Akibat Kekerasan, 20.000 Warga Nigeria Mengungsi ke Niger

Akibat Kekerasan, 20.000 Warga Nigeria Mengungsi ke Niger
Seorang anak laki-laki berjalan melewati sisa-sisa puing rumah di desa yang dibakar oleh Boko Haram di pinggiran Maiduguri. ( Foto: AFP / Audu Ali Marte )
Unggul Wirawan / JAI Rabu, 29 Mei 2019 | 14:56 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Kekerasan di barat laut Nigeria telah memaksa sekitar 20.000 pengungsi melarikan diri ke negara tetangga Niger sejak April 2019.

Pada Selasa (28/5/2019), badan pengungsi Perserikatan Bangsa Bangsa (UNHCR) menyuarakan keprihatinan tentang memburuknya kondisi keamanan di negara Afrika Barat itu.

"Ini bukan Boko Haram yang terkait dengan cara apa pun," kata juru bicara UNHCR Babar Baloch dalam konferensi media, di Jenewa, Swiss, Selasa (28/5/2019).

Di Nigeria, militer dan polisi telah dikerahkan untuk mengatasi geng kriminal di balik serentetan pembunuhan dan penculikan. Pasukan keamanan telah ditarik untuk mengatasi pemberontakan selama satu dekade oleh kelompok milisi Islam Boko Haram di timur laut.

"Orang-orang dilaporkan melarikan diri karena berbagai alasan, termasuk bentrokan antara petani dan penggembala kelompok etnis yang berbeda, main hakim sendiri, serta penculikan untuk uang tebusan," tambah Babar Baloch.

Pengumuman itu datang sehari sebelum pelantikan Presiden Muhammadu Buhari. Mantan pemimpin militer itu mendapatkan masa jabatan kedua dalam pemilihan Februari yang menjanjikan akan meningkatkan keamanan.

Senat, majelis tinggi negara itu, bulan lalu meningkatkan anggaran 2019 sebesar 80 miliar naira (US$ 261 juta) mengutip perlunya tambahan pengeluaran untuk keamanan di seluruh negeri.

Baloch mengatakan para pengungsi yang tiba di wilayah Maradi selatan Niger telah melaporkan serangan parang, penculikan, dan kekerasan seksual.

Perampokan telah menjangkiti bagian barat laut selama bertahun-tahun, khususnya di sekitar negara bagian Zamfara dan perbatasannya dengan negara bagian Kaduna. Persoalanitu diperburuk pula serentetan penculikan dan pembunuhan baru-baru ini yang telah menjadi perhatian publik.

Pihak berwenang menghentikan penambangan di Zamfara pada April di tengah kekhawatiran bahwa penambang ilegal terhubung dengan peningkatan kekerasan.

Bentrokan antara komunitas pertanian dan penggembala nomaden atas tanah yang semakin menipis di Nigeria kerap terjadi pada tahun lalu. Bentrokan itu menewaskan lebih banyak orang daripada konflik Boko Haram, menurut LSM Lokasi Konflik Bersenjata dan Proyek Data Acara.



Sumber: Reuters/Suara Pembaruan