Apel sejumlah anggota Polri di Unit FPU IV di Darfur, Sudan, Senin 22 October 2012. (Jakarta Globe Photo/Farouk Arnaz)


Roda-roda pesawat Airbus 320 200 milik maskapai Qatar Airways mendarat mulus di Bandara Khortoum, Sudan, pukul 11.00 waktu setempat Minggu (21/10).

Penerbangan bernomor QR 522 ini sebelumnya take off dari Doha, Qatar yang berjarak sekitar 2248 kilometer atau bisa ditempuh selama 3 jam 40 menit penerbangan itu.


Sebelumnya, untuk sampai di Doha, rombongan dari Mabes Polri yang berjumlah 11 orang --termasuk wartawan Berita Satu di dalamnya-- yang dipimpin Kapuskeu Polri Brigjen Bambang Ghiri itu harus lebih dulu terbang selama 9 jam 15 menit menempuh jarak sekitar 6918 kilometer dari Jakarta.


Tak ada perbedaan waktu antara Doha dengan Khartoum, tetapi, waktu di kedua kota itu lebih lambat empat jam dari Jakarta. Perbedaan waktu itu membuat sebagian besar anggota rombongan menyetel waktu di arloji masing-masing.

Letak Khartoum yang berada di Benua Hitam, Afrika, menjadi “jaminan” panasnya temperatur di negara yang hingga kini masih merasakan embargo dari Amerika Serikat itu.

”Ini sih biasa, masih 35 derajat celcius. Tidak akan terlalu sulit dan akan nyaman bagi orang Asia untuk menyesuaikan diri. September kemarin sempat 40 derajat celcius kalau siang dan sekitar 15 derajat kalau malam saat bulan Januari,” begitu kata Muhammad Jamal, seorang warga asli Sudan saat ditemui di bandara yang bercerita tentang kondisi negaranya.


Jamal sebagaimana warga Sudan lainnya berbahasa Arab dalam keseharian. Meski dia sudah menyatakan “nyaman” tapi tetap saja rasanya matahari siang itu berada terlalu dekat di atas bumi.

Panasnya bahkan mengalahkan hembusan angin air conditioner (AC) dari mobil Landcruiser milik Kedutaan Indonesia yang datang menjemput. Keringat memang tak sempat keluar karena telah cepat mengering.


Kondisi alam yang ekstrim ini pula yang membuat dataran Sudan—seperti Afrika umumnya—hanyalah gurun pasir tanpa pepohonan.


Tak ada angin yang berembus siang itu, dan kalaupun ada, angin di sana tak lupa menerbangkan debu pasir yang bekasnya terlihat jelas di seluruh bagian seisi kota yang akhirnya ikut berwarna pasir itu. Pasir ada dimana-mana, mulai dari badan mobil, pucuk pohon, genteng rumah, hingga topi polisi setempat yang harusnya berwarna biru.


Brigadir Fahrurazi, anggota Divisi Hubungan Internasional Polri, yang merupakan putra asli kelahiran Bima, Nusa Tenggara Timur, dan lama tinggal di Kupang yang juga dikenal panas itupun, mengakui “kualitas” panas di Khartoum. ”Ini sih mesti baru jam 11 siang, tapi bisa matang rasanya,” komentarnya, lalu cepat mengenakan kacamata hitam untuk menyejukkan pandangan mata.


Meski begitu, Sudan tetap bersyukur tak pernah kekeringan karena dilintasi dua Sungai Nil yang merupakan sungai terpanjang di dunia. Di Khartoum lah, dua sungai yang kemudian membentuk Sungai Nil, yakni Sungai Nil Biru dan Sungai Nil Putih, bertemu sebelum sungai yang tampak jelas dari atas pesawat itu melintas ke arah Mesir dan “tamat” masuk ke Laut Mediterania.


Namun dinginnya air sungai tak mampu mendinginkan panasnya konflik di Sudan. Termasuk konflik di Darfur, yang menyebabkan lebih dari 200.000 nyawa terbunuh dan 2.5 juta prang menjadi pengungsi.


Ini adalah konflik lama yang terjadi antar sesama umat Islam namun berlainan etnik antara suku Afrika dengan penduduk keturunan Arab. Buntutnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk misi khusus untuk menghentikan kekerasan ini yang dinamai UNAMID yang dimulai pada tahun 2008. Polri berpartisipasi dengan mengirimkan Formed Police Unit (FPU) dalam misi PBB ini.


”Kedatangan kita kemari untuk memonitor FPU IV yang akan segera habis masa dinasnya di Elfasher, Darfur, sekaligus menyiapkan kedatangan FPU V.  Kita juga terus berupaya untuk meningkatkan pemberian reimbursement yang lebih layak kepada anggota kita dengan menggunakan standar internasional karena misi mereka adalah misi internasional,” kata Brigjen Bambang.


Senin (22/10) pagi, rombongan akan terbang menuju ke Darfur menumpang pesawat UNAMID yang disewa PBB. Rombongan juga akan menghadiri upacara Medal Parade yakni semacam penghargaan kepada tim Polri yang telah berdinas selama satu tahun dan hendak kembali pulang ke tanah air.


Sayang Kasatgas FPU IV AKBP Sugeng Muntaha tak bisa mengikuti upacara ini. Pasalnya perwira menengah Polri ini telah lebih dulu kembali ke Indonesia dan kini dirawat di Singapura karena sakit.

Penulis: