360.000 Remaja Diprediksi Meninggal Karena HIV/AIDS

360.000 Remaja Diprediksi Meninggal Karena HIV/AIDS
Seorang aktivis memegang plakat dalam bentuk pita merah bertuliskan “Katakan Tidak Untuk AIDS”, dalam rangka kampanye untuk memperingati hari AIDS Sedunia, pada 1 Desember 2019, di Kolkata, India. ( Foto: Dok SP )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Senin, 3 Desember 2018 | 15:43 WIB

Cape Town - Badan PBB untuk Pendanaan Anak-anak (UNICEF) melaporkan sekitar 360.000 remaja diproyesikan meninggal karena HIV dan penyakit terkait AIDS, antara 2018-2030. Ini artinya, sekitar 76 remaja akan meninggal setiap hari, jika tak ada upaya dan investasi tambahan dalam pencegahan HIV, pengujian, dan program pengobatan.

UNICEF juga memperkirakan hampir 700 remaja berusia 10-19 tahun menjadi korban penularan baru HIV setiap hari, atau satu orang per dua menit. AIDS yang terkait dengan kematian diproyeksikan juga menurun 57 persen diantara anak-anak di bawah usia 14 tahun, dibandingkan dengan 35 persen diantara usia 15-19 tahun.

“Laporan ini memperjelas, tanpa keraguan, bahwa dunia keluar dari jalur ketika berbicara mengakhiri AIDS diantara anak-anak dan remaja pada 2030,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Henrietta Fore, dalam laporan berjudul “Anak-anak, HIV, dan AIDS: Dunia pada 2030” yang dirilis menjelang peringatan Hari AIDS Sedunia pada 1 Desember 2018.

Meski demikian, UNICEF menyatakan jumlah terbaru anak-anak yang terinveksi HIV usia 0-19 tahun akan mencapai 270.000 orang pada 2030, atau menurun sekitar sepertiga dari perkiraan saat ini. Ini menunjukkan jumlah anak-anak dan remaja yang meninggal karena penyakit terkait AIDS akan menurun dari saat ini 119.000 orang menjadi 56.000 orang pada 2030.

Penurunan ini dianggap masih terlalu lambat, khususnya di kalangan remaja. Berdasarkan laporan, pada 2030, angka infeksi HIV baru diantara anak-anak di dekade pertama kehidupannya akan terpotong setengah, sedangkan infeksi baru diantara remaja berusia 10-19 tahun hanya menurun 29 persen.

“Program penegahan penularan HIV dari ibu ke bayi sudah menuai hasil, tapi tidak cukup baik, sedangkan program pengobatan virus dan mencegahnya menyebar diantara orang dewasa tidak berada di tempat seharusnya,” katanya.

Peringatan Hari AIDS Sedunia berlangsung di Cape Town, Afrika Selatan. Para aktivis melakukan aksi turun ke jalan untuk memperingati Hari AIDS Sedunia untuk meningkatkan kesadaran mengenai HIV/AIDS di Afrika Selatan setelah lebih dari satu juta orang di Cape Town terbukti mengidap HIV pada 2017.

Afrika Selatan telah memulai sejumlah inisiatif untuk mengekang penyebaran HIV, termasuk rencana untuk pemeriksaan mandiri dan mendistribusikan perawatan yang disebut sebagai PREP kepada komunitas dengan resiko infeksi tinggi, serta harus mengurangi kemungkinan penularan kepada orang-orang dengan HIV-negatif.



Sumber: Suara Pembaruan, Al Jazeera, Unicef.org
CLOSE