Covid-19, Tuberkulosis, dan Malaria
INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Covid-19, Tuberkulosis, dan Malaria

Opini: Tjandra Yoga Aditama
Guru Besar Penyakit Paru FKUI, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO SEARO, mantan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, serta mantan Kepala Badan Litbangkes Kemkes RI

Jumat, 16 Oktober 2020 | 08:00 WIB

Covid-19 sudah 10 bulan ada di dunia, dan praktis memengaruhi seluruh sendi kehidupan. Karena itu, dapat dimengerti bahwa perhatian penuh diberikan terhadap penanggulangan penyakit ini. Tapi perlu diingat bahwa banyak masalah kesehatan lain yang juga perlu mendapat perhatian.

Pengalaman sebelum ini menunjukkan, kalau sistem kesehatan kewalahan terhadap satu wabah tertentu maka kematian akibat penyakit lain, yang seharusnya dapat dicegah dan diobati, akan meningkat secara tajam. Pada kejadian wabah ebola di Afrika (2014-2015), peningkatan angka kematian akibat penyakit campak, HIV/AIDS, tuberkulosis (TB), dan malaria, ternyata lebih tinggi dari kematian akibat ebolanya sendiri.

Gangguan pelayanan kesehatan memang dapat beragam sebabnya. Dapat saja karena fasilitas pelayanan kesehatan sudah kewalahan disibukkan menangani kasus Covid-19, atau karena masyarakat atau pasien takut datang ke rumah sakit, puskesmas, dan klinik, karena takut tertular. Dapat juga karena kesulitan transportasi karena adanya lockdown, misalnya, atau kekurangan biaya karena kehilangan pekerjaan atau berkurang pendapatannya. Terlepas dari itu semua, menjadi tugas kita agar berbagai pelayanan kesehatan dapat tetap berjalan baik, termasuk untuk TB dan malaria.

Tuberkulosis
Kuman TB sudah ditemukan pada tahun 1882, lebih dari 130 tahun yang lalu. Obatnya juga sudah mulai ditemukan sejak lebih dari 70 tahun yang lalu. Tetapi, sampai sekarang TB masih merupakan masalah kesehatan penting di dunia, dan juga di negara kita.

Sekitar seperempat penduduk dunia pernah terinfesksi kuman TB, walaupun memang hanya 5-15% di antaranya yang kemudian jatuh sakit. Data menunjukkan bahwa setiap tahun di dunia ada 10 juta pasien baru TB dan 1,5 juta berujung pada kematian.

Indonesia saat ini berada di peringkat ketiga dengan jumlah penderita TB tertinggi di dunia, di bawah India dan Tiongkok. Data yang ditampilkan pada Hari Tuberkulosis 24 Maret 2020, menunjukkan bahwa pada 2018 ada 845.000 rakyat Indonesia menderita TB, dan 24.000 mengalami TB yang sudah resisten, atau tidak mempan dengan obat biasa. Juga ada 93.000 rakyat kita yang meninggal karena TB di tahun 2018. Angka keberhasilan pengobatan di tahun 2018 adalah 85%

TB dan Covid-19, keduanya adalah penyakit yang menyerang paru-paru. Karena itu gejalanya dapat saja mirip. Keduanya punya gejala batuk, mungkin juga sesak napas, dan pada keadaan tertentu dapat juga demam.

Hal ini punya dua dampak. Pertama, dapat saja terjadi misdiagnosis antara TB dan Covid-19. Kedua, sebenarnya ada peluang bahwa penanganan TB ikut bersama pola penanggulangan Covid-19.

Pada Juli 2020, Presiden Joko Widodo meminta untuk mengkaji penanggulangan penyakit TB ikut dalam “kendaraan” yang sama dengan tim penanganan Covid-19. Dengan demikian dua hal penting bagi kesehatan masyarakat dapat selesai lebih cepat.

“Saya enggak tahu apakah ini bisa ditumpangkan di Covid-19 grup, sehingga ‘kendaraannya’ sama. Kita bisa menyelesaikan dua hal yang penting bagi kesehatan rakyat kita. Kalau itu bisa saya kira akan lebih mempercepat,” kata Presiden Jokowi dalam rapat kabinet terbatas percepatan eliminasi TB di Istana Merdeka, Jakarta, Juli lalu, sebagaimana diberitakan di media.

Gangguan pelaksanaan program penanggulangan TB akibat Covid-19 diperkirakan akan membuat masalah TB di dunia menjadi lebih pelik lagi. Diagnosis kasus dapat jadi terlambat, dan pengobatan juga menjadi terganggu. Pada gilirannya akan mungkin meningkatkan penularan, angka kesakitan, dan kematian akibat TB.

Setidaknya ada dua pemodelan yang dibuat untuk melihat dampak pandemi Covid-19 pada kejadian TB di dunia. Pemodelan pertama dibuat oleh Stop TB Partnership, yang antara lain menyebutkan bahwa disrupsi pelayanan TB akibat Covid-19 akan membuat kemunduran (setback) 5 sampai 8 tahun, dan situasi TB akan mundur seperti situasi pada kurun 2013-2016 yang lalu.

Sementara itu, diperkirakan bahwa kalau ada lockdown selama 3 bulan dan perlu 10 bulan untuk restorasi kembali, maka di dunia mungkin akan terjadi penambahan 6,3 juta kasus dan 1,4 juta kematian akibat TB pada kurun waktu 2020 sampai 2025.

Pemodelan kedua menyebutkan bahwa kalau penemuan kasus TB di dunia turun sebanyak 25% selama 3 bulan, maka akan ada tambahan 190.000 kematian akibat TB di dunia.

Tentu saja pemodelan seperti ini juga banyak keterbatasannya, dan belum tentu sepenuhnya benar. Namun, setidaknya itu dapat memberi gambaran tentang kemungkinan potensi yang terjadi di dunia.

Malaria
Penyakit malaria sudah dikenal sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu, bahkan ada yang mengatakan sejak jutaan tahun yang lalu. Data terkini memperkirakan bahwa di dunia ada sekitar 228 juta kasus malaria pada 2018. Jumlah ini menurun dari 251 juta di tahun 2010, dan 231 juta di tahun 2017.

Selain itu juga diperkirakan ada sekitar 405.000 kematian akibat malaria di dunia pada tahun 2018. Jumlah itu menurun dari 416.000 kematian pada 2017, dan 585.000 kematian di dunia pada 2010.

Anak balita adalah kelompok yang rentan pada malaria, dan sekitar 67% kematian malaria di dunia terjadi pada balita. Memang lebih dari 90% kasus dan kematian akibat malaria terjadi di Benua Afrika. Tetapi malaria juga merupakan masalah kesehatan penting di Indonesia.

Pemerintah menargetkan pada 2024 sebanyak 405 kabupaten/kota mencapai eliminasi malaria. Periode 2020-2024 merupakan periode penting dan menentukan dalam upaya mencapai Indonesia bebas malaria tahun 2030.

Malaria dan Covif-19 keduanya bergejala demam. Karena itu, di daerah yang tinggi kasus malarianya dianjurkan ada pendekatan gabungan untuk deteksi terhadap dua penyakit ini secara bersamaan.

Seperti juga TB, dengan masih dan makin tingginya masalah Covid-19, perhatian pada penanggulangan malaria dapat saja terganggu. Pemodelan yang dilakukan di Afrika menunjukkan bahwa akibat Covid-19, program kampanye dan pembagian kelambu berinsektisida untuk mencegah malaria serta akses ke obat malaria menjadi amat terganggu. Akibatnya, kematian yang disebabkan malaria di Sub Sahara Afrika tahun ini dapat mencapai dua kali lebih tinggi dari tahun 2018. Artinya, situasi akan jauh mundur 20 tahun ke belakang.

Kita tahu bahwa obat malaria, yakni klorokuin atau hidroksi klorokuin pernah ramai diberitakan dapat juga digunakan untuk Covid-19. Data ilmiah terakhir menunjukkan bahwa obat ini tidak tepat digunakan pada Covid-19 yang berat. Penelitian masih terus berjalan tentang apakah obat ini bermanfaat untuk digunakan pada malaria ringan dan sedang, dan juga sedang berjalan penelitian tentang kemungkinannya untuk obat pencegahan Covid-19.

Pelayanan Kesehatan
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengingatkan agar di tengah kesibukan dunia mengatasi Covid-19, pelayanan kesehatan esensial harus tetap dapat terjaga. Pelayanan imunisasi, misalnya, harus tetap berjalan agar anak-anak dapat terhindar dari PD3I (penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi). Pelayanan keluarga berencana juga harus tetap dilaksanakan dengan baik, antara lain untuk menghindari baby boom yang mulai banyak dibicarakan.

Demikian pula penanganan TB dan malaria, harus tetap berjalan dan melindungi masyarakat. Mungkin dapat dilakukan beberapa modifikasi, misalnya, konsultasi digital dengan tele-health, atau pemberian obat TB yang diperpanjang, tetap berlangsungnya test and treatment untuk malaria, dan juga perlindungan ketat bagi petugas kesehatan di lapangan.

Masyarakat perlu menyadari bahwa selain Covid-19, berbagai masalah kesehatan lain juga perlu kita waspadai. Penentu kebijakan publik seyogyanya tetap memberi prioritas pada pelayanan kesehatan esensial ini, termasuk penanggulangan TB dan malaria, dua masalah kesehatan penting bangsa kita.


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS