Partai Mandela Diperkirakan Menang Pemilu Afsel

Partai Mandela Diperkirakan Menang Pemilu Afsel
Ratusan pemilih Afrika Selatan menunggu dalam antrean panjang di luar TPS Durban pada hari Rabu. ( Foto: AFP / Rajesh Jantilal )
Jeany Aipassa / JAI Kamis, 9 Mei 2019 | 15:15 WIB

Cape Town, Beritasatu.com - Partai African National Congress (ANC) yang didirikan tokoh revolusioner antiapartheid Afrika, Nelson Mandela, diperkirakan memenangkan pemilihan umum (pemilu) Afrika Selatan (Afsel) yang berlangsung pada Rabu (8/5/2019). 

Pemilu tersebut dilaksanakan sesuai hasil referendum, setelah Presiden Jacob Zuma mengundurkan diri pada 2018 di tengah tuduhan korupsi yang meluas.

Sejumlah analis menilai ANC akan mempertahankan mayoritas kursi parlemen dan margin untuk kemenangan di berbagai provinsi di Afsel.

Meski demikian, ANC menghadapi tekanan seiring dengan kepemimpinan partai tersebut selama beberapa dekade yang telah diwarnai dengan korupsi yang merajalela, sehingga menimbulkan gerakan yang memaksa Presiden Jacob Zuma mengundurkan diri pada 2018. 

Jacob Zuma digantikan oleh wakil presiden Afsel, Cyril Ramaphosa, penerus asli Mandela yang dipilih. Presiden Cyril Ramaphosa berjanji untuk terus meningkatkan taraf hidup rakyat Afsel di tengah tekanan krisis ekonomi.

Meskipun merupakan negara dengan ekonomi terbesar kedua di Afrika, Afsel memiliki tingkat pengangguran sekitar 27% dan pertumbuhan produk domestik bruto per kapita telah "mendekati nol sejak 2014" menurut Bank Dunia.

Ketimpangan tetap terjadi meskipun apartheid berakhir. Pada 2015, 10% populasi terkaya di Afrika Selatan memiliki 71% kekayaan bersih, sementara 60% populasi terbawah memegang 7%.

Pada kampanye ANC baru-baru ini, Cyril Ramaphosa juga meminta maaf atas kesalahan partainya. "Kami mengakui bahwa kami telah melakukan kesalahan dan menempatkan diri kami di depan orang-orang kami dan mendukung kami," kata Cyril Ramaphosa. 

Sebagai upayanya untuk terpilih, yang akan memberinya masa jabatan lima tahun sebagai presiden, Cyril Ramaphosa bersumpah untuk memerangi korupsi.

Para pengamat mengatakan kemenangan ANC masih mengandalkan "Ramaphori", yaitu kesetiaan pemilih terhadap Cyril Ramaphosa yang merupakan trah dari Nelson Mandela. Para pemilih tampaknya siap untuk memberikan kesempatan kepada Cyril Ramaphosa.

Dalam pemilu Afsel, Cyril Ramaphosa berhadapan dengan Mmusi Maimane, yang memimpin partai oposisi utama negara itu, yakni Democratic Alliance (DA).

Dalam kampanyenya, Mmusi Maimane menuduh ANC melakukan korupsi endemik dan gagal sepenuhnya memenuhi kebutuhan perumahan, pekerjaan, distribusi tanah, dan kebutuhan dasar lainnya.

Kandidat oposisi lainnya, Julius Malema, yang keluar dari ANC pada 2012 dan mendirikan partai Economic Freedom Fighters (EFF) pada 2013. Partai Julius Malema juga diperkirakan akan mendapatkan dukungan sesuai dengan prediksi jajak pendapat.

Dalam kampanyenya, Julius Malema, yang dulunya adalah anak didik Zuma, mendukung pengambilalihan tanah putih tanpa kompensasi bagi pemiliknya.

Namun sebaliknya, Cyril Ramaphosa mendorong amandemen Konstitusi untuk memungkinkan perampasan tanah seperti itu. Cyril Ramaphosa mengatakan reformasi akan terjadi dengan cara yang mempertimbangkan kepentingan semua orang. Hal ini akan membuatnya mendapat dukungan suara kulit putih Afsel.

Meskipun dianggap sebagai pemilu yang akan membawa perubahan, banyak anak muda Afsel yang tidak berpartisipasi dalam pemilu. LSM Tessa Dooms mengatakan jumlah pemilih muda berusia antara 18-20 tahun hanya berjumlah sekitar 20%.



Sumber: NPR/Al Jazeera/Suara Pembaruan