4 Tewas dalam Serangan di Gereja Burkina Faso

4 Tewas dalam Serangan di Gereja Burkina Faso
Seorang tentara berpatroli di luar hotel setelah serangan ekstremis mematikan di Ouagadougou, Burkina Faso, pada Januari 2016. ( Foto: AFP/Getty Images / Issouf Sanogo )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Senin, 27 Mei 2019 | 16:44 WIB

Ouagadougou, Beritasatu.com- Empat orang tewas dalam suatu serangan di gereja Katolik di utara Burkina Faso, negara di Afrika Barat. Ini menjadi insiden terbaru dalam serangkaian serangan di rumah-rumah ibadah Kristen di kawasan itu.

“Masyarakat Kristen Toulfe menjadi target serangan teroris saat berkumpul dalam misa hari Minggu,” kata Uskup di Ouahigouya, Justin Kientega, lewat pernyataan pada Minggu (26/5).

Dia mengonfirmasi empat orang tewas dalam serangan itu. Seorang sumber pasukan keamanan menyatakan orang-orang bersenjata berat telah menyerang gereja saat berlangsungnya misa hari Minggu di kota Toulfe, yang berjarak 240 kilometer sebelah barat laut ibu kota Ouagadougou.

“Serangan itu menyebabkan panik di desa dan banyak penduduk mencari perlindunga ke rumah-rumah atau semak-semak,” kata seorang penduduk lokal.

Pekan lalu, seorang pria bersenjata menewaskan empat umat Katolik dalam suatu prosesi keagamaan. Serangan itu terjadi beberapa hari setelah seorang pendeta dan lima orang lainnya dibunuh secara massal.

Belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang mengancam perdamaian antara umat Muslim dan Kristen yang berjumlah seperempat penduduk negara itu. Pemerintah menyalahkan kelompok bersenjata tak bernama yang beroperasi di negara itu dan kawasan sekitar Sahel, Afrika.

Penyergapan dimulai tahun 2015 di sebelah utara sebelum terjadi di Ouagadougou dan kawasan lain, terutama daerah timur. Hampir 400 orang tewas sejak 2015.

Kelompok bersenjata menargetkan para imam Kristen serta para cendekiawan Muslim yang mereka anggap tidak cukup konservatif di negara yang masih tradisional itu.

Prancis telah mengerahkan 4.500 pasukan di Mali, Burkina Faso, Niger, dan Chad lewat misi dengan kode Barkhane untuk membantu pasukan setempat mengusir para penyerang.



Sumber: Suara Pembaruan