Demi Perdamaian, Paus Cium Kaki Pemimpin Sudan Selatan

Demi Perdamaian, Paus Cium Kaki Pemimpin Sudan Selatan
Paus Fransiskus mencium kaki Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir, sambil memohon agar pemerintah menjaga perdamaian di negara itu. ( Foto: Istimewa )
Jeany Aipassa / JAI Jumat, 12 April 2019 | 14:49 WIB

Vatikan, Beritasatu.com - Paus Fransiskus, berlutut dan mencium kaki dua pemimpin Sudan Selatan seraya memohon agar keduanya memperbaiki hubugan yang renggang dan menjaga perdamaian di negara itu.

Tindakan dramatis itu dilakukan Paus Fransiskus saat retreat spiritual yang dihadiri Presiden Sudan Selatan, Salva Kiir Mayardit, dan pemimpin oposisi Sudan Selatan, Riek Machar, di Vatikan, Kamis (11/4/2019), hanya beberapa jam setelah militer Sudan melakukan kudeta dan menggulingkan Presiden Omar al-Bashir yang telah 30 tahun berkuasa.

"Aku memohon kepadamu dengan sepenuh hati, tetaplah damai," kata Paus Fransiskus kepada Salva Kiir Mayardit, dan Riek Machar, sambil meletakan tangan di dadanya.

Salva Kiir Mayardit hadir di Domus Sanctae Marthae, kediaman khusus Paus Fransiskus untuk retreat, pada 10-11 April 2019. Selain Salva Kiir Mayardit, hadir pula lima wakil presiden Sudan Selatan yang ditunjuk, dan Riek Machar serta sejumlah pemimpin oposisi.

Justin Welby, Uskup Agung Canterbury, Kepala Persekutuan Anglikan sedunia, juga bergabung dengan Paus Francis dalam retreat itu. Para pemimpin gereja dari negara dan wilayah yang juga ikut menghadiri retreat antara lain, delapan anggota Dewan Gereja Sudan Selatan, Uskup Agung John Baptist Odama dari Gulu, Uganda, dan Pastor Agbonkhianmeghe Orobator Jesuit, Presiden Konferensi Para Pemimpin Besar Afrika dan Madagaskar.

Paus Fransiskus juga meminta Salva Kiir Mayardit dan Riek Machar untuk terus berupaya mempertahankan perdamaian dan bergerak maju menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi negara itu setelah meraih kemerdekaan pada 2011. Keduanya diminta untuk menahan ego dan menyembunyikan perselisihan di depan rakyat Sudan Selatan.

"Saya memohon dari lubuk hati saya, mari kita maju. Maju, maju, dan selesaikan masalah. Anda telah memulai suatu proses. Semoga ini berakhir dengan baik. Akan ada pergulatan, perselisihan, di antara Anda. Tapi biarkan ini hanya di dalam kantor. Ketika di depan rakyat, Anda harus berpegangan tangan, bersatu, sehingga bagi warga negara dan rakyat kecil, Anda menjadi bapak bangsa,"kata Paus Fransiskus.

Sudan Selatan memperoleh kemerdekaan dari Sudan pada 2011. Namun pada Desember 2013, negara tersebut digoncang oleh perang saudara yang menewaskan sedikitnya 400.000 orang dan menyebabkan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal dan telantar.

Di bawah Perjanjian Revitalisasi Resolusi Konflik di Sudan Selatan, para pemimpin itu akan berkuasa pada 12 Mei 2019, saling berbagi kekuasaan, dan mengakhiri konflik bersenjata antara klan dan di antara masyarakat.

Dalam pidato resminya, Kamis (11/4/2019), Paus Fransikus mendefinisikan tujuan retreat sebagai salah satu dari upaya untuk "berdiri bersama di hadapan Tuhan dan melihat kehendak-Nya" guna mendapat kedamaian.

Dia mengingatkan otoritas sipil dan gerejawi yang hadir tentang tanggung jawab bersama mereka yang besar untuk masa kini dan masa depan orang-orang di Sudan Selatan. Dia juga memuji berbagai inisiatif ekumenis Dewan Gereja Sudan Selatan atas nama rekonsiliasi dan perdamaian, dan merawat orang miskin yang terpinggirkan.



Sumber: New York Times/VoA/Suara Pembaruan