Anggota Komisi I DPR Kecam Pembunuhan Massal di Mali

Anggota Komisi I DPR Kecam Pembunuhan Massal di Mali
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Evita Nursanty ( Foto: Istimewa / Asni Ovier )
Asni Ovier / AO Kamis, 28 Maret 2019 | 14:30 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Evita Nursanty merasa prihatin dan mengecam keras kekerasan yang ditujukan kepada warga sipil, anak-anak, dan perempuan yang sedang hamil di Mali, Afrika Barat. Evita berharap PBB menginvestigasi kejadian itu dengan sangat serius. Apalagi, sejak Maret 2018 di daerah Mopti itu sudah lebih dari 600 orang tewas.

“Terlepas apa pun motifnya, kekerasan yang menewaskan lebih dari 157 orang, di antaranya warga sipil, anak-anak, dan ibu hamil, seperti ini tidak benarkan. Mereka manusia. Saya sangat prihatin dan mengecam keras. Kita dukung PBB mengirim tim investigasi dan harus mencegah konflik dan korban semakin meluas,” kata Evita di Jakarta, Kamis (28/3.2019).

Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR yang juga anggota tidak tetap parlemen dunia untuk UN Affairs mewakili Asia Pacific Group itu belum bisa mengambil kesimpulan mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di Mali. Apalagi, konflik itu terkait dengan etnis Dogon yang diduga melakukan serangan dan etnis Fulani yang diduga menjadi korban. Evita hanya menyebutkan agar kejadian itu dilihat secara jernih.

“Ini harus dilihat dengan jernih. Misalnya, apakah ini betul hanya persoalan Dogon dan Fulani? Apakah betul ISIS dan Alqaeda berada di balik permusuhan dua etnis itu? Kita bisa melihat tak hanya di Mali, tetapi di negara tetangga mereka yang lain juga berkembang kelompok teroris. Kelompok teroris itu terus melakukan perekrutan dan mereka rupanya melihat padang gurun sebagai basis untuk bisa bertahan. Kita tunggu saja hasil investigasi tim PBB itu dan perlu solusi jangka panjang,” kata Evita.

Dikatakan, ada juga kemungkinan bahwa kelompok bersenjata yang berkaitan dengan ISIS dan Alqaeda telah mengeksploitasi rivalitas etnis di Mali, Burkina Faso, dan Nigeria. “PBB tidak boleh membiarkan sebab ini sudah berlangsung lama dan sudah banyak korban berjatuhan,” kata Evita.

Namun, kata Evita Nursanty, peristiwa semacam ini akan menjadi pelajaran sangat penting bagi semua negara yang multietnis dan multiagama, termasuk di Indonesia. Menurutnya, ideologi transnasional sangat rentan dan mencoba masuk untuk memecah-belah suatu bangsa.

Tak hanya di Mali, tetapi juga di berbagai negara Afrika lain, kondisi seperti itu masih terus bergolak. “Kita diingatkan masalah terorisme dan radikalisme tetap menjadi persoalan yang harus terus diberikan perhatian, termasuk setelah kekalahan ISIS di Suriah. Kita di Indonesia tidak boleh terlena. Yang lebih penting lagi, masyarakat harus sadar bahaya terpapar terorisme dan radikalisme ini, seperti yang dialami oleh eks ISIS di Suriah,” kata Evita Nursanty.



Sumber: BeritaSatu.com