Kesaksian Mahasiswa Singapura Tentang Kecanggihan Perlindungan Warga di Israel

Kesaksian Mahasiswa Singapura Tentang Kecanggihan Perlindungan Warga di Israel
Polisi Israel melakukan penyelidikan ledakan bom yang terjadi di dalam bus yang lokasinya berdekatan dengan Kantor Kementerian Pertahanan Israel di Tel Aviv. FOTO: EPA/ABIR SULTAN
Kamis, 22 November 2012 | 10:19 WIB
Dengan roket antirudal milik Israel melindungi warganya dari serangan rudal pihak lain.

Sirene terdengar kencang di Tel Aviv, Israel dan semua orang segera meninggalkan apartemen atau tempat tinggal mereka dan langsung menuju ruangan anti serangan bom di ruang bawah tanah. Warga berjalan dengan tertib, seperti layaknya latihan kebakaran. Tidak ada rasa kepanikan dari mereka akan datangnya serangan Hamas.

Sirene adalah peringatan yang sangat penting bagi masyarakat Israel akan datangnya sesuatu yang akan menimpa warga, termasuk serangan rudal. Sirene tersebut berada di hampir setiap sudut apartemen di kawasan Tel Aviv dan serempak menyalak jika ada peringatan.

Cerita tersebut keluar dari salah seorang mahasiswa dari NUS yang sedang melakukan studi banding bersama rekan-rekannya di Tel Aviv, selama enam bulan. Mereka menjadi saksi mata bagaimana konflik Palestina dan Israel di jalur Gaza telah memakan banyak korban. Namun mereka juga menjadi saksi, betapa canggihnya peringatan akan bahaya serta alat-alat penangkis serangan rudal.

"Saat itu saya sedang membersihkan kamar dan sirene terdengar keras setelah itu terdengar bunyi ledakan satu menit kemudian," ujar Ryan (bukan nama sebenarnya).

"Orang-orang segera keluar dari apartemen mereka dan mereka saling mengingatkan satu sama lain, melihat apakah masih ada orang di dalam kamar. Mereka mengetuk pintu dan meminta bersama-sama ke tempat perlindungan di lantai bawah," kisah Ryan, mahasiswa NUS.

Ryan menolak media yang mewawancarainya menuliskan identitas lengkapnya karena memang dirinya tidak meminta izin untuk berbicara tentang kondisi kota Tel Aviv untuk diceritakan kepada pihak luar.

Ryan adalah satu di antara tujuh mahasiswa dari National University of Singapore (NUS) yang ikut dalam program Inter Disciplinary Cenre (IDC) di Herzliya. Program tersebut di bawah pengawasan dari NUS Overseas Colleges Programme. Rombongan tiba di Tel Aviv dan dijadwalkan meninggalkan Israel kembali ke Singapura bulan depan.

Ryan menambahkan, meski mentor dari IDC mengajak rombongan mahasiswa NUS ke tempat perlindungan bom dan menunggu selama 10 menit hingga suara sirene mati, tidak ada rasa khawatir bom akan menembus ruang bawah. Para warga sepertinya cukup tenang dengan apa yang terjadi.

Namun setelah tanggal 14 November baru sejumlah warga mulai panik karena Israel melancarkan serangan udara yang menewaskan seorang pemimpin Hamas. Hari itu merupakan hari pertama operasi militer Israel di Gaza. Hamas kemudian membalas dengan menembakkan roket dan rudal ke Israel, beberapa menargetkan sejumlah gedung di Tel Aviv.

Saat kejadian, ia mengambarkan sejumlah warga mengantri untuk masuk ke ruang anti bom.

"Kami dan banyak warga Israel setempat mengantri di tangga, antara lantai kedua dan ketiga. Kami menunggu cukup lama juga," ujarnya.

Sebagai orang yang tinggal bukan di negara konflik, Ryan dan rekan-rekannya tampak panik. Namun mereka akhirnya tenang melihat para warga Israel tampak tenang, tidak terlalu panik dan seperti sudah mempersiapkan diri untuk mengatasi situasi seperti itu.

Salah satu warga tampak membawa radio dan mendengarkan berita yang disiarkan stasiun radio setempat tentang perkembangan situasi jalur Gaza. Sebagian warga lainnya sudah mempersiapkan kotak P3K.

Para warga hanya sekitar 10 menit berada di tempat perlindungan. Setelah itu mereka pun keluar dan menuju tempat tinggal masing-masing.

"Kami segera memeriksa internet untuk mengetahui apa yang terjadi. Berita yang muncul sebuah roket yang diarahkan ke Tel Aviv dihadang oleh roket canggih yang dimiliki Israel," ujar Ryan.

Reuters melaporkan, serangan tersebut merupakan roket ketiga di Tel Aviv sejak pecah konflik lagi di jalur Gaza pekan lalu.

Roket antirudal canggih milik Israel
Roket yang mengarah ke Tel Aviv sudah terdeteksi terlebih dahulu oleh radar canggih dan sistem peringatan pertahanan yang dimiliki departemen pertahanan Israel. Menurut Ryan, pasukan Israel memiliki peralatan antirudal terbaru yang dapat mencegat rudal lain agar tidak menimbulkan korban atau kerusakan.

Pejuang sayap Hamas telah mengaku bertanggung jawab terhadap serangan tersebut dan menyebutkan jika rudal tersebut dirancang Iran dengan nama Fajr-5.

Saat itu Ryan tidak menyadari jika ada rudal  yang mengarah ke tempatnya tinggal bersama rombongan.

"Saya melihat orang-orang di luar berperilaku normal. Sampai akhirnya saya bertemu teman-teman yang menginformasikan bahwa sirene sempat berbunyi,"  ujarnya.

Diminta pulang
Para mahasiswa NUS telah diminta untuk segera pulang ke Singapura oleh pemerintah agar tidak membuat keluarga khawatir.

"Banyak teman-teman yang mengirim ke facebook, e-mail, dan whatsapp untuk menanyakan kabar saya. Saya bilang kepada mereka, di sini saya aman," ujarnya.

Sampai saat ini, para mahasiswa tersebut masih menjalani aktivitas sehari-hari yakni menghadiri kelas IDC yang terletak kurang lebih 20 menit perjalanan menggunakan bus dari tempat mereka tinggal.

Juru bicara NUS mengungkapkan, kondisi warga para pelajarnya saat ini yang berada di Israel dalam keadaan aman. Pihak universitas juga sudah memberikan SOP kepada para mahasiswanya tetang penanganan di Tel Aviv dan meminta mereka untuk sesegera mungkin kembali ke Singapura.

"Kami akan terus memantau situasi di lokasi dan tetap berkomunikasi dengan para mahasiswa kami," ujar juru  bicara tersebut.

"Kami sebenarnya tidak ingin pulang terlalu cepat dari jadwal. Tapi kami akan menghormati keputusan pihak universitas," tutur Ryan.
Sumber: the new paper