Instagram Andalkan AI untuk Saring Komentar Negatif

Ilustrasi (Instagram )

Oleh: Abdul Muslim / GOR | Rabu, 5 Juli 2017 | 14:59 WIB

SAN FRANSISCOPlatform media sosial untuk berbagi foto dan video, Instagram, memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menyaring komentar negatif dan spam. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya Facebook, sebagai pemilik Instagram, dan perusahaan internet lainnya untuk membatasi penyebaran troll, serta ujaran kebencian dan kekerasan.

Pendiri dan CEO Instagram Kevin Systrom mengatakan, para pengguna telah memberi tahu kepada manajemen Instagram bahwa komentar beracun telah menghalangi untuk menikmati Instagram dan mengekspresikan diri dengan lebih bebas.

"Untuk membantu, kami telah mengembangkan filter yang akan memblokir komentar ofensif tertentu pada unggahan dan live video," ujar Systrom, dalam sebuah unggahan blog, seperti dilansir AFP, baru-baru ini.

Selanjutnya, komentar tertulis akan tetap muncul seperti biasa di Instagram. Namun, pengguna akan dapat memilih untuk mematikan atau tetap menghidupkan filter baru untuk menyaring penyebaran troll, serta ujaran kebencian dan kekerasan.

Menurut Systrom, filter komentar negatif akan diluncurkan pertama kali dalam versi berbahasa Inggris. Sedangkan versi bahasa lainnya akan ditambahkan secara bertahap. Nantinya, selain dalam bahasa Inggris, pemindaian filter untuk spam pada Instagram juga dirancang dalam bahasa Arab, Tiongkok, Prancis, Jerman, Jepang, Portugis, Rusia, dan Spanyol.

"Tim kami telah merancang sistem untuk mengenali beberapa jenis komentar negatif dan spam, sehingga Anda tidak perlu melihatnya lagi. Sistem ini akan membaik seiring berjalannya waktu," tambahnya.

Pada akhir 2016, Instagram telah mengumumkan pencapaian pengguna dua kali lipat selama dua tahun. Kini, aplikasi tersebut telah digunakan oleh sekitar 600 juta pengguna bulanan. Jumlah pengguna tersebut meningkat sangat signifikan dibandingkan September 2015 masih sekitar 400 juta pengguna aktif bulanan.

Ikuti Facebook
Sebelumnya, Facebook juga telah melakukan 'perang' terhadap penyebaran troll, ujaran kebencian dan kekerasan, bahkan pornografi di berbagai belahan dunia. Terakhir, pada April 2017, Facebook mempublikasikan 10 tips bagi para penggunanya untuk mengetahui keakuratan sebuah berita asli, atau palsu (false news/hoax).

Panduan tersebut diluncurkan di 15 negara pengguna Facebook, termasuk di antaranya Indonesia, Myanmar, Korea Selatan, Taiwan, Filipina, dan Inggris Raya. VP of Product for News Feed di Facebook, Adam Mosseri, mengatakan, menanggapi kritik terhadap peredaran berita palsu yang makin mengkhawatirkan di Facebook, pihaknya memberikan panduan kepada para pengguna di 15 negara.

"Kami menggali cara untuk memberikan orang-orang lebih banyak konteks tentang peristiwa, sehingga bisa membantu mereka dalam mengambil keputusan apa yang dibaca bisa dipercaya dan layak dibagikan, serta memberikan akses ke lebih banyak perspektif topik yang mereka baca," kata Adam, dalam keterangannya, pekan lalu.

Mulai Jumat, 7 April 2017 waktu setempat, pengguna Facebook pun menerima pemberitahuan tentang tips cara memvalidasi false news, atau hoax. Bersamaan dengan itu, Facebook pun meluncurkan fitur alat (tool) di bagian atas News Feed untuk membantu orang-orang guna mengetahui berita palsu. 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT