Perwakilan AS Kunjungi Sudan di Tengah Protes Memanas

Perwakilan AS Kunjungi Sudan di Tengah Protes Memanas
Para demonstran berkonvoi menuju markas militer di Khartoum, Sudan. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Natasia Christy Wahyuni / FER Selasa, 11 Juni 2019 | 18:54 WIB

Khartoum, Beritasatu.com - Diplomat tinggi Amerika Serikat (AS) untuk Afrika berangkat ke Sudan pekan ini di tengah kerusuhan akibat aksi protes massa. Tibor Nagy, selaku asisten sekretaris untuk Afrika, akan menyerukan penghentian penyerangan terhadap warga sipil.

Para pekerja Sudan menggelar mogok nasional dimulai hari Minggu (9/6/2019) untuk menekan pemerintahan militer yang berkuasa dan membuka jalan bagi penguasa sipil.

Empat orang tewas dalam aksi mogok hari pertama setelah pasukan keamanan menembakkan gas air mata dan amunisi hidup. Kementerian Luar Negeri AS menyatakan Nagy akan mendesak para pihak untuk bekerja menciptakan lingkungan yang memungkinkan pembicaraan diantara kedua belah pihak.

Nagy juga akan membicarakan situasi dengan Perdana Menteri (PM) Ethiopia Abiy Ahmed, yang telah berusaha melakukan mediasi antara dewan militer dan oposisi di Sudan. Itu dilakukan sebelum Ahmed pergi ke Mozambik dan Afrika Selatan.

Pada Senin (10/6/2019), suasana tenang terjadi di Khartoum, meskipun beberapa usaha mulaii buka kembali dan sejumlah bis mulai beroperasi setelah protes massa berkepanjangan. Sebagian besar toko, pasar, dan bank di ibu kota, serta sejumlah kota lainnya, masih tutup hari Senin sesuai instruksi dari Asosiasi Profesional Sudan (SPA), yaitu oposisi pro-demokrasi.

SPA menyerukan pemogokan setelah 100 demonstran damai tewas oleh kelompok paramiliter, Pasukan Pendukung Cepat (RSF) pada 3 Juni 2019.

"Gerakan pembangkangan sipil akan dimulai hari Minggu dan hanya berakhir ketika pemerintah sipil mengumumkan dirinya berkuasa di televisi pemerintah,” sebut pernyataan SPA.

Sebelumnya, pemimpin pemberontak Sudan, Yasir Arman, menyatakan, dirinya bersama dua rekannya telah dideportasi secara paksa dari Khartoum pada hari kedua aksi pembangkangan sipil nasional oleh para demonstran. Ketiganya adalah anggota dari Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan-Utara (SPLM-N) yaitu salah satu kelompok pemberontak utama.

SPLM-N juga merupakan bagian dari aliansi untuk mendorong penyerahan kekuasaan kepada pemerintah sipil setelah militer menggulingkan Presiden Omar al-Bashir pada April lalu. Arman baru kembali ke Sudan bulan lalu setelah bertahun-tahun berada di pengasingan setelah dijatuhi hukuman mati secara in absentia.

Arman ditahan pada Rabu lalu setelah kembali dari pengasingan pasca penggulingan Bashir. Dua rekan lainnya yang ditahan adalah sekjen SPLM-N Ismail Jallab dan juru bicara Mubarak Ardol.



Sumber: BBC, The Guardian