi Medsos
Senada dengan itu, Peneliti Ekonomi Syariah dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Taufiq Hidayah menilai, media sosial telah melahirkan tubuh digital yang tak lagi mengenal batas geografis. Sehingga setiap penggunanya seolah saling berhadap-hadapan secara langsung.

Menurut dia, tubuh digital memampukan penggunanya untuk saling berhadapan, berbincang, bertukar gagasan, hingga berkelahi. Celakanya, kata dia, masyarakat Indonesia tidak banyak memiliki literasi kuat untuk membendungnya.

“Sehingga kita mudah terpancing isu yang harusnya bisa di-tabbayuni (cross check) terlebih dahulu,” ungkap Taufiq.

Meski demikian, Taufiq mengakui bahwa pada satu sisi kemajuan media sosial telah dimanfaatkan generasi milenia untuk menyebarkan hal-hal yang positif seperti portal kitabisa, dan yang lainnya.

“Harapan kita, di hari peringatan Media Sosial Nasional ini, setiap kita mampu berkontribusi untuk membantu banyak orang, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” papar Taufiq.

Darurat Hoax
Sebagaimana diketahui, dalam beberapa waktu terakhir Indonesia seolah dilanda hoax atau berita-berita tidak benar dan tidak bertanggungjawab. Bahkan, cukup marak terdengar masyarakat yang berani menghina Presiden Jokowi sebagai lambang negara RI dengan menyampaikan gambar atau meme yang tidak sepantasnya diunggah di akun media sosial. Termasuk juga penghinaan terhadap simbol-simbol negara lainnya.

Terhadap perilaku dan tindakan tidak terpuji ini, Presiden Jokowi telah menyampaikan harapannya agar masyarakat Indonesia cerdas dalam menggunakan media sosial. Tujuannya agar persatuan dan kesatuan bangsa tetap terbalut erat dalam NKRI.

"Saling menyalahkan, memfitnah, membuat berita-berita hoax di media sosial itu tidak memiliki kontribusi pada negara ini," kata Presiden Jokowi saat meresmikan SMA Negeri Taruna Nala Jawa Timur, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, beberapa waktu lalu.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT