PBB Serukan Investigasi Transparan Kematian Morsi

PBB Serukan Investigasi Transparan Kematian Morsi
Presiden Islamis Mesir yang digulingkan Mohammed Morsi, mengenakan seragam merah, memberi isyarat dari balik jeruji besi selama persidangannya di akademi kepolisian Kairo pada 23 April 2016. ( Foto: AFP / KHALED DESOUKI )
Jeanny Aipassa / WIR Kamis, 20 Juni 2019 | 09:21 WIB

Jenewa, Beritasatu.com- Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (Office of the United Nations High Commissioner for Human Right/OHCHR), Selasa (18/6), menyerukan penyelidikan segera terkait kematian mantan presiden Mesir, Mohamed Morsi.

OHCHR menyatakan, penyelidikan harus dilakukan "menyeluruh dan transparan" termasuk untuk semua aspek perawatan Morsi selama hampir enam tahun dipenjara.

"Penyelidikan harus dilakukan oleh pengadilan atau otoritas kompeten lainnya yang independen dan diberi mandat untuk melakukan investigasi yang cepat, tidak memihak, dan efektif mengenai keadaan dan penyebab kematiannya (Mohamed Morsi, Red)," kata juru bicara OHCHR, Rupert Colville, dalam pernyataan resmi, di Jenewa, Selasa.

Menurut dia, investigasi menyeluruh perlu dilakukan mengingat ada dugaan pengabaian terhadap kondisi kesehatan Morsi dan perawatan selama masa penahanannya.

Morsi dilaporkan menderita sejumlah penyakit, seperti hipertensi dan gangguan ginjal. Pihak keluarga dan aktivis menduga Morsi tidak mendapat akses perawatan medis yang memadai selama di tahanan.

"Kekhawatiran telah dikemukakan mengenai kondisi kesehatan Morsi saat dipenjara, termasuk akses ke perawatan medis, serta akses yang memadai ke pengacara dan keluarganya," ujar Colville.

Badan-badan HAM, Amnesty International dan Human Rights Watch (HRW) juga menyerukan penyelidikan yang kredibel atas dan menuding pemerintah Mesir bertanggung jawab atas kematian Morsi.

"Pemerintah Mesir hari ini memikul tanggung jawab atas kematian Morsi, mengingat kegagalan mereka untuk memberinya perawatan medis yang memadai atau hak-hak dasar sebagai tahanan," bunyi pernyataan HRW.

Perlakuan Buruk

Tak hanya itu, HRW bahkan mengutuk Pemerintah Mesir terkait kematian Morsi yang menurut mereka sudah dapat diprediksi karena perlakuan yang buruk terhadapnya selama di tahanan.

"Pemerintah Mesir telah mengetahui dengan sangat jelas tentang kondisi medisnya yang menurun. Dia telah kehilangan banyak berat badan, dia pingsan di pengadilan beberapa kali dan ditahan di sel isolasi hampir sepanjang waktu. Dia berada di penjara dan diperