Oposisi Sudan Tolak Tawaran Berunding

Oposisi Sudan Tolak Tawaran Berunding
Para pemrotes Sudan memblokade jalan di Khartoum dengan membakar ban dan memasang batu-batu ketika militer berusaha membubarkan unjuk rasa di luar markas tentara Sudan. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 6 Juni 2019 | 08:09 WIB

Khartoum, Beritasatu.com- Aktivis oposisi Sudan telah menolak tawaran pembicaraan dari dewan militer negara itu. Seperti dilaporkan BBC, Rabu (5/6), oposisi menyatakan dewan militer Sudan idak dapat dipercaya di tengah penumpasan kekerasan terhadap pengunjuk rasa.

Pada Rabu (5/6), dokter yang terkait dengan oposisi mengatakan setidaknya 100 orang telah tewas oleh unit paramiliter di ibu kota, Khartoum.

Mereka mengatakan 40 mayat ditarik dari Sungai Nil di Khartoum pada hari Selasa. Kepada BBC, warga mengatakan bahwa mereka hidup dalam ketakutan di ibu kota.

Wakil kepala dewan militer membela penindasan dengan kekerasan, mengklaim bahwa para pengunjuk rasa telah disusupi oleh unsur-unsur jahat dan pengedar narkoba.

"Kami tidak akan membiarkan kekacauan dan kami tidak akan kembali pada hukuman kami. Tidak ada jalan untuk mundur. Kami harus memaksakan penghormatan negara oleh hukum," kata Mohammed Hamadan - juga dikenal sebagai Hemedti - pada hari Rabu.

Sejumlah laporan dari Khartoum mengatakan unit paramiliter, yang disebut sebagai Pasukan Dukungan Cepat (RSF), masih berkeliaran di jalan-jalan kota yang hampir sepi, dengan sasaran warga sipil.

Sebelumnya dikenal sebagai milisi Janjaweed, RSF mendapatkan ketenaran karena kekejaman brutal dalam konflik Darfur di Sudan barat pada tahun 2003.

Sudan telah dikontrol oleh dewan militer sejak protes pro-demokrasi menyebabkan tergulingnya Presiden veteran Omar al-Bashir pada April, setelah 30 tahun berkuasa otoriter.



Sumber: Suara Pembaruan