Presiden Afsel Desak Tuntuk Pelaku Serangan Terhadap Imigran

Presiden Afsel Desak Tuntuk Pelaku Serangan Terhadap Imigran
Cyril Ramaphosa ( Foto: Istimewa )
Jeany Aipassa / JAI Selasa, 2 April 2019 | 16:14 WIB

Cape Town, Beritasatu.com - Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, mendesak agen penegak hukum untuk mengidentifikasi dan menuntut pelaku serangan terhadap imigran yang terjadi baru-baru ini.

Cyril Ramaphosa mengutuk serangan itu dan mengatakan tidak ada pembenaran untuk kriminalitas di negara yang dipimpinnya.

Ratusan orang asing diusir dari rumah mereka dan beberapa dari bisnis mereka dijarah oleh pemrotes yang marah di Kota Durban dalam seminggu terakhir. Beberapa imigran berlindung di kantor polisi dan masjid demi keamanan.

Beberapa imigran Malawi melarikan diri ketika protes di provinsi KwaZulu-Natal berubah menjadi kekerasan, dengan demonstran mengklaim bahwa imigran telah mengambil pekerjaan dan bisnis yang diperuntukkan bagi warga negara.

Kekerasan anti-imigran terjadi ketika Afrika Selatan merayakan 25 tahun kebebasan pasca-apartheid, kata Presiden, seraya menambahkan bahwa negara itu berutang kebebasannya kepada dukungan negara-negara Afrika lainnya,

"Perkembangan Afrika tergantung pada peningkatan pergerakan orang, barang dan jasa antara berbagai negara yang bermanfaat bagi kita semua. Kami tidak akan membiarkan penjahat mengatur kembali proses ini," kata Cyril Ramaphosa.

Akibat serangan terhadap imigran, Menteri Hubungan Internasional Afrika Selatan Lindiwe Sisulu dan pihak kepolisian mengadakan pertemuan mendesak dengan duta besar dari negara-negara Afrika lainnya untuk membahas masalah keamanan yang timbul dari serangan tersebut.

Afrika Selatan dalam beberapa tahun terakhir kerap mengalami kekerasan yang dilatarbelakangi xenophobia. Pada 2015 beberapa imigran terbunuh dan dan ribuan imigran lainnya melarikan diri ketika serangan xenophobia mencapai puncaknya di seluruh negeri.

Pada 2008, sejumlah orang terbunuh dan ribuan mencari perlindungan di kamp-kamp sementara dalam gelombang serangan xenophobia sporadis di Afrika Selatan.



Sumber: Suara Pembaruan/CNN