Bouteflika Tidak Akan Maju Capres untuk Periode Kelima

Bouteflika Tidak Akan Maju Capres untuk Periode Kelima
Abdelaziz Bouteflika, yang baru pulih dari stroke, saat memberikan suaranya dari kursi roda ( Foto: bbc.com )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 12 Maret 2019 | 19:10 WIB

Aljir, Beritasatu.com-Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika (82) mengumumkan tidak akan maju sebaga calon presiden lagi untuk periode kelima. Dia juga menunda pemungutan suara presiden di tengah demonstrasi besar massa untuk menentang upaya pencalonannya kembali setelah 20 tahun berkuasa.

Dalam pesan yang dikutip oleh kantor berita resmi Aljazair, APS, Senin (11/3), presiden yang baru saja pulang ke tanah air setelah dirawat karena sakit itu mengatakan pemilihan akan mengikuti konferensi nasional atas reformasi politik dan konstitusional yang akan dilaksanakan pada akhir tahun 2019.

“Tidak akan ada pemilihan presiden pada 18 April,” kata Bouteflika merujuk kepada jadwal pemungutan suara, sambil menambahkan bahwa banyaknya permintaan mendesak yang diajukan kepadanya.

Istana Kepresiden Aljazair menyatakan Bouteflika pergi ke Jenewa, Swiss, untuk menjalani pengobatan rutin pada 24 Februari 2019 dan baru kembali lagi pada Minggu (10/3). Demonstrasi massa selama berminggu-minggu ini belum pernah terjadi sebelumnya saat jutaan orang turun ke jalan-jalan.

Aksi protes dimulai di jalanan ibu kota, Aljir, Senin. Klakson mobil bersahut-sahutan sambil orang melambaikan bendera, melompat-lompat, dan menyanyikan lagu kebangsaan.

Sebagian demonstran mewaspadai janji Bouteflika untuk menyingkir, sebagai langkah pertama saja. Bouteflika tidak memberikan tanggal atau tenggat waktu untuk penundaan pemilu.

Para pengkritik mengaku khawatir langkah itu akan membuka jalan bagi presiden untuk memasang pengganti yang dipilihnya sendiri. Sedangkan, pihak lainnya melihat keputusan Bouteflika untuk menunda pemilu tanpa batas sebagai ancaman kepada demokrasi di Aljazair.

“Bahkan jika ini adalah kemenangan indah bagi rakyat Aljazair dan gerak-gerik itu di sana, saya tidak yakin bahwa seluruh rezim dan sistemnya akan runtuh,” kata seorang akademisi dari Pusat Timur Tengah Carnegie, Dalia Ghanem Yazbeck.

 



Sumber: Suara Pembaruan