Pandemi Covid-19 dan Komunikasi Sains
INDEX

BISNIS-27 503.122 (7.61)   |   COMPOSITE 5724.74 (89.25)   |   DBX 1066.46 (9.81)   |   I-GRADE 166.255 (3.05)   |   IDX30 491.004 (8.8)   |   IDX80 129.735 (2.65)   |   IDXBUMN20 364.991 (9.26)   |   IDXG30 133.352 (2.1)   |   IDXHIDIV20 441.973 (8.53)   |   IDXQ30 143.512 (2.54)   |   IDXSMC-COM 247.38 (3.5)   |   IDXSMC-LIQ 301.054 (8.02)   |   IDXV30 127.096 (4)   |   INFOBANK15 976.214 (12.27)   |   Investor33 422.656 (6.59)   |   ISSI 167.54 (3)   |   JII 607.336 (12.69)   |   JII70 209.626 (4.39)   |   KOMPAS100 1162.4 (23.4)   |   LQ45 904.834 (17.52)   |   MBX 1587.29 (26.24)   |   MNC36 315.598 (5.98)   |   PEFINDO25 317.232 (4.1)   |   SMInfra18 287.626 (7.78)   |   SRI-KEHATI 361.444 (5.7)   |  

Pandemi Covid-19 dan Komunikasi Sains

Opini: Pupung Arifin
Dosen Programs Studi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Rabu, 18 November 2020 | 08:00 WIB

Indonesia dan sebagian besar negara dunia sudah menghadapi pandemi Covid-19 lebih dari delapan bulan. Tercatat, lebih dari satu juta kematian akibat Covid-19. Inilah pandemi terburuk pada satu abad terakhir setelah Flu Spanyol.

Berbagai strategi dan upaya dilakukan oleh seluruh pemimpin negara. Pemerintah Indonesia pun hari-hari ini masih harus berjuang keras. Meski jumlah kematian harian turun, namun data fatality rate di Indonesia tercatat tertinggi se-ASEAN sebesar 3,3% (Our World in Data, 15/11/2020).

Kajian penanganan dan dampak pandemi Covid-19 telah dilakukan di berbagai sektor. Mulai dari bidang kesehatan, ekonomi, diplomasi, politik, pendidikan, media, dan lain-lain. Para ahli di seluruh dunia saling berbagi hasil riset. Kendati demikian, sebagian besar publik, khususnya di Indonesia, tidak mudah bisa mengakses informasi dasar tentang pandemi dan cara menghadapinya.

Data survei Etnomark Consulting (Pandamsari, 2020) menunjukkan 47% responden menyatakan dirinya awam dengan pandemi Covid-19, sementara 45% cenderung mencoba mengeksplorasi informasi lebih jauh soal pandemi.

Data tersebut cukup menarik, karena 47% cenderung akan dengan mudah terbawa wacana arus utama yang sepintas didengarnya. Jika mereka aktif di grup WhatsApp rukun tetangga (RT), misalnya, mereka akan mudah percaya dengan informasi yang dibagikan di grup tersebut.

Tak heran jika ada beberapa orang mudah percaya bahwa komunitas terkecil—misalnya keluarga, pertemanan, atau lingkungan tempat tinggal mereka—relatif aman dari penularan virus corona. Apalagi, jika informasi ini didengungkan oleh tokoh berpengaruh yang dianggap opinion leader.

Data lain menunjukkan bahwa 45% responden cenderung berusaha mengeksplorasi informasi. Hal ini perlu dikritisi lebih lanjut. Ini penting karena aktif mencari informasi belum tentu memberikan garansi akurasi informasi yang mereka terima.

Kita sadar ada ancaman misinformasi dan disinformasi dari konten buatan pengguna (user generated content) yang disusun dengan narasi meyakinkan pada platform media sosial.

Salah satu penyebab kurangnya penyebaran informasi yang tepat dan akurat karena kegagalan transmisi informasi dari para ahli kepada publik. Informasi dari para ahli kerap kali tenggelam atau kalah oleh isu atau narasi pemulihan ekonomi dan kepentingan politik.

Kita ambil contoh wacana vaksin Covid-19. Sejak akhir September 2020, pemerintah mulai membangun wacana publik bahwa vaksin Covid-19 bisa diterima masyarakat pada akhir 2020 atau awal 2021.

