Pukulan Terakhir Trump dan Biden
INDEX

BISNIS-27 491.129 (11.99)   |   COMPOSITE 5612.42 (112.33)   |   DBX 1062.36 (4.11)   |   I-GRADE 161.886 (4.37)   |   IDX30 478.794 (12.21)   |   IDX80 126.714 (3.02)   |   IDXBUMN20 355.426 (9.57)   |   IDXG30 131.028 (2.32)   |   IDXHIDIV20 432.126 (9.85)   |   IDXQ30 139.823 (3.69)   |   IDXSMC-COM 243.691 (3.69)   |   IDXSMC-LIQ 294.252 (6.8)   |   IDXV30 122.487 (4.61)   |   INFOBANK15 946.8 (29.41)   |   Investor33 412.464 (10.19)   |   ISSI 165.112 (2.43)   |   JII 597.802 (9.53)   |   JII70 206.187 (3.44)   |   KOMPAS100 1134.88 (27.52)   |   LQ45 883.061 (21.77)   |   MBX 1552.46 (34.83)   |   MNC36 308.511 (7.09)   |   PEFINDO25 308.232 (9)   |   SMInfra18 281.756 (5.87)   |   SRI-KEHATI 352.482 (8.96)   |  

Jelang Debat Pamungkas Pilpres AS

Pukulan Terakhir Trump dan Biden

Jumat, 23 Oktober 2020 | 00:04 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / ALD

Setelah debat pertama yang kacau, Donald Trump dan Joe Biden akan kembali bertemu di atas panggung hari ini waktu Indonesia, ketika antusiasme para pemilih terus meningkat pesat. Ketika tulisan ini dibuat, sudah ada 42 juta suara masuk lewat mekanisme pemberian suara dini, baik via pos maupun pemilih datang langsung ke tempat pemungutan suara (TPS). Angka itu sudah melebihi seperempat dari suara total pada pemilihan presiden 2016 lalu, padahal pemungutan suara resmi masih 12 hari lagi.

Ada sejumlah peristiwa dramatis yang membuat debat ketiga ini sangat ditunggu rakyat Amerika dan warga dunia. Pada 2 Oktober, Trump mengumumkan ia dan istrinya positif terinfeksi virus corona. Beritanya tersebar di seluruh penjuru dunia. Karena status Trump sebagai pengidap penyakit menular, Komisi Debat memutuskan debat kedua Trump-Biden pada 15 Oktober dilakukan secara konferensi video. Hal itu memicu drama berikutnya. Debat ke-2 batal karena Trump menolak mentah-mentah metode tersebut.

Kedua kandidat akhirnya mengikuti wawancara televisi terpisah pada hari debat di jam tayang yang sama. Trump bersama NBC, Biden bersama ABC. Ketika itu, Trump seperti diberi pelajaran oleh pembawa acara NBC, Savannah Guthrie, bagaimana rasanya diinterupsi terus menerus ketika sedang bicara.

Debat pertama yang kacau dan debat kedua yang dibatakan sepihak oleh Trump menggiring para pemilih ke puncak rasa penasaran. Itulah suasana yang menyelimuti debat terakhir hari ini.

Trump akan menggunakan kesempatan ini untuk membalikkan keadaan karena semua hasil survei kredibel mengunggulkan kandidat Partai Demokrat Joe Biden. Biden akan berusaha melancarkan pukulan terakhir “mematikan” agar tidak terulang lagi mimpi buruk 2016 ketika Hillary Clinton kalah meski nyaris semua lembaga survei mengunggulkannya.

Trump butuh momen khusus untuk menyampaikan argumen penutup kenapa dia layak menjabat lagi. Keunggulan Biden antara 11-17 percentage points. Defisit sebesar itu pernah dialami petahana George HW Bush yang kemudian kalah dari Bill Clinton pada 1992.

Keunggulan Biden mencakup swing states (di mana jumlah pendukung Demokrat dan Republik imbang dan sulit diprediksi), sehingga Demokrat berpeluang merebut kembali kursi mayoritas di Senat dan meningkatkan keunggulan di DPR. Ratusan pemilih Republik, termasuk beberapa mantan senator atau mantan gubernur, sudah terang-terangan mengatakan akan memilih Biden. Tekanan ada pada Trump untuk mencegah sapu bersih Demokrat di jagat politik Amerika.

Terpojok
Menurut berbagai survei, Trump sudah kehilangan dua kelompok demografis pemilih yang penting. Pertama, kelompok pemilih manula yang membantunya mengalahkan Hillary Clinton di sejumlah swing states seperti Florida. Di tengah pandemi yang sebagian besar korban jiwa adalah kaum lanjut usia, dukungan kelompok ini anjlok.

Kedua, kelompok pemilih perempuan di pinggiran perkotaan, atau disebut suburban women. Mereka rupanya tersinggung dengan hinaan-hinaan vulgar yang kerap muncul dari mulut Trump dan sikapnya yang “sok macho” terkait pandemi Covid-19. Trump menyadari ini, dan pada kampanye pekan lalu dia sempat berujar, “Wahai kaum perempuan di pinggiran, tolong sukailah saya.” Di sisi lain, kubu Demokrat mampu meningkatkan keyakinan kelompok demografis yang dari dulu mendukung mereka. Misalnya, saat ini hanya satu dari 10 pemilih kulit hitam yang mengatakan akan memilih Trump.

Baca juga: Jelang Debat Capres AS Ketiga, Trump Keberatan Sistem Mikrofon Senyap

Dalam debat nanti, Trump kelihatannya akan menggunakan segala cara untuk menjatuhkan nama Biden, termasuk serangan pribadi terkait putranya, Hunter Biden, yang diisukan telah memanfaatkan jabatan ayahnya sebagai wakil presiden dulu untuk meraih kesepakatan bisnis di Ukraina dan Tiongkok. Trump juga akan berusaha meyakinkan bahwa dia adalah patriot sejati, pembela konstitusi dan ekonomi AS, serta tameng dari komunisme-sosialisme.

Trump, 74, juga akan berusaha memberi citra “sleepy Joe” Biden yang tiga tahun lebih tua sebagai orang pikun dan boneka kaum kiri radikal. Dia pernah mengunggah foto rekayasa Biden di kursi roda di panti jompo dengan tulisan: “Sederhana saja, pilihannya adalah antara mimpi buruk sosialisme dan mimpi Amerika.”

Tanpa Interupsi
Komisi Debat mengambil kebijakan baru untuk memastikan kekacauan di debat pertama 29 September tidak terulang. Saat itu, interupsi terus-menerus dari Trump membuat para penonton tidak bisa menangkap substansi dan para pemilik suara tidak bisa mendapatkan petunjuk untuk memutuskan pilihan mereka.

Menurut sebuah studi, dalam 90 menit Trump melakukan 128 interupsi pada Biden dan moderator Chris Wallace. Para pengamat politik dan jurnalis veteran kompak menyimpulkannya sebagai “debat paling buruk dalam sejarah pilpres AS”.

Dalam debat hari ini di Belmont University, Nashville, Tennessee, panitia akan mematikan mikrofon kandidat yang tidak mendapat giliran bicara. Kebijakan mematikan mikrofon hanya pada saat dua menit presentasi salah satu kandidat, dan dihidupkan lagi di sesi terbuka.

Baca juga: Duel Town Hall: Dua Kandidat Beri Respons Menarik soal Covid-19

Debat dibagi dalam enam segmen, topiknya secara berurutan adalah penanggulangan Covid-19, keluarga Amerika, ras di Amerika, perubahan iklim, keamanan nasional dan kepemimpinan.

Sehari menjelang debat, Trump berlatih menajamkan serangan saat berkampanye secara terbuka di Gastonia, North Carolina, negara bagian yang dimenanginya empat tahun lalu.

Partai Demokrat menyimpan Biden sepanjang pekan ini. Namun, mereka mengirim mantan presiden Barack Obama untuk berpidato di Philadelphia, Pennsylvania. Selain itu, kandidat wakil presiden Kamala Harris dikirim ke North Carolina, seperti langsung menantang Trump.

“Presiden ini ingin dipuji atas keberhasilan ekonomi yang sebetulnya dia warisi, dan tidak mau disalahkan atas pandemi yang terus dia abaikan,” kata Obama tentang Trump seperti ditayangkan CNN.

Baca juga: Mayoritas Warga AS Makin Tidak Percaya Penanganan Covid-19 oleh Trump

Meskipun hasil survei mengunggulkan Biden, tetapi di sejumlah negara bagian penting kategori swing states keunggulannya tipis saja dan kalau Trump mampu mengejar maka hasilnya bisa berubah.

Obama tidak mungkin lupa bahwa empat tahun lalu di negara bagian yang sama dia berpidato untuk Clinton dan kalah di sana. Pennsylvania memiliki 20 suara elektoral, target penting semua kandidat. Untuk terpilih presiden, seorang kandidat harus minimal mendapatkan 270 suara elektoral.

"Saya tidak peduli dengan jajak pendapat. Sudah banyak dilakukan pada pemilihan yang dulu dan tidak berdampak, karena banyak orang tetap di rumah, malas (ke TPS) dan tidak peduli. Itu tidak boleh terjadi lagi, tidak dalam pemilihan ini, tidak sekarang ini," kata Obama.

Di pihaknya, Trump juga mengenang situasi 2016 untuk menyerang balik. “Tidak ada orang yang berkampanye untuk Hillary Clinton lebih gigih daripada Obama, benar?” kata Trump pada pendukungnya.

“Dan menurut saya satu-satunya orang yang lebih sedih dari Hillary pada malam (pengumuman hasil piplres) itu adalah Barack Hussein Obama,” imbuhnya.

Dalam sejarah modern Amerika, tampaknya ini akan menjadi pilpres yang paling dramatis, bukan karena ketatnya hasil, tetapi karena begitu banyak drama yang mewarnainya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Fakta Seputar Debat Final Presiden AS

Debat final presiden Amerika Serikat (AS) akan digelar Kamis (22/10/2020) di Universitas Belmont di Nashville, Tennessee.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Menlu AS Mike Pompeo Akan Hadiri Forum Pemuda Ansor

Pompeo dijadwalkan akan melakukan sejumlah acara termasuk menghadiri forum Gerakan Pemuda Ansor mengenai dialog agama dan peradaban.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Menkes Jerman Positif Covid-19

Namun, hingga saat ini tidak ada anggota kabinet Kanselir Angela Merkel lainnya yang akan diisolasi untuk menghindari penyebaran virus.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Infeksi Covid-19 India Mencapai 7,7 Juta Kasus

Pandemi Covid-19 terus menyebar di India dengan total mencapai 7.708.947 kasus per Kamis (22/10/2020) sore.

DUNIA | 22 Oktober 2020

PM Thailand Cabut Status Keadaan Darurat di Bangkok

Jenderal Prayut mengatakan, situasi kekerasan telah berakhir dan pejabat pemerintah dapat menegakkan hukum yang relevan untuk menyelesaikan masalah.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Rakyat Thailand Tak Lagi Takut Memprotes Raja

Salah satu alasan besarnya, rakyat Thailand tidak menyukai raja saat ini. Raja kali ini, beda dengan ayahnya, Bhumibol Adulyadej.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Tunangan Khashoggi Gugat Putra Mahkota Saudi

Tunangan dari jurnalis yang menjadi korban pembunuhan, Jamal Khashoggi, menggugat putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) di pengadilan federal AS

DUNIA | 22 Oktober 2020

Vaksin Covid-19 Sinovac Akan Masuk Program Imunisasi Brasil

Brasil berencana menggunakan vaksin virus corona atau Covid-19 buatan Tiongkok sebagai bagian dari program imunisasi nasional,.

DUNIA | 22 Oktober 2020

Survei: Pemilih AS Condong ke Joe Biden untuk Berbagai Isu

Calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden (77) mencatat keunggulan dalam hampir dalam semua isu dibandingkan Presiden Donald Trump

DUNIA | 22 Oktober 2020

AS dan Tiongkok Coba Libatkan Indonesia dalam Persaingan Global

AS dan Tiongkok menggunakan berbagai cara untuk melibatkan Indonesia dalam persaingan global mereka, baik secara langsung atau tidak langsung.

DUNIA | 22 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS