Stok Beras Impor Dominasi Gudang Bulog Padang

Stok Beras Impor Dominasi Gudang Bulog Padang
Ilustrasi stok beras Bulog. ( Foto: Antara )
Anselmus Bata / RIX Senin, 5 Agustus 2019 | 11:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi IV DPR ketika melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Padang, Sumatera Barat, menemukan stok beras impor di gudang milik Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) lebih banyak dibandingkan dengan stok beras lokal.

"Rupanya Bulog kesulitan menyerap beras lokal,” ucap anggota Komisi IV DPR, Hermanto, saat meninjau salah satu gudang milik Bulog di Padang, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu.

Dalam menyerap beras lokal dari petani, Bulog berpatokan pada harga pembelian pemerintah (HPP) gabah. Namun nilai HPP masih terlalu rendah dari harga di pasar lokal.

"Di Sumatera Barat, para petani umumnya memproduksi beras premium yang dijual dengan harga di atas HPP," katanya melalui keterangan tertulis.

Dari realita tersebut, petani akan rugi apabila menjual gabahnya ke Bulog, sedangkan Bulog juga tidak bisa membeli karena harus berpedoman pada HPP. "Karena tidak bisa beli beras lokal, akibatnya anggaran yang telah disediakan tidak terserap," ungkap Hermanto.

Di sisi lain, Bulog bertugas menjaga stabilitas harga beras agar inflasi dapat dikendalikan. Untuk melaksanakan tugas tersebut, stok beras di Bulog harus cukup. Karena stok beras tidak bisa dicukupi oleh serapan lokal, maka Bulog mencukupinya dengan beras impor.

Hermanto berpendapat pemberlakuan HPP tidak mesti permanen. "Perlu diberi limit waktu dan agak fleksibel agar Bulog tidak terbelenggu dan petani sejahtera," ujarnya.

Prinsip yang perlu diperhatikan dalam penerapan HPP adalah harus tetap menjaga stabilitas harga, sensitif terhadap perubahan harga, dalam masa waktu tertentu dapat dievaluasi, tidak merugikan petani, dan juga tidak memberatkan konsumen.

"Dengan demikian kedua belah pihak menikmati benefit, sama-sama untung dan anggaran yang cukup besar yang diamanatkan pada Bulog juga dapat terserap secara optimal. Selain itu, Bulog harus membeli beras premium petani di Sumatera Barat dengan harga komersial, karena Bulog memiliki anggaran yang proporsional untuk pembelian komersial,” pungkas legislator dapil Sumatera Barat I ini.



Sumber: BeritaSatu.com