Sejak saat itu, pemberitaan soal rencana vaksin tidak pernah lepas dari hingar-bingar media dan diskusi publik. Tingginya harapan publik Indonesia terhadap hadirnya vaksin ini bisa dimaklumi karena masyarakat telah jengah pada pandemi yang tak kunjung berakhir.

Padahal Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus pada media briefing (21/9/2020) lalu menyampaikan tidak ada garansi bahwa vaksin yang saat ini sedang dikembangkan dapat selesai dengan cepat dan bekerja dengan sempurna (who.int, 2020).

Kita bisa menyaksikan sebagian masyarakat Indonesia mulai abai dengan ancaman Covid-19. Hal ini terbukti dari beberapa peristiwa ketika sekelompok orang berkumpul dengan jumlah cukup banyak tanpa memperhatikan protokol 3M.

Media juga cenderung memberikan panggung pada aktivitas-aktivitas pelanggaran protokol kesehatan macam ini. Tidak bisa dimungkiri jika kondisi ini berkorelasi dengan false hope akan vaksin Covid-19 yang selama ini dianggap sebagai satrio piningit.

Komunikasi Sains
Putusnya jembatan komunikasi para ahli dengan publik terjadi karena adanya perbedaan titik tolak atas sains. Para ahli cenderung fokus pada aspek-aspek ilmiah dan publikasi. Tak heran jika hasil-hasil riset para ahli berakhir di jurnal ilmiah. Padahal, masyarakat cenderung membutuhkan pesan yang sederhana, mudah dipahami dan menarik. Kajian komunikasi sains mencoba menghubungkan missing link itu.

Komunikasi sains hadir sejak abad ke-19. Ketika itu, disadari pentingnya penerjemahan bahasa saintifik agar mudah dipahami oleh publik (Weingart & Guenther, 2016).

Komunikasi sains secara sederhana dapat dipahami sebagai sekumpulan tindakan untuk menyampaikan pengetahuan saintifik kepada audiens non-ilmuwan. Hal ini kerap kali tidak menjadi fokus utama dalam konteks pembangunan berbasis modernitas.

Contoh kecil, misalnya, rencana pembangunan berbasis teknologi oleh pemerintah kepada komunitas di pedesaan yang lebih menitikberatkan pada aspek teknis tanpa memperhatikan konteks sosio-demografik masyarakat setempat (Yudarwati, 2019).

Efektivitas komunikasi sains membutuhkan kolaborasi yang baik dari berbagai aktor. Para ahli bidang tertentu membutuhkan bantuan dari para ahli bidang komunikasi yang mengetahui cara berkomunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat menggunakan berbagai saluran.

Bila tidak hati-hati, penerapan komunikasi sains di lapangan bisa menjadi blunder, karena para ahli bisa terjebak pada prinsip kesederhanaan informasi dengan mengeliminasi informasi penting dan justru memunculkan narasi lain yang cenderung bisa disalahartikan.

Hal itu terjadi, misalnya, ketika Satgas Penanganan Covid-19 Indonesia pada Senin (9/11) lalu menyampaikan bahwa orang Indonesia masuk kategori paling optimistis se-ASEAN dalam menaklukkan pandemi Covid-19. Pernyataan ini bisa saja disalahartikan sebagian masyarakat menjadi lebih longgar dalam menerapkan protokol 3M berbekal optimisme tersebut.

Terwujudnya komunikasi sains yang efektif kerap menemui tiga kendala. Pertama, kurang mampunya ilmuwan menyusun bentuk tulisan popular karena lebih terbiasa menulis artikel jurnal ilmiah. Kedua, isu-isu ilmiah dianggap tidak memiliki nilai berita. Ketiga, mental block masyarakat yang cenderung menghindari pembahasan ilmiah yang dianggap berat.

Menjawab kendala tersebut, para ahli perlu menyusun narasi ilmiah dengan pendekatan produksi video/film, visual art, pertunjukan seni/musik, infografik, kartun, media sosial dan sebagainya yang sesuai dengan target khalayaknya.

Kita tidak bisa membiarkan ancaman mengendurnya semangat sebagian besar masyarakat yang sudah baik dalam menerapkan protokol karena melihat sekelompok orang yang salah mengambil keputusan karena rendahnya literasi pada informasi ilmiah tentang Covid-19.


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS