Pembunuhan Akibat KDRT, Afrika dan Amerika Tertinggi

Pembunuhan Akibat KDRT, Afrika dan Amerika Tertinggi
Direktur Analis Kebijakan dan Informasi Publik UNODC, Jean-Luc Lemahieu, ( Foto: Istimewa )
Jeanny Aipassa / JAI Selasa, 27 November 2018 | 11:53 WIB

Washington - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC) melaporkan Afrika dan Amerika  adalah wilayah dengan risiko tertinggi pembunuhan perempuan akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). 

Dalam penelitian yang dilakukan UNODC, ditemukan bahwa tingkat global korban pembunuhan perempuan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat, baik pasangan, pacar atau pasangan intim, dan anggota keluarga, mencapai 1,3 korban per 100.000 penduduk perempuan.

"Penelitian ini menemukan bahwa Afrika dan Amerika adalah wilayah di mana perempuan paling berisiko dibunuh oleh pasangan intim atau anggota keluarga," bunyi laporan UNODC, yang dirilis bersamaan dengan Hari Internasional PBB untuk Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Senin (26/11).

Di Afrika, angka ini sekitar 3,1 korban per 100.000 penduduk perempuan, sementara tingkat di Amerika adalah 1,6 korban, dan di Oceania 1,3 korban, dan di Asia 0,9 korban. Tingkat terendah ditemukan di Eropa, dengan 0,7 korban per 100.000 penduduk perempuan.

Menurut UNODC, tidak ada kemajuan nyata dalam memerangi KDRT dalam beberapa tahun terakhir, meskipun banyak negara telah membuat undang-undang dan program yang dikembangkan untuk memberantas kekerasan terhadap perempuan.

Direktur Analis Kebijakan dan Informasi Publik UNODC, Jean-Luc Lemahieu, mengatakan bahwa pembunuhan domestik yang dialami perempuan merupakan akhir tragis dari serangkaian tindakan kekerasan dalam rumah tangga.

Menurut dia, pembunuhan terhadap perempuan yang dilakukan oleh pasangan hidup, pasangan intim atau anggota keluarganya, bukan serta merta terjadi, melainkan diawali dari proses pelecehan dan kekerasan yang polanya berulang kali.

“Ketika seorang perempuan terbunuh akibat kekerasan dalam rumah tangga, itu bukan tanpa prediksi, karena biasanya diawali dengan kekerasan verbal dan fisik yang polanya terbentuk jauh sebelum pembuhan terjadi,” kata Lemahieu, seperti dikutip The Washington Post, Senin.

Dia mengungkapkan, secara universal kekerasan terhadap perempuan hampir tidak dilaporkan kepada pihak berwajib. Itu sebabnya, peran aktif anggota keluarga lainnya, bahkan tetangga, sangat penting untuk melaporkan kekerasan dalam rumah tangga kepada pihak berwajib agar ada efek jera bagi pelaku.

Lemahieu mengatakan, hasil penelitian menunjukkan keengganan untuk melaporkan kasus kekerasan dalam rumah tangga, atara lain disebabkan oleh ketakutan akan pembalasan dari pelaku, ketergantungan ekonomi dan psikologi, bahkan kecemasan bahwa polisi akan menganggap laporan tersebut sebagai masalah pribadi yang dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kami sangat mengkhawatirkan seberapa jauh kekerasan terhadap perempuan tidak terungkap karena para korban takut terhadap pembalasan dari pelaku, atau malu pada stigma negatif masyarakat yang pada akhirnya membungkam suara jutaan korban,” ujar Lemahieu.



Sumber: Suara Pembaruan, Reuters, Washington Post
CLOSE