Presiden Mesir, Mohamed Moursi.
Presiden Moursi ke Indonesia dengan membawa pengusaha Mesir untuk menjalin kerja sama dengan mitra di Indonesia.

Presiden Mesir Mohamed Moursi merencanakan membawa pengusaha ke Indonesia dalam upaya meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi kedua negara.

"Rencananya tahun depan (2013) Presiden Moursi ke Indonesia dengan membawa sejumlah pengusaha Mesir untuk menjalin kerja sama dengan mitra mereka di Indonesia," kata Ketua DPR-RI Marzuki Alie usai pertemuan dengan Kepala Negara Mesir di Istana Al Ittihadiyah itu, Senin petang waktu setempat.

Menurut Marzuki, tekad Presiden Moursi itu diungkapkan setelah melihat data kerja sama ekonomi dan perdagangan RI-Mesir masih sangat kecil, yaitu hanya sekitar dua miliar dolar AS per tahun.

"Padahal potensi kedua negara dalam kerja sama ekonomi sangat besar dan seharusnya lebih dari itu bila dioptimalkan," kata Marzuki.

Ditanya sekitar bulan berapa tahun 2013 Presiden Moursi akan ke Indonesia, Marzuki secara diplomatis mengatakan, waktu dan agenda kunjungannya belum ditentukan dan akan dibicarakan lebih lanjut oleh kedua pihak.

Marzuki dalam pertemuan itu didampingi Duta Besar RI untuk Mesir, Nurfaizy Suwandi dan enam anggota DPR, sementara Moursi didampingi Ketua Majelis Syura (MPR) Mesir, Ahmad Fahmi.

Anggota DPR-RI yang mendampingi Marzuki itu adalah Hayono Isman (Demokrat), Surahman Hidayat (PKS), dan empat anggota Grup Kerja Sama Bilateral (GKSB) RI-Palestina, yaitu Al Muzammil Yusuf (ketua), Raihan Iskandar, Sukiman, dan Muradi Darmansyah.

Marzuki dalam kapasitas sebagai Ketua DPR-RI merangkap Presiden Persatuan Parlemen Organisasi Kerja Sama Islam (PUIC) berkunjung ke Mesir dan Jalur Gaza, Palestina untuk menyampaikan solidaritas terkait serangan militer Israel ke Gaza baru-baru ini.

Selain bertemu Presiden Moursi, Marzuki dan anggota delegasi juga secara terpisah bertemu dengan Ketua MPR Ahmad Fahmi di gedung parlemen dan Perdana Menteri Hisham Qandil.

Di sisi lain, delegasi DPR-RI terjebak macet saat hendak menuju Gedung MPR sehingga memaksa anggota delegasi untuk berjalan kaki cukup jauh.

Begitu juga saat hendak pulang dari Gedung MPR, anggota delegasi terpaksa berjalan kaki hingga ke hotel tempat menginap yang berjarak sekitar tiga km.

Kemacetan itu terjadi akibat ditutupnya Bundaran Tahrir, pusat kota Kairo oleh oposisi yang telah mamasuki hari kesepuluh.

Untuk mencapai Gendung MPR yang berdekatan dengan Bundaran Tahrir, bus delegasi harus berputar dan masuk dari pintu belakang.

Penulis: /FER