538 Anak di Jateng Terpapar Covid-19
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

538 Anak di Jateng Terpapar Covid-19

Jumat, 18 September 2020 | 21:19 WIB
Oleh : Stefy Thenu / ALD

Semarang, Beritasatu.com - Sebanyak 538 anak di Jawa Tengah (Jateng) terpapar Covid-19. Berdasarkan data per 17 September 2020, anak-anak itu berusia 0 hingga 11 tahun. Mereka terdiri atas 222 anak perempuan dan 316 anak laki-laki.

"Data itu berdasar sistem pelaporan coronajateng.co.id pada hari Kamis, 17 September 2020 pada pukul 11.00," ungkap Ketua Tim Ahli Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jateng dr Anung Sugihantono, dalam acara Webinar "Peran Media dalam Mempromosikan Program Kesejahteraan dan Perlindungan Anak di Masa Pandemi: Anak-anak dalam Pusaran Kluster Keluarga Covid-19", Jumat (18/9/2020)

Anung menuturkan, jumlah di Jateng itu bagian dari sebanyak 15.000 anak usia hingga 14 tahun di Indonesia, yang terpapar Covid-19. Dari jumlah itu, 165 orang anak meninggal dunia.

"Data itu per 16 September 2020. Data selalu berubah setiap saat. Secara nasional jumlah penduduk yang terpapar Covid-19, ada 230.000 orang, sementara tim kesehatan sudah memeriksa 2,7 juta spesimen," kata Anung.

Angka kematian tertinggi untuk anak terjadi pada bayi, yakni usia hingga satu tahun.

Sementara Setya Dipayana, dokter spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan, anak memiliki kekebalan tubuh (imunitas) yang bagus. "Karena imunitasnya bagus, mereka kemungkinan justru menjadi asymptomatis, yakni telah terpapar Covid-19 namun tidak menimbulkan gejala apa-apa karena mereka kebal. Akan tetapi ketika mereka berdekatan dengan orang yang kekebalannnya menurun atau orang tua, maka mereka menjadi penular. Anak-anak bisa disebut super spreader (penyebar super)," kata Setya Dipayana.

Anak-anak menjadi carrier (pembawa). Dia bisa menyebarkan ke mana pun tanpa terdeteksi. "Namun keluarga sekarang sering bilang anaknya tidak usah dicek karena merasa kasihan. Padahal kita tahu, ia bisa menjadi penyebar. Oleh karena itu kita semua harus sadar dengan membuat adaptasi kepada kebiasaan baru bagaimana agar penularan itu tidak terjadi," paparnya.

Caranya seperti yang sudah dianjurkan pemerintah, membiasakan anak-anak mencuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak. "Harus memberikan edukasi yang jelas dengan bahasa yang mengena kepada anak-anak. Diberi pengertian jangan saling tukar masker karena gambar maskernya Doraemon atau gambar lainnya," tuturnya.

Dokter Anung maupun Setya juga berpendapat karena pandemi Covid-19 masih terus menyebar, maka sebaiknya pembalajaran secara tatap muka ditiadakan dulu.

Namun jika memang banyak masyarakat menghendaki, maka belajar tatap buka bisa dilangsungkan namun harus dengan protokol kesehatan yang sangat ketat.

"Di sekolah yang biasanya ruangannya ber-AC dan tertutup, harus dibuka agar udara bebas keluar. Jumlah siswanya pun harus dibatasi. Selain itu ruang guru dan kepala sekolah juga harus diperhatikan agar bebas dari penyebaran Covid," kata Anung.

Faktor Psikologis
Sementara itu psikolog Kuriake Kharismawan dari Univeristas Katolik Soegijapranata Semarang yang juga menjadi relawan penanganan Covid-19 di tempat karantina Rumah Dinas Walikota Semarang, menjelaskan, jumlah anak yang terpapar Covid terus meningkat. "Pagi tadi ada 16 anak. Rabu lalu bahkan ada yang melarikan diri. Untung segera kami temukan lagi. Yang pasti, sifat anak-anak itu adalah ingin bermain dan pergi ke man-mana. Itu adalah karakter khas anak di masa puber. Selain itu mereka selalu ingin tantangan," kata Kuriake.

Namun di masa pandemi ini, anak-anak itu terkungkung di dalam rumah. Mereka pasti jemu dan jenuh, akhirnya memberontak. Mereka menantang.

"Apa yang bisa ditantang? Ya melanggar aturan yang ditetapkan pemerintah itu soal protokol kesehatan. Oleh sebab itu agar tidak jenuh, maka di gadget pun mereka perlu dibuatkan tantangan. Beri mereka aneka lomba sehingga energi mereka tersalur secara positif. Jika dilarang terus, mereka pasti akan melanggar larangan itu dengan sembunyi-sembunyi," jelasnya.

Selain itu, Kuriake juga melihat stigma pasien Covid yang justru membuat mereka tersudut. "Kami ingin masyarakat tidak memberi stigma negatif. Jangan dijauhi. Bila mereka dinyatakan sembuh, berarti itu memang sembuh," ujarnya.

Arie Rukmantara, Kepala Kantor UNICEF Perwakilan Jawa-Bali menjelaskan, di Indonesia ada 80 juta anak, 10 juta di antaranya berada Jateng.

"Seluruh anak di Jateng harus menjadi teladan, termasuk juga keluarga mereka juga harus menjadi teladan dengan memastikan keluarga mereka tetap sehat selama pandemi Covid-19. Dan itu harus diwariskan," kata Arie.

Arie menegaskan, WHO dan UNICEF selalu berperang melawan pandemi. Saat ini melawan wabah Covid-19. "Dalam satu hingga dua tahun ini, kita harus membiasakan diri melakukan 3M. Mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Perilaku itu harus menjadi kebiasaan dan diwariskan," tuturnya.

Nanti, pada 20 tahun ke depan, semua akan sudah terbiasa mengenakan masker dan mencuci tangan. Dengan mencuci tangan bisa membunuh bakteri, mengenakan masker bisa mengurangi polutan.

"Menjaga jarak, antre dengan tertib; itu juga menjadi kebiasaan membuat perencanaan terlebih dahulu agar tidak terjadi kerumunan. Itu artinya pada tahun 2045 nanti kegiatan 3 M menjadi kunci sambutan dari 3T (testing - tes spesimen, tracing - penelusuran- , dan treatment - perawatan)," ujar Arie.



Sumber:BeritaSatu.com

TAG: 


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kemkes Pastikan Kesiapan Faskes di Delapan Provinsi

Kemkes memantau rasio hunian ruang isolasi dan ICU di rumah sakit di seluruh Indonesia.

KESEHATAN | 18 September 2020

Kemkes Jamin Ketersediaan Obat Covid-19

Kemkes telah menyiapkan buffer stock atau persediaan obat penanganan Covid-19 yang dapat dimobilisasi segera sesuai kebutuhan di delapan provinsi prioritas.

KESEHATAN | 19 September 2020

Menko Luhut: 3 Bulan ke Depan Waktu yang Kritis

"Kita akan upayakan betul-betul jangan sampai ada outbreak. Itu saja tugas kita sampai vaksin ini keluar,” terang Luhut Pandjaitan.

KESEHATAN | 19 September 2020

Tips Cegah Penyebaran Covid-19 di Keluarga

Untuk mengurangi risiko penularan di dalam keluarga, Agus mengatakan, sedapat mungkin masyarakat tinggal di rumah jika tidak ada keperluan mendesak.

KESEHATAN | 19 September 2020

1 dari 3 Warga DKI dan Jatim Merasa Kebal dari Covid-19

Sebanyak 30 persen warga DKI dan 29 persen warga Jatim merasa yakin tidak akan kena Covid-19.

KESEHATAN | 19 September 2020

Achmad Yurianto: Banyak Pegawai Kemkes Terpapar Covid-19 Saat Bertugas

Menurut Achmad Yurianto, pegawai Kemkes tersebut terinfeksi Covid-19 saat bertugas.

KESEHATAN | 18 September 2020

Dokter Reisa: Lebih dari 1.000 Klaster Covid-19 Ditemukan

Klaster adalah kelompok penularan lokal yang berkaitan dengan rantai penyebaran. Klaster dapat terjadi di rumah, tempat kerja, atau di tempat kerumunan lainnya.

KESEHATAN | 18 September 2020

Tingginya Pegawai Terpapar Covid-19, Tunjukkan Kemkes Lakukan Tugas dengan Baik

Kemkes telah melakukan protokol kesehatan di instansinya, namun begitu banyak pihak atau instansi yang harus dilayani menjadi penyebab pegawai terpapar.

KESEHATAN | 18 September 2020

Dokter Reisa: 7 dari 10 Orang Terpapar Covid-19 Telah Sehat

Reisa Broto Asmoro mengatakan angka kesembuhan pasien Covid-19 semakin baik. Pada Jumat (18/9/2020) berkisar pada angka 71 persen.

KESEHATAN | 18 September 2020

Asap Rokok Turunkan Imunitas Tubuh

Asap rokok yang dihirup dapat melemahkan daya tahan tubuh sehingga Covid-19 dapat dengan mudah menyerang tubuh seseorang.

KESEHATAN | 18 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS