Percepat Deteksi Covid-19 Lewat Data dan Tes Masif
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Percepat Deteksi Covid-19 Lewat Data dan Tes Masif

Senin, 22 Juni 2020 | 00:36 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / ALD

Jakarta, Beritasatu.com - Warga yang positif terinfeksi coronavirus disease 2019 (Covid-19) di Indonesia masih jauh dari jumlah 100.000, apalagi satu juta. Jumlah yang meninggal karena virus ini pun belum sampai 3.000 orang. Paling tidak, inilah kondisi hingga Minggu (21/6/2020), setelah tiga setengah bulan rakyat Indonesia hidup dengan menjaga jarak dan menjalankan protokol kesehatan untuk menghentikan penyebaran pandemi Covid-19.

Berbagai prediksi tentang puncak Covid-19 di Indonesia tinggal prediksi. Faktanya, puncak Covid-19 yang pernah diramalkan terjadi April dan Mei 2020, tidak terbukti. Hingga pekan ketiga Juni pun, angka positif masih terus meningkat. Kurva positif harian belum melandai, apalagi menurun.

Kapan puncak pandemi Covid-19? “Ini semua bergantung pada perilaku masyarakat. Kalau masyarakat disiplin menjalankan protokol kesehatan, puncak Covid-19 akan segera dicapai,” kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letjen Doni Monardo, Rabu (16/6/2020) lalu.

Perilaku masyarakat adalah penentu utama terhentinya penularan Covid-19. Bila masyarakat disiplin menjaga jarak, menghindari kerumunan, tidak menyentuh wajah sebelum mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, dan selalu menggunakan masker saat bertemu orang, rantai penyebaran virus akan terputus. Tapi, bila yang terjadi sebaliknya, rantai penyebaran akan sulit dihentikan.

Meski masih banyak warga yang tidak disiplin, terutama di pasar dan di transportasi umum, secara umum, perkembangan penyebaran Covid-19 di Indonesia tidak sedahsyat yang pernah dikhawatirkan pada Maret 2020. Saat World Health Organization (WHO) menyatakan Covid-19 sebagai pandemi, 11 Maret 2020, kenaikan jumlah positif baru benar-benar eksponensial dan itu terjadi di seluruh dunia.

Namun, dengan kewajiban untuk work from home, learn from home, pray from home, dan penerapan protokol kesehatan ketat, pergerakan warga menjadi minimal. Lebih dari itu ada dua faktor lain yang ikut menentukan.

Pertama, wilayah Indonesia luas dan tidak homogen. Penduduk tersebar di berbagai pulau. Ada lima kawasan besar yang berbeda karakteristik, yakni Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, serta gugusan kepulauan Maluku, Nusa Tenggara, dan Bali. Covid-19 menyebar cukup cepat di kota-kota besar di Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan. Tapi, di wilayah lain, penyebaran tidak masif.

Kedua, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengendalikan penularan virus ini membawa berdasarkan zonasi. Setiap gubernur dan bupati adalah kepala gugus tugas di wilayahnya. Dalam menjalankan tugas, para kepala daerah dibantu unsur Polri, TNI, dan para tokoh yang berada di wilayahnya. Organisasi RT dan RW sebagai unit organisasi terkecil dari negara, diperkuat.

Zonasi menciptakan kompetisi sehat. Setiap gubernur, bupati, dan wali kota berlomba menunjukkan kinerja terbaik lewat upaya serius menekan laju penyebaran Covid-19 dan membantu perawatan pasien. Para gubernur yang punya ambisi menjadi calon presiden 2024 habis-habisan bekerja kerja keras dan terlihat cukup sukses mengerem penyebaran Covid-19.

Jika pada Maret 2020, regeneration number (Ro) di atas lima, sejak Mei effective regeneration (Rt) di bawah dua. Ro di atas lima artinya pergerakan satu orang menularkan virus ke lebih dari lima orang. Sedang Rt di bawah dua artinya pergerakan satu orang menularkan ke satu orang lebih, tapi tidak sampai dua orang.

Cuma DKI yang mencapai Rt di bawah satu. Sesuai arahan WHO, wilayah dengan Rt di bawah satu, konsisten selama dua pekan, sudah boleh melakukan pelonggaran. Wilayah lainnya belum boleh.

Tidak salah jika Gubernur DKI sudah mulai melonggarkan pergerakan warganya. Sejak Senin (15/6/2020), DKI memperkenankan mal melayani pengunjung. Karyawan sudah boleh masuk kantor dan tempat rekreasi sudah dibuka untuk umum.

Dalam kurva, hanya DKI yang terlihat sudah menurun. Gelombang pertama terjadi Mei. Saat ini, Pemprov DKI berjuang keras untuk tetap konsisten menerapkan protokol kesehatan agar Rt tetap di bawah satu, sehingga tidak ada Covid-19 gelombang kedua.

Sedangkan secara nasional, Rt masih di atas satu. Belum ada gelombang pertama karena penyebaran Covid-19 belum mencapai puncak. Oleh karena itu, tes harus dilakukan secara masif untuk memastikan tingkat penyebaran virus.

Tidak Real Time
Angka positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 45.891 pada Minggu (21/6/2020), menempatkan Indonesia di peringkat 29 dunia. Pandemi yang menghebohkan ini sudah melanda 213 negara. Tiongkok yang menjadi episentrum pertama, kini hanya berada di peringkat 21 dengan warga terinfeksi 83.378 orang. Angka ini relatif stabil sejak awal April 2020. Sedangkan AS melesat ke peringkat teratas sebagai negara dengan kasus positif terbesar, yakni 2,3 juta.

Jumlah penduduk Indonesia yang positif Covid-19 bisa saja sudah menembus angka 100.000 karena banyak positif Covid-19 yang belum terdeteksi. Lagi pula, angka Covid-19 yang diumumkan setiap sore bukanlah angka real time.

Dari sejumlah sumber yang dekat dengan Kementerian Kesehatan (Kemkes), diketahui bahwa, angka positif, yang sembuh, dan meninggal akibat Covid-19, bukanlah angka real time. Angka yang diumumkan adalah akumulasi data beberapa hari.

Disebut real time jika data positif Covid dilaporkan langsung dari setiap laboratorium yang melakukan real time polymerase chain reaction (PCR) test. Begitu ada hasil positif, petugas laboratorium langsung memberikan laporan kepada Dinas Kesehatan di kabupaten, Dinas Kesehatan provinsi, pusat data di Kemkes, dan pusat data Gugus Tugas, yakni Bersatu Lawan Covid-19 (BLC).

Di Kemkes dan di Gugus Tugas ada dashboard yang melihat langsung perkembangan data real time. Bukan saja angka positif, tapi juga angka sembuh dan yang meninggal lengkap dengan rekam medis.

Data rekam medis warga yang positif dan yang masuk kategori orang tanpa gejala (OTG), orang dalam pemantauan (OPD), dan pasien dalam pemantauan (PDP) juga bisa diketahui secara real time. Ini semua bisa diwujudkan jika ada kemauan Kemkses yang memiliki otoritas.

“Secara teknis, tak ada masalah. Yang masalah adalah ego sektoral, bahkan lebih gawat lagi, ego subsektoral,” ungkap sumber Beritasatu.com. Jaringan internet dan tenaga teknis sudah cukup menunjang. Tapi, jika pemilik laboratorium dan pemilik database tidak bersedia berkoordinasi, data real time tetap masalah. Itulah yang dialami selama ini.

Setiap rumah sakit di Indonesia memiliki sistem informasi database sendiri dan sistem itu tak bisa disatukan. Karena masing-masing sistem database memiliki vendor sendiri.

Database setiap rumah sakit di Indonesia dikirim secara online. Tapi, database ini tidak terhubung dengan database Litbang Kemkes.

Data dari daerah masuk ke Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemkes. Namun, data ini “diputar-putar” di internal Kemkes, sehingga Indonesia tak punya satu data real time.

Yang terjadi, data dari daerah tidak sama dengan data pusat. Ego subsektoral ini sudah lama terjadi. Pandemi Covid-19 membuka kotak pandora manajemen Kemkes yang selama ini tertutup.

Saat pandemi Covid-19 merebak, media massa pun sulit mendapatkan data aktual jumlah rumah sakit dan tempat tidur rumah sakit, dokter umum, dokter spesialis, dan perawat. Jumlah pasien se-Indonesia yang meninggal di rumah sakit, apa pun penyakit, tidak bisa diperoleh real time.

Perbaikan dan penyatuan database yang bisa dipantau lewat dashboard Kemkes dan Gugus Tugas harus menjadi agenda utama. Wacana ini harus berjalan seiring dengan realisasi nomor induk kependudukan (NIK) se-Indonesia.

Saat ini terdapat 2.902 rumah sakit, milik pemerintah, swasta, dan BUMN. Dari jumlah ini sudah 1.675 rumah sakit yang memiliki data ODP dan PDP di samping yang positif Covid-19.

Rumah sakit yang sejumlah 1.675 itulah yang menjadi sumber data bagi database Bersatu Lawan Covid yang dikelola Gugus Tugas. Sesuai arahan WHO, 16 Maret 2020, rumah sakit sudah melaporkan juga ODP dan PDP yang meninggal. Data ini sudah digunakan untuk penetapan zonasi merah, kuning, dan merah.

Meski belum semua, data dari 1.675 rumah sakit ini sudah cukup mencerminkan kondisi Indonesia. Tapi, masih jauh dari ideal karena belum real time dan melibatkan semua rumah sakit.

Tes Masif
Untuk mengetahui jumlah warga positif di Indonesia, cara paling jitu adalah tes. Tapi, bukan tes sembarang tes. Tes yang presisi adalah swab test yang hasilnya diperiksa di laboratorium yang dilengkapi PCR.

“Tes itu seperti senter,” kata Wakil Presiden Direktur PT Siloam International Hospitals Tbk, Caroline Riady pertengahan Mei 2020. Ketika gelap menjadi terang, semua menjadi jelas.

Indonesia termasuk negara yang paling minim dalam melakukan tes presisi lewat PCR test. Kondisi ini disebabkan jumlah laboratorium dan RT-PCR yang masih terbatas. Hingga Minggu (21/6/2020) baru 191 laboratorium di seluruh Indonesia. Jumlah RT-PCR test lebih sedikit lagi, yakni baru 121.

Untuk membantu percepatan tes, selain menerapkan RT PCR, rumah sakit dan laboratorium juga menggunakan tes cepat molekuler (TCM). Saat ini terdapat 95 laboratorium TCM, 150 RT-PCR jejaring, dan 95 TCM jejaring.

Hingga Minggu (21/6/2020), sudah 18.229 spesimen per hari yang diperiksa. Secara kumulatif, jumlah spesimen yang sudah diperiksa baru 383.105 dengan jumlah angka positif 45.891 atau 12% dari spesimen yang diperiksa.

ODP yang dipantau 56.436, PDP yang diawasi 13.225, terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 45.891, pasien sembuh 18.404 atau 40% dari yang positif, dan yang meninggal 2.465 atau 5,4% dari yang tertular. Virus ini menyebar di 34 provinsi dan 439 kabupaten dan kota.

Indonesia termasuk negara dengan jumlah tes minimal. Hingga Minggu (21/6/2020), jumlah tes kumulatif baru 383.105 atau 712 per satu juta atau berada di urutan ke-75. Jika dihitung jumlah tes per 1.000 penduduk, Indonesia di urutan 83 dari 85 negara yang melaporkan jumlah tes. Posisi Indonesia hanya satu tingkat di atas Myanmar dan Nigeria.

Jika tes dilakukan lebih masif, paling tidak 50.000 per satu juta penduduk, jumlah warga yang positif akan terlacak lebih cepat. Tes masif perlu segera dilakukan pemerintah agar penyebaran Covid-19 bisa lebih cepat dideteksi dan diatasi.

Terdapat korelasi positif jumlah tes dengan jumlah kasus. Saat tulisan ini diturunkan, Minggu (21/6/2020), Bahrain tercatat sebagai negara dengan jumlah tes paling tinggi dibandingkan populasinya.

Gugus Tugas menargetkan 30.000 tes per hari dari posisi 20.000 per hari. Untuk memetakan keadaan lebih cepat, tes per hari perlu dinaikkan hingga 100.000 per hari.

Semakin banyak tes akan membantu pemetaan dan penanganan penyebaran Covid-19. Salah satu sukses Tiongkok mengendalikan virus ini adalah tes masif.

Saatnya, pemerintah memperbanyak swab test agar bisa dilakukan tes di setiap kabupaten dan kota se-Indonesia. Laboratorium yang memiliki fasilitas RT-PCR test juga perlu diperbanyak. Demikian pula dengan tenaga laboratorium. Ditopang data real time yang disampaikan kepada pusat data Kemkes dan Gugus Tugas, peta penyebaran Covid akan lebih jelas dan penanganannya akan lebih sistematis.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Gugus Tugas Covid-19: Masyarakat Belum Jaga Jarak di Car Free Day

Yurianto meminta bahwa pelaksanaan CFD di tengah pandemi Covid-19 agar menjadi evaluasi bersama.

KESEHATAN | 21 Juni 2020

Update Covid-19: Tambah 862, Kasus Positif di Indonesia 45.891

Jumlah kasus baru Covid-19 tertinggi ada di Jakarta sebanyak 142 dan sembuh 233 orang.

KESEHATAN | 21 Juni 2020

Begini Cara Mengetahui Gejala Palsu Covid-19

Gejala mirip Covid-19 yang berasal dari kecemasan seseorang bisa hilang dengan sendirinya jika orang tersebut menenangkan diri dan merelaksasi tubuh.

KESEHATAN | 21 Juni 2020

FKUI: Baca Berita Covid-19 dari Sumber Terpercaya supaya Tidak Psikosomatis

Dokter Rudi Putranto menyarankan batasi dan dapatkan info resmi dari sumber terpercaya agar membantu memahami permasalahan yang sebenarnya terjadi.

KESEHATAN | 21 Juni 2020

Lemahnya Pemantauan Isolasi Mandiri Jadi Sumber Penularan

Jumlah pasien isolasi mandiri di rumah dua kali lipat lebih banyak dari isolasi di rumah sakit.

KESEHATAN | 20 Juni 2020

3.035 Pasien Covid-19 di Wisma Atlet Sembuh

Sampai Sabtu (20/6/2020), sebanyak 3.035 pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, dinyatakan sembuh.

KESEHATAN | 20 Juni 2020

Sebelum Diumumkan, Data Covid-19 Diutak-atik Dulu di Balitbangkes dan PHEOC

Juga dilakukan verifikasi dan validasi data dari lapangan.

KESEHATAN | 20 Juni 2020

Ini Kata Dokter Reisa soal Rapid Test dan PCR

Reisa Broto Asmoro menyebut "rapid test" dan tes PCR adalah dua hal yang berbeda dan masyarakat perlu memahami.

KESEHATAN | 20 Juni 2020

Lima Bahan Alami Pengganti Gula

Ada lima bahan alami yang dapat digunakan sebagai pengganti gula.

KESEHATAN | 20 Juni 2020

Tambah 394, Jatim Kembali Tertinggi Penambahan Kasus Covid-19

Setelah sehari sebelumnya sempat digeser Sulsel, Jatim kembali menjadi provinsi dengan jumlah penambahan kasus positif terbanyak, Sabtu (20/6/2020), yakni 394.

KESEHATAN | 20 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS