Red Hat: Berbagai Aplikasi Mobile Tumbuh Pesat di ASEAN

Ilustrasi pemakai smartphone ()

Oleh: Emralsyah / GOR | Selasa, 8 Agustus 2017 | 13:20 WIB

JAKARTA- Red Hat Inc. (NYSE: RHT) mengungkap pertumbuhan permintaan akan aplikasi-aplikasi mobile di negara-negara ASEAN. Survei tersebut menunjukkan 76% responden berencana untuk berinvestasi dalam proyek-proyek aplikasi mobile dalam 24 bulan ke depan.

Hasil survei yang dijabarkan dalam IDC InfoBrief berjudul Maturing Mobile Journey for Enterprise - ASEAN Perspectives yang diprakarsai oleh Red Hat menemukan bahwa meskipun sejumlah besar responden menyatakan mereka telah memiliki strategi terkait mobilitas, banyak dari mereka yang masih berusaha keras dalam hal proses, termasuk eksekusi.

Selain itu, survei tersebut juga mengungkapkan bahwa keterampilan khusus di bidang mobile termasuk sulit untuk diperoleh dan dikembangkan di Singapura Malaysia dan Indonesia.

Survei yang dilakukan oleh IDC atas prakarsa red hati ini mencakup berbagai tanggapan dari 2 75 profesional di 3 negara tersebut.

Hasil temuan dari IDC InfoBrief diantaranya adalah: Respon di Singapura Malaysia dan Indonesia tengah beralih melampaui perangkat menuju mobilitas alur kerja. Sebanyak 56% responden yang disurvei menganggap mobilitas penting bagi bisnis mereka, sementara 40% berencana untuk fokus pada proyek-proyek terkait aplikasi mobile dalam 12 hingga 24 bulan ke depan.

Permintaan akan aplikasi aplikasi mobile di tiga negara tersebut sedang berkembang dimana integrasi sistem lawas menjadi salah satu prioritas. Sebanyak 76% responden memiliki alokasi anggaran atau berencana untuk berinvestasi di proyek aplikasi mobile dan 24 bulan ke depan, sementara 58% berencana untuk menerapkan antara 1 hingga 5 aplikasi mobile dalam 24 bulan ke depan.

Responden dari survei dari Indonesia berinvestasi dengan hati-hati dan berfokus pada pengalaman pelanggan. Sebanyak 37% responden menganggap mobilitas sebagai bagian dari strategi bisnis mereka, namun berinvestasi dengan hati-hati karena keterbatasan sumber daya. Sementara itu, 27% telah memiliki anggaran terkait aplikasi mobile yang merupakan persentase tinggi di wilayah Asean. Selain itu, 26% berfokus pada peningkatan pengalaman pelanggan melalui inisiatif mobilitas mereka.

Memperoleh keahlian yang tepat dianggap sebagai sebuah tantangan di seluruh wilayah Asean. Hampir 50% responden meyakini bahwa perusahaan mereka memiliki keterampilan minimal atau standar untuk mendukung proyek-proyek mobile tentangan ini diakui oleh 60% responden dari Malaysia.

IDC info brief menyimpulkan bahwa di era yang berkembang semakin digital saat ini memiliki strategi mobilitas yang jelas merupakan hal yang penting bagi setiap perusahaan enterprise seiring perusahaan-perusahaan tersebut memperluas proyek-proyek mobile mereka.

Memiliki keterampilan khusus yang dibutuhkan di bidang mobile secara internal diperkirakan akan menjadi sebuah kebutuhan karena mengelola dan mendukung proyek-proyek mobil tersebut memerlukan sumber daya khusus. Berinvestasi dalam kompetisi ini dapat membantu mencapai penerapan mobil yang sukses.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT