Seorang tentara Free Syrian Army di perbatasan Bab al-Salam yang menuju Turki.
Meski menjanjikan tidak akan menggunakannya untuk warganya sendiri.

Rezim Suriah memberikan ancaman pada Senin (23/7) untuk menggunakan senjata kimia dan biologi, jika sewaktu-waktu mendapat serangan dari negara lain. Ancaman ini sekaligus mengungkapkan bahwa negara tersebut memiliki senjata penghancur massal.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jihad Makdissi meski demikian bersumpah bahwa Damaskus tidak akan menggunakan senjata di luar kebiasaan itu terhadap warga negaranya sendiri. Pengumuman ini muncul ketika Suriah menghadapi isolasi internasional, pemberontakan gigih yang telah mengorbankan 19 ribu orang mati dan ancaman oleh Israel yang akan menginvasi untuk mencegah senajata semacam itu jatuh ke tangan pemberontak.

Keputusan Suriah untuk mengungkapkan keberadaan senjata kimia yang telah lama dicurigai, menunjukkan keputusasaan teramat dalam dari pihak rezim yang terguncang oleh meningkatnya pemberontakan yang mencatat sejumlah kesuksesan dalam minggu-minggu terakhir, termasuk serangan bom yang menewaskan empat petugas keamanan tingkat tinggi, penangkapan beberapa pelintas perbatasan dan serangan terus-menerus pada kekuatan pihak rezim di Damaskus dan Aleppo.

“Tidak ada senjata kimia atau biologi yang akan digunakan, dan saya ulang, tidak akan pernah digunakan, selama krisis di Suriah tak peduli ada perkembangan apa pun di dalam Suriah. Semua jenis senjata ini ada di tempat penyimpanan dan berada di bawah pengamanan dan supervisi langsung dari kekuatan militer Suriah dan tidak akan pernah digunakan kecuali Suriah menghadapi agresi eksternal,” ujar Makdissi dalam konferensi pers yang disiarkan di TV pemerintah Suriah.

Sementara pernyatan Makdissi terlihat menjanjikan tidak akan menggunakan senjata terhadap warga Suriah, ia kemudian menyebutkan bahwa Suriah tidak menghadapi musuh internal di dalam tubuh pemberontak, yang oleh pihak rezim selama ini digambarkan telah didanai oleh luar negeri dan dikendalikan oleh ekstremis asing.

Suriah diyakini memiliki sejumlah senjata gas saraf, gas mustard, dan misil Scud mampu mengantarkan kimia berbahaya ini dan sejumlah varian senjata konvensional yang sudah dipercanggih, termasuk roket anti-tank dan misil anti-pesawat portable dari model terakhir.

Israel menyatakan kekhawatirannya bahwa kekacauan yang mengikuti kejatuhan Assad bisa membuat musuh negara Yahudi untuk mendapatkan akses ke senjata kimia Suriah, dan telah mengesampingkan intervensi militer untuk mencegah hal ini bisa terjadi.

Seorang petugas intelijen senior Amerika Serikat mengatakan pada Jumat (20/7) bahwa Suriah telah memindahkan materi senjata kimianya dari kawasan utara negaranya, tempat pertempuran berlangsung sengit, baik untuk mengamankannya maupun mengonsolidasinya yang menurut pihak pemerintah AS sebagai langkah bertanggungjawab.

Namun juga terdapat peningkatan aktivitas yang mengkhawatirkan dalam hal instalasi, sehingga pihak komunitas intelijen AS mengintensifkan usaha pemantauan untuk melacak senjata dan mencoba untuk mengetahui apakah pihak Suriah mencoba menggunakannya.


Penulis: