Hilirisasi Komoditas Strategis, Prioritas Bupati Musi Banyuasin
INDEX

BISNIS-27 448.452 (2.34)   |   COMPOSITE 5112.19 (31.86)   |   DBX 973.986 (8.67)   |   I-GRADE 139.714 (1.48)   |   IDX30 428.304 (2.58)   |   IDX80 113.764 (0.56)   |   IDXBUMN20 291.927 (3.17)   |   IDXG30 119.182 (0.2)   |   IDXHIDIV20 379.228 (3.03)   |   IDXQ30 124.656 (0.92)   |   IDXSMC-COM 220.2 (1.7)   |   IDXSMC-LIQ 259.388 (-0.32)   |   IDXV30 107.478 (0.14)   |   INFOBANK15 831.648 (11.11)   |   Investor33 374.125 (2.2)   |   ISSI 151.171 (0.09)   |   JII 550.867 (-0.37)   |   JII70 188.056 (-0.11)   |   KOMPAS100 1022.34 (4.05)   |   LQ45 789.815 (4.4)   |   MBX 1412.7 (8.24)   |   MNC36 280.331 (1.41)   |   PEFINDO25 282.464 (2.47)   |   SMInfra18 241.575 (1.13)   |   SRI-KEHATI 316.512 (2.46)   |  

Hilirisasi Komoditas Strategis, Prioritas Bupati Musi Banyuasin

Minggu, 26 Juli 2020 | 23:16 WIB
Oleh : Surya Lesmana / ALD

Jakarta, Beritasatu.com - Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan mendorong hilirisasi komoditas strategis, terutama pertambangan dan perkebunan, untuk memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Selama ini, Muba menjadi tujuan investasi sejumlah perusahaan pertambangan dan perkebunan multinasional, namun hanya menjual komoditas mentah.

“Soal investasi, Muba itu tempat berinvestasi. Tapi kami hanya menjual barang mentah. Kami ingin tingkatkan nilai tambah melalui hilirisasi sejumlah komoditas strategis. Biofuel, petrokimia, itu nilai tambah yang ingin kami ciptakan,” ungkap Bupati Muba, Dodi Reza Alex Noerdin, saat berdiskusi dengan jajaran Redaksi Berita Satu Media Holdings, di Jakarta, Jumat (24/7) lalu.

Dodi menambahkan, Kabupaten Muba sejak lama menjadi lumbung energi nasional. Gas dari Muba telah mengalir ke Pulau Jawa, bahkan hingga Singapura. Cadangan gas dari kabupaten tersebut menjadi yang terbesar kedua di dunia setelah cadangan gas di Tangguh, Papua.

“Minyak tinggal sedikit. Untuk gas, silakan cek pemberitaan, awal tahun ini Repsol menemukan cadangan gas keempat terbesar di dunia di Muba. Gas yang dihasilkan Conoco Philips di Muba, sudah lama mengaliri listrik ke Jawa dan Singapura melalui kabel bawah laut,” ungkapnya.

Selain pertambangan migas, Dodi mengungkapkan, komoditas strategis lain di wilayahnya adalah perkebunan karet dan kelapa sawit. “Karet sebagian besar miliki perusahaan. Itu yang juga banyak menyumbang pemasukan ke negara,” jelasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari 14.000 kilometer persegi (km2) luas wilayah Muba, luas perkebunan karet mencapai luas 217.000 hektare (ha) atau setara 2.170 km2. Sedangkan, perkebunan kelapa sawit seluas 43.000 ha (430 km2). Dengan demikian luas perkebunan dua komoditas tersebut mencapai 20% dari total wilayah Muba.

“Jadi kontribusi terbesar dari Muba itu migas, kelapa sawit, dan karet,” ujarnya.

Selama ini, lanjut Dodi, hasil tambang dan perkebunan itu kebanyakan dijual dalam bentuk mentah. Untuk itu, di masa pemerintahannya, dia mendorong hilirisasi komoditas strategis tersebut agar memiliki nilai tambah besar bagi perekonomian di daerahnya.

“Kami akan upgrade nilai tambah hasil komoditas. Caranya lewat hilirisasi komoditas,” katanya.

Salah satu yang dilakukan adalah merintis inovasi dalam pengolahan kelapa sawit menjadi bahan bakar ramah lingkungan dan terbarukan (biofuel). Sejak Oktober 2017, Kabupaten Muba menjadi proyek percontohan nasional peremajaan kelapa sawit milik rakyat yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. Proyek peremajaan sawit yang asalnya hanya seluas 4.446 ha kini sudah menjadi 12.000 ha.

Setiap petani menggarap 2-4 ha lahan perkebunan kelapa sawit. Melalui peremajaan bibit dan pupuk yang bagus, mampu meningkatkan produktivitas tanaman tersebut sehingga bisa dipanen dalam waktu 1,5 tahun. “Bahkan sudah ada tes DNA bibit kelapa sawit dari Amerika untuk mengetahui apakah bibit sawit ini nantinya menghasilkan pohon dan buah yang bagus. Ini membantu petani untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawit mereka,” ungkap Dodi.

Dengan peremajaan tersebut, produktivitas kelapa sawit yang semula hanya 3-4 ton per tahun, meningkat lebih dua kali lipat menjadi 8-10 ton per tahun. Peremajaan kelapa sawit ini juga menepis anggapan dunia, kalau kelapa sawit di Indonesia dibangun dengan membakar hutan dan menggunakan bahan kimia.

Pemkab Muba juga berencana membangun pabrik untuk membuat bahan bakar nabati ini untuk menunjang energi terbarukan nasional. “Kami ingin meningkatkan nilai tambah yang kami jual. Dari hanya minyak mentah (CPO) menjadi biofuel. Pada Agustus mesinnya akan dipasang di Muba. Dari mana bahan minyak kelapa sawitnya? Itu tadi dari kelapa sawit milik masyarakat yang luasnya 12.000 ha. Jadi ini dari hulu ke hilir semua dilakukan di Muba,” jelas Dodi.

Upaya hilirisasi lain yang bisa dilakukan adalah pengolahan gas untuk memenuhi kebutuhan gas rumah tangga menggantikan elpiji yang selama ini masih diimpor. “Kita ambil contoh, elpiji di rumah tangga itu impor, sementara pasar masih luas. Kenapa kita enggak bangun pabrik elpiji? Selama ini pemerintah jual gas mentah. Elpiji ini kerja samanya dengan Pertamina. Sumber gasnya kan sudah ada,” katanya.

Kawasan Industri Hijau
Dodi menambahkan, pihaknya tengah menyiapkan pembangunan kawasan industri hijau pada 2021 mendatang. Kawasan seluas ratusan hektare (ha) ini nantinya bakal menjadi pusat hilirisasi komoditas kelapa sawit, aspal karet, serta migas.

Pemkab Muba telah memproyeksikan empat lokasi strategis untuk membangun kawasan industri hijau ini karena dekat dengan sumber-sumber energi yang ada. “Salah satunya di lokasi cadangan gas Bayung Lencir yang disebut merupakan lokasi cadangan gas terbesar keempat di dunia,” ungkapnya.

Selain itu, lokasi kawasan ini juga berdekatan dengan proyek pembangunan infrastruktur nasional, seperti jalan tol, sehingga diyakini bakal menarik minat investor.

Konsep pembangunan industri hijau di Muba ini, nantinya akan menyatukan seluruh industri, baik migas dan perkebunan, menjadi satu kawasan yang juga akan terkoneksi dengan kawasan Golden Triangle Muba. Untuk merealisasikan target ini, Pemkab Muba telah berkoordinasi dengan Kemenko Perekonomian.

Dorong Konektivitas
Dodi juga mengungkapkan, salah satu prioritas yang dilakukannya adalah membangun konektivitas. Dengan jumlah penduduk hanya sekitar 700.000 jiwa yang menempati wilayah 23 kali luas DKI Jakarta, konektivitas menjadi persoalan besar di Muba.

Minimnya konektivitas membuat tingkat kemiskinan di Muba sangat tinggi, mencapai 16%, di atas tingkat kemiskinan nasional 9%. “Mengapa kemiskinan di Muba tinggi? Karena garis kemiskinan kami lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Ini karena inflasi di Muba tinggi, dampak dari minimnya infrastruktur perhubungan, sehingga biaya logistik tinggi,” jelasnya.

“Jadi visi kami sekarang adalah konektivitas untuk menurunkan biaya logistik. Umumnya warga Muba masyarakat petani dan nelayan,” ujarnya.

Akan tetapi, membangun konektivitas di Muba bukan perkara mudah dan murah. Dodi mengungkapkan, membangun jalan di Muba lebih mahal dari Jawa, karena kontur tanahnya berupa lahan gambut dan rawa.

“Perbandingannya, kalau di Jawa bisa membangun jalan 1 km, di Muba hanya bisa 200 meter. Gambut itu kedalamannya bisa 12 meter. Jadi pasti tinggi biayanya, dan akan perlu perawatan setiap tahun, karena tanahnya tidak stabil,” jelasnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Wagub Kaltim Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi dinyatakan oleh tim medis RSUD Abdul Wahab Sjahranie telah sembuh dari Covid-19.

NASIONAL | 26 Juli 2020

KPAI Minta Kurikulum Disederhanakan Selama Pembelajaran Jarak Jauh

Kurikulum 2013 harus segera disederhanakan dan disesuaikan dengan situasi darurat.

NASIONAL | 26 Juli 2020

Mundur dari Organisasi Penggerak, PP Muhammadiyah: Banyak Program Bermasalah dan Tidak Kredibel

Ada organisasi penggerak yang mengusulkan program tidak sesuai dengan tujuan POP untuk meningkatkan kompetensi guru dan kepala sekolah.

NASIONAL | 26 Juli 2020

Tetap Mundur dari Organisasi Penggerak, PGRI: Dana untuk Subsidi Covid-19 Saja

Unifah mengatakan, dana yang telah dialokasikan untuk POP sebaiknya dialihkan untuk subsidi siswa dan sekolah yang terdampak situasi Covid-19.

NASIONAL | 26 Juli 2020

Tanpa Vaksin, Pandemi Covid-19 Tidak Akan Berakhir

Penularan virus Covid-19 masih sulit dikendalikan sebelum tersedianya vaksin.

NASIONAL | 26 Juli 2020

MA Diminta Gugurkan Peninjauan Kembali Djoko Tjandra

MA diminta menggugurkan peninjauan kembali yang diajukan Djoko Tjandra yang hingga kini masih proses pengadilannya dilanjutkan oleh PN Jakarta Selatan.

NASIONAL | 26 Juli 2020

DIY Tambah Kapasitas RS Rujukan Covid-19

DIY memiliki 321 tempat tidur yang dipersiapkan untuk pasien positif Covid-19.

NASIONAL | 26 Juli 2020

Kaltim Ditargetkan Jadi Bagian Ketahanan Pangan

Irwan mengatakan lahan-lahan persawahan, terutama yang belum termanfaatkan, perlu diaktifkan dengan membangun jaringan irigasi.

NASIONAL | 26 Juli 2020

Pengacara Djoko Tjandra Bakal Jadi Tersangka?

Saat ini status Anita Dewi Anggraeni Kolopaking masih menjadi saksi.

NASIONAL | 26 Juli 2020

Pilgub Bengkulu, Eks Napi Korupsi Puncaki Survei Elektabilitas

Agusrin Maryono Najamudin yang merupakan mantan terpidana kasus korupsi berhasil memuncaki survei elektabilitas Pilkada Bengkulu.

NASIONAL | 26 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS