Ethiopian Airlines Raih Penghargaan "African Champion of the Year"

Ethiopian Airlines Raih Penghargaan
Pesawat Boeing 737 milik Ethiopian Airlines meninggalkan bandara di Nairobi. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 28 Maret 2019 | 14:13 WIB

Kigali, Beritasatu.com -Ethiopian Airlines meraih penghargaan "African Champion of the Year" di Forum CEO Afrika yang berlangsung di Kigali, Ibukota Rwanda, Rabu (27/3/2019). Penghargaan tersebut, menjadi penyemangat bagi perusahaan penerbangan yang baru saja mengalami krisis akibat kecelakaan pesawat Ethiopian Airlines nomor penerbangan 302, pada 10 Maret 2019. 

Saat menerima penghargaan itu, CEO Ethiopian Airlines, Tewolde GebreMariam, mengatakan maskapai ini tetap optimis tentang memasuki pasar baru dan membuka diri untuk investasi swasta, meskipun menghadapi krisis terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dan semakin diperparah dengan kecelakaan pesawat baru-baru ini.

Menurut Tewolde GebreMariam, perusahaan yang dipimpinnya tetap berkomitmen untuk rencana ekspansi pan-Afrika termasuk melakukan lebih banyak kemitraan di seluruh benua. Ethiopian Airlines berharap akan mengoperasionalkan sebuah maskapai penerbangan di Zambia pada bulan Juli 2019, dan akan mempertimbangkan untuk membeli saham di Eritrea Airlines "ketika sudah siap"dalam pendanaan.

"Ethiopian Airlines sedang dalam proses mendapatkan maskapai penerbangan di Togo, Ghana, dan Guinea, bersama maskapai mitra yang sudah ada di Chad, Malawi, dan Mozambik. Kami akan melakukan ekspansi di seluruh wilayah Afrika," kata Tewolde GebreMariam.

Para juri "African Champion of The Year" memberikan penghargaan kepada Ethiopian Airlines berdasarkan pada visi perusahaan itu, untuk lebih baik menghubungkan Afrika dengan benua lain, yang sering dinilai sebagai masalah yang menantang untuk perdagangan dan bisnis oleh banyak pembuat kebijakan Afrika.

Setelah 20 tahun, maskapai terbesar Afrika itu melanjutkan penerbangan ke ibukota Eritrea, Asmara, tahun lalu, seiring mencairnya hubungan antara kedua negara. Ethionpian Airlines juga memulai penerbangan ke Somalia pada Oktober 2018 setelah jeda empat dekade, menyusul pecahnya permusuhan antara kedua negara pada 1970-an.

Beberapa hari setelah kecelakaan Ethiopian Airlines yang jatuh pada 10 Maret 2019, pihak perusahan mengumumkan sedang menyelesaikan persiapan untuk meluncurkan penerbangan langsung ke Istanbul pada awal April. Tewolde GebreMariam juga mengungkapkan rencana untuk membuka maskapai negara untuk investasi domestik dan internasional.

Bahkan Tewolde GebreMariam juga meluncurkan ide bahwa maskapai ini seharusnya dimiliki bersama oleh pemerintah Afrika. Menurut Tewolde GebreMariam mengatakan negara-negara Afrika seharusnya tidak membangun maskapai penerbangan tetapi lebih terlibat dalam kemitraan dan menciptakan hubungan terpusat seperti Heathrow London atau Bandara Brussels untuk memfasilitasi perjalanan yang lebih cepat dan lebih mudah.

"Inisiatif Pasar Transportasi Udara Afrika Tunggal yang dipimpin oleh Uni Afrika dapat membantu memfasilitasi ini. Kita harus membereskan rumah kita. Kami membutuhkan kolaborasi untuk menciptakan perusahaan yang bersaing di skala global,” kata Tewolde GebreMariam.

Dalam banyak hal, Ethiopian Airlines aktif mengambil bagian dalam memperluas jangkauan. Selain membantu memudahkan pemrosesan visa ke Etiopia, saat ini maskapai itu memiliki pembagian kode dengan 27 maskapai penerbangan di seluruh dunia, menjalankan akademi penerbangan terbesar Afrika, menyediakan pemeliharaan teknis untuk operator di Afrika dan Timur Tengah, dan terbang ke lebih dari 61 tujuan di Afrika saja.

Pernyataan Tewolde GebreMariam datang ketika maskapai itu bergulat dengan insiden paling mematikan dalam sejarahnya setelah jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines Boeing 737 Max 8 yang menewaskan semua 157 orang di dalamnya. Kecelakaan itu telah membuat ketegangan pada koneksi maskapai yang sudah lama ada dengan Boeing, terutama setelah kemiripan dicatat dengan crash Oktober Lion Air di Indonesia.



Sumber: Quartz Africa/Suara Pembaruan