Dewan Militer Sudan Janji Tidak Bubarkan Massa Demonstran

Dewan Militer Sudan Janji Tidak Bubarkan Massa Demonstran
Foto dokumentasi pada 20 Desember 2018 ini memperlihatkan para demonstran Sudan meneriakkan slogan-slogan saat unjuk rasa, di Khartoum, Sudan. ( Foto: AP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 15 April 2019 | 18:14 WIB

Khartoum, Beritasatu.com- Dewan militer sementara Sudan telah menangkap sejumlah anggota bekas pemerintahan sebelumnya dan berjanji tidak membubarkan para demonstran. Dari pihak kelompok utama demonstran sendiri menuntut penyerahan kekuasaan secepatnya kepada pemerintahan sipil sementara atau mengancam akan terus melakukan aksi unjuk rasa di jalanan.

Asosiasi Profesional Sudan (SPA) telah menyerukan untuk membentuk dewan transisi yang dilindungi oleh angkatan bersenjata. Dewan itu dipastikan memberikan semua bentuk tekanan damai untuk mencapai tujuan revolusi.

Dewan militer yang mengganti Presiden Omar al-Bashir, yang dilengserkan pada Kamis (11/4) oleh militer setelah berkuasa selama tiga dekade, mengumumkan serangkaian keputusan baru pada Minggu (14/4) malam. Di antaranya, pensiunnya Menteri Pertahanan Awad Ibn Auf dan wakilnya. Ibn Auf mundur sebagai kepala dewan transisi setelah pemecatan Bashir.

Dewan militer juga menunjuk Letnan Jenderal Abu Bakr Mustafa sebagai kepala intelijen untuk menggantikan Salah Abdallah Mohamed Salah atau Salah Gosh yang mundur pada Jumat (12/4). Juru bicara dewan militer juga mendesak oposisi untuk menunjuk perdana menteri (PM) selanjutnya.

Aksi protes berbulan-bulan di Sudan telah membuat pemimpin Omar al-Bashir akhirnya mundur, Kamis lalu. Para demonstran bersumpah untuk tetap berada di jalan sampai ada peralihan kekuasaan kepada sipil.

Dalam konferensi pers, Minggu, juru bicara dewan militer Mayjen Shams Ad-din Shanto mengatakan pihaknya siap menerapkan apa pun kesepakatan dari pihak oposisi dari kalangan sipil.

“Kami tidak akan menunjuk PM. Mereka yang pilih,” katanya.

Shanto juga memastikan tidak akan memindahkan demonstran dari jalan-jalan dengan kekuatan militer. Tapi dia mendesak pengunjuk rasa agar mengembalikan rutinitas normal dan berhenti memasang penghalang di jalan-jalan.

“Mengangkat senjata tidak ditoleransi,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan