Kecelakaan Pesawat Ethiopia dan Lion Air Sama Pemicunya

Kecelakaan Pesawat Ethiopia dan Lion Air Sama Pemicunya
Pesawat Boeing 737 milik Ethiopian Airlines meninggalkan bandara di Nairobi. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Heru Andriyanto / HA Selasa, 26 Maret 2019 | 06:49 WIB

Beritasatu.com - Sistem baru dalam Boeing 737 Max 8 yang membuat pilot kesulitan sebelum jatuhnya pesawat milik Lion Air Oktober 2018 kemungkinan juga aktif sebelum jatuhnya pesawat model yang sama milik Ethiopian Airlines.

Fitur baru dalam Boeing 737 Max itu disebut maneuvering characteristics augmentation system (MCAS), dan saat ini menjadi fokus penyelidikan kecelakaan Lion Air di laut Jawa yang menewaskan 189 orang, hanya 12 menit usai lepas landas.

Kepala Eksekutif Ethiopian Airlines Tewolde GebreMariam mengatakan dia yakin bahwa MCAS “menurut pengetahuan kami” aktif dalam durasi pendek penerbangan 302 dari Addis Ababa.

MCAS secara otomatis memaksa hidung pesawat bergerak turun untuk mencegah terjun bebas atau stall, dan diperkenalkan Boeing untuk mengantisipasi posisi baru mesin 737 Max.

Mesin baru ini dirancang bisa menempuh jarak lebih jauh dan lebih irit bahan bakar, tetapi juga lebih besar dari sebelumnya sehingga dipasang lebih ke depan.

Laporan awal dalam penyelidikan kasus Lion Air mengindikasikan bahwa kesalahan sensor dalam membaca data dan cara kerja MCAS membuat pesawat jatuh ke laut.

GebreMariam adalah pejabat tinggi Ethiopian Airlines pertama yang membenarkan bahwa MCAS memang aktif sebelum kecelakaan, meskipun dia mengatakan bukti yang konklusif hanya bisa didapat dari hasil penyelidikan. Kotak hitam pesawat itu sekarang berada di Paris untuk dianalisis oleh biro kecelakaan udara BEA.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis maskapai tersebut, Senin (25/3), GebreMariam mengatakan dia tidak ingin berspekulasi tentang penyebab kecelakaan, tetapi "banyak pertanyaan tentang pesawat 737 Max yang belum terjawab".

Dia juga membantah anggapan bahwa pilot kecelakaan naas itu belum berlatih mengendalikan 737 Max.

“Berlawanan dengan pemberitaan di media, para pilot kami yang menerbangkan model baru itu dilatih di semua simulator yang sesuai. Para kru sudah terlatih baik untuk pesawat ini."

Lalu dia juga menegaskan tidak meragukan kapasitas Boeing sebagai produsen pesawat.

“Saya tegaskan: Ethiopian Airlines masih percaya pada Boeing.”

Boeing berencana memberi arahan pada 200 pilot, pakar teknik, dan regulator dari seluruh dunia pekan ini soal perangkat lunak dan pelatihan baru untuk 737 Max. Lampu di kokpit yang akan memperingatkan jika terjadi kesalahan sensor telah dipasang di banyak pesawat, termasuk armada American Airlines – tetapi tidak dibeli oleh Lion Air atau Ethiopian Airlines.

Pekan lalu, Garuda Indonesia menjadi maskapai pertama yang membatalkan pesanan 737 Max karena kekhawatiran masyarakat. Garuda baru menerima satu dari 50 pesawat 737 Max yang dipesan senilai US$ 6 miliar.

Sebanyak 387 pesawat model ini dikandangkan di seluruh dunia menunggu hasil penyelidikan. Dalam investigasi Lion Air didapati fakta sementara bahwa pilot kebingungan ketika hidung pesawat terus turun pada menit-menit terakhir sebelum jatuh ke laut.



Sumber: Guardian