Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu
Serangan itu bisa menaikkan pamor dan kedudukan politiknya di hadapan calon pemilihnya nanti.

Sudah bukan rahasia lagi, setiap akan dilaksanakan pemilihan umum di Israel, para penguasa yang sedang duduk dalam singgasana melakukan hal ini: menyerang wilayah kedaulatan Palestina di Jalur Gaza. Pemilu Israel berikutnya akan dilaksanakan pada Januari 2013 nanti.

Perdana Menteri Israel sekarang, Benjamin Netanyahu, memerintahkan serangan besarp-besaran ke Gaza pada Rabu lalu, dengan alasan mengejar pimpinan militer dan memereteli persenjataan roket Hamas. adalah yang kali pertama dia laukan pada masa pemerintahannya.

Serangan itu bisa menaikkan pamor dan kedudukan politiknya di hadapan calon pemilihnya nanti; tapi mungkin juga bisa berbalik menjadi bola panas baginya.

Netanyahu, yang pertama menjadi perdana menteri pada 1996-1999, lalu menang lagi pada 2009, selalu berhati-hati menjaga imagenya sebagai pemimpin yang keras dan berani.

Hal itu juga dia coba tunjukkan dalam tuduhannya ke Iran soal pembangunan senjata nuklir negara persia itu, yang langsung dibantah yang bersangkutan.

Ditempa dalam pendidikan di Amerika Serikat, Netanyahu yang saat di militer pernah bergabung dengan unit operasi khusus Sayeret Matkal, pasukan komando terhandal di Israel, adalah seorang penyendiri dan hanya punya sedikit kawan dalam khazanah politik negeri Yahudi itu.

Menteri Pertahanan yang dipilihnya, Ehud Barak, pernah tergabung bersama dalam pasukan yang sama.

Serangan ke Gaza dimulai pada Rabu lalu ketika amgkatan udara Israel membunuh salah satu pimpinan pucak Hamas, Ahmed Jaabari, dan diteruskan hingga Hari ini, dalam skala besar yang disebut Netanyahu sebagai,"pesan jelas pada Hamas dan semua organisasi teroris."

"Jaabari adalah Osama Bin Laden-nya Netanyahu," tulis Amir Oren di sebuah koran kiri Israel, Haaretz.

Netanyahu sempat berpidato pongah di depan parlemen Isreal pa bulan lalu, dan menyebut dalam masa pemerintahannya tak pernah ada perang yang tak dimenangkannya.

Rekornya itu ditujukan pada pendahulunya, PM Ehud Olmert, yang pada 2006 mencanangkan perang 34 hari melawan milisi Hezbollah yang menyebabkan tewasnya 1.200 pejuang Lebanon dan 160 orang Israel.

Pada akhir Desember 2008, hanya 6 minggu sebelum Pemilu, Olmert mencanangkan 22 hari operasi militer ke Gaza, menyebabkan 1.400 pejuang Palestina gugur dan 13 Israel tewas.

Olmert, yang mengundurkan diri karena skandal korupsi yang sebagian besarnya tidak terbukri di pengadilan, hendak balik lagi ke politik, dan bisa jadi akan menjadi lawan yang berat bagi Netanyahu.

Namun dengan gerakan Netanyahu menyerang Gaza, Olmert menyatakan akan membatalkan keputusannya untuk maju lagi dalam Pemilu.

Bagi analis Gaza, Mukhaimer Abu Saada, operasi Gaza terkini adalah rangkulan kessuksesan Netanyahu dalam Pemilu Januari nanti.

"Netanyahu dasarnya ingin menang lagi dalam Pemilu nanti, dan kini dia punya tiket emas di tangannya," katanya.

Sebuah survei oleh firma riset Smith untuk harian Jerusalem Post, mengindikasikan jika Pemilu dilaksanakan kini, Netanyahu dengan Partai Likud dan Lieberman dari Partai Yisrael Beitenu akan memenangkan 37 kursi dari total 120 kursi parlemen; dibandingkan 42 kursi yang dipegang kini.

Semua serangan militer ke daerah Palestina di Jalur Gaza, sekali lagi, hanyalah alat untuk menaikkan pamor menjelang Pemilu di Israel. Semua nyawa yang tewas disana hanyalah untuk kursi di parlemen.

Penulis:

Sumber:AFP