Seorang pemberontak Suriah memanggul roket peluncur granat di kota Minbej pada 10 Oktober 2012.

Beirut - Presiden Suriah Bashar al-Assad telah mengancam Israel dengan pertempuran yang baru di Dataran Tinggi Golan dan mengatakan bahwa Rusia telah berkomitmen untuk memasok negaranya dengan rudal-rudal canggih, demikian disampakan dalam sebuah wawancara pada Kamis (30/5).

Washington pun telah memperingatkan bahwa setiap pengiriman senjata sejenis dari Moskow hanya akan memperpanjang konflik antara pasukan pemerintah dan musuh-musuh Assad di Suriah, di mana para aktivis mengatakan lebih dari 94.000 orang telah tewas sejak Maret 2011.

“Ada tekanan yang jelas populer untuk membuka sebuah front yang baru dari perlawanan di Golan,” ujar Assad kepada televisi Al-Manar, yang dijalankan oleh sekutu terdekatnya, gerakan Syiah Hizbullah yang berbasis di Libanon yang telah berjuang bersama pasukannya.

“Ada beberapa faktor, termasuk berulangnya agresi Israel,” katanya, yang mengacu pada laporan serangan udara Israel pada Suriah.

“Kami telah memberitahukan pada semua pihak yang telah menghubungi kami bahwa kami akan menanggapi setiap agresi Israel di lain waktu," ujarnya.

Namun, belum ada komentar langsung atas pernyataan Assad dari Israel, yang telah menganeksasi Dataran TinggI Golan pada 1981, beberapa tahun setelah merebutnya, dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui oleh masyarakat internasional.

Assad, yang pasukannya akan berjuang bersama para pejuang Hizbullah untuk merebut kembali kota utama Qusayr di dekat perbatasan dengan Libanon, mengatakan bahwa dia “sangat yakin” untuk menang.

“Ada sebuah perang dunia yang dilancarkan terhadap Suriah dan kebijakan dari resistensi (anti- Israel).. (tapi) kami sangat yakin meraih kemenangan,” ujarnya.

Perdana Menteri (PM) Libanon Tamman Salam mengatakan negaranya harus berada di luar dari konflik Suriah, dalam sebuah wawancara yang diterbitkan dalam edisi Jumat di surat harian Perancis Le Figaro.

“Kita harus melestarikan persatuan nasional yang berharga,” tambahnya.

“Dan jelas sekali, keterlibatan militer Hizbullah tidak membantu hal-hal tersebut," bebernya.

Sebelumnya, televisi pemerintah Suriah mengatakan distrik Arjun di utara Qusayr telah diambil, menyisakan para pemberontak yang memiliki sedikit peluang untuk melarikan diri.

Sementara itu, para kepala pejabat koalisi oposisi Suriah mengatakan pada Jumat (31/5) bahwa mereka akan tetap berada di luar dari setiap pembicaraan perdamaian internasional asalkan para gerilyawan Hizbullah Libanon bertempur bersama pasukan Presiden Bashar al-Assad.

Namun, hal itu belum jelas jika pernyataan George Sabra merupakan kata terakhir organisasi yang terfragmentasi.

Rusia dan Amerika Serikat (AS) tengah mencoba untuk menarik para perwakilan Assad dan para penentangnya ke dalam pembicaraan yang direncanakan di Jenewa tentang pembentukan sebuah pemerintahan transisi dalam sebuah upaya untuk mengakhiri pertumpahan darah lebih dari dua tahun lamanya.

“Koalisi Suriah tidak akan berpartispasi dalam konferensi-konferensi internasional dan tidak akan mendukung setiap upaya yang sehubungan dengan Hizbullah dan invasi milisi Iran ke Suriah,” kata Sabra.

Tapi Koalisi Nasional Suriah telah terbelah oleh perbedaan pendapat selama pembicaraan yang berlangsung selama seminggu di Istanbul, dan beberapa rekan Sabra yang lebih berhati-hati.

Seorang juru bicara mengatakan koalisi belum membuat keputusan akhir apakah mereka akan pergi ke Jenewa. Pejabat lainnya mengatakan pandangan Sabra tersebut tidak lantas mewakili oposisi yang lebih luas.

Penulis: PYA

Sumber:Reuters/AFP/Investor Daily