Militer Sudan Dikecam setelah 30 Demonstran Tewas

Militer Sudan Dikecam setelah 30 Demonstran Tewas
Para demonstran berkonvoi menuju markas militer di Khartoum, Sudan. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Selasa, 4 Juni 2019 | 10:01 WIB

Khartoum, Beritasatu.com- Militer Sudan telah menuai kecaman atas serangan kekerasan mereka terhadap demonstran di ibu kota Sudan, Khartoum, Senin (3/6). Tindakan represif itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 30 orang.

Seperti dilaporkan BBC, Selasa (4/6), Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan penyelidikan independen. Dia mengaku "terkejut" oleh laporan bahwa petugas melepaskan tembakan di satu rumah sakit.

Amerika Serikat (AS) menyatakan tindakan militer Sudan adalah "serangan brutal", sedangkan Inggris menyebutnya "keterlaluan".

Sudan telah diperintah oleh dewan militer sejak Presiden Omar al-Bashir digulingkan dalam kudeta pada bulan April.

Para pemimpin gerakan pro-demokrasi, yang menuntut agar pemerintah sipil mengambil alih pemerintahan negara itu, mengatakan mereka menghentikan semua kontak dengan Dewan Militer Transisi (TMC) dan melakukan pemogokan massal.

Dalam pernyataan yang dibacakan di televisi nasional, dewan militer menyatakan "kesedihannya atas meningkatnya peristiwa". Dewan menyatakan operasi itu menargetkan "pembuat masalah dan penjahat kecil". Tindakan militer didedikasikan untuk melindungi warga sipil.

Sebelumnya, para aktivis mengatakan pasukan keamanan telah mengepung satu rumah sakit di Khartoum dan melepaskan tembakan ke rumah sakit lain.

Komite Sentral Dokter Sudan, yang dekat dengan para pengunjuk rasa, mengatakan 30 orang telah terbunuh, termasuk seorang anak berusia delapan tahun. Jumlah korban tewas itu kemungkinan akan meningkat karena tidak semua korban dilaporkan.



Sumber: Suara Pembaruan