Ilustrasi pelecehan seksual
Jakarta - Beban psikis yang ditanggung EG selama dua tahun belakangan ini terangkat sudah.

Petenis muda berusia 19 tahun ini beserta dua rekan lainnya yang diduga menjadi korban pencabulan terlapor pelatih DP mendapat advokasi dari Himpunan Advokat Muda Indonesia (HAMI).

Melalui advokasi ini, mereka berharap mendapatkan keadilan hukum atas kasus pencabulan yang dialami masing-masing.

"Harapan saya agar dia masuk penjara," ujar EG kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (26/1).

EG melaporkan ke pihak Polres Jakarta Barat setelah menjadi korban pelecehan seksual pelatih DP, yang dikenal telah mencetak banyak pemain nasional ini. Kejadian ini sendiri menimpanya dua tahun lalu di kediaman DP di kawasan Jakarta Barat.

Pelecehan yang dilakukan DP sekali itu kepadanya sangat membuat EG tertekan. Apalagi DP saat itu mengiming-iminginya dengan sponsor, meskipun nantinya dirinya tidak sukses menjadi petenis nasional.

Iming-iming lainnya, kata EG, yaitu jika dirinya mampu menembus peringkat 300-an junior dunia bisa dikirim ke Eropa, meskipun EG telah menembus peringkat 100-an.

Dengan janji-janji itu, ia tidak mampu berbuat apa-apa saat DP melakukan pelecehan.

"Selesai berhubungan seks, saya dikasih Rp1 juta dan diminta jangan bilang ke orang tua," ujarnya. "Saya tidak pernah melapor, karena ada tekanan psikis."

Karena itu, ketika rekannya, DL, yang juga menjadi korban DP berani melaporkan ke kepolisian, EG mengaku termotivasi untuk juga melapor.

"Saya tidak ingin pemain-pemain junior lainnya menjadi korban berikutnya. Karena setau saya, dari sekitar sepuluh teman yang ada di mess, delapan mengaku pernah dilecehkan," ungkap EG.

Lain EG, lain pula DL. Petenis berusia 17 tahun itu memberanikan diri melapor ke Polres Jakarta Barat, tanggal 27 Agustus 2012, sehari setelah kejadian pelecehan yang dilakukan DL menimpanya.

DL sendiri kabur dari rumah DP dan melaporkan kejadian ini kepada sang ayah. Setelah itu, DP dikabarkan mengontak orang tua DL untuk meminta maaf. "Saya dengar korbannya banyak," kata DL.

MA, adalah korban lainnya. Kejadian yang menimpanya 12 tahun lalu masih membekas di ingatannya.

"Kejadian waktu itu tahun 2000. Dulu saya sih udah pernah dengar kalau pelatih ada kelainan. Setiap ketemu pemain senior pasti ditanya udah diapain aja ama Om DP," kata MA yang kini berusia 24 tahun.

MA sendiri dan rekan-rekan lainnya memilih keluar setelah melaporkan DP ke polisi. Namun, yang ada mereka malah difitnah. "Dituduh maling," tambah MA.

Atas kasus ini, HAMI tengah melakukan langkah hukum demi membantu korban mendapatkan keadilan.

"HAMI meminta agar polisi memberikan ganjaran setimpal bagi DP. Kami berharap agar tidak ada lagi korban ke depannya," ujar Ketua Umum HAMI, Sunan Kalijaga.

DP sendiri, lanjut Sunan, akan dijerat dengan UU Perlindungan Anak jika terbukti melakukan pencabulan terhadap para petenis muda ini.

HAMI juga akan mengadakan audiensi dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga, serta Pengurus Pusat Persatuan Tenis Lapang Indonesia dalam waktu dekat ini.

"Semoga mereka dapat membantu merehabilitasi nama baik dan mental para pemain ini, karena mereka juga atlet nasional. Jangan sampai kejadian-kejadian serupa mencederai olahraga Indonesia ke depannya," papar Sunan.

Selain itu, HAMI juga berharap, pihak penyidik kepolisian bisa mengkonfrontir pihak pelapor dan terlapor, serta saksi ahli untuk melihat kemungkinan terjadinya kasus tersebut.

"HAMI akan mengawal penyidikan kasus ini. Sejauh ini, HAMI mengapresiasi apa yang telah dilakukan pihak kepolisian," tegas Sunan.

Laporan kasus yang sudah dilimpahkan ke pihak kepolisian ini membawa harapan bagi EG dan kawan-kawan. EG yang kini berlatih di sekolah tenis Sportama tengah mempersiapkan diri untuk turnamen yang digelar Tulungagung, Jawa Timur, bulan depan.

"Awalnya saya sempat down. Tapi menjadi pemain nasional adalah mimpi terbesar," ujar EG.
 

 

Penulis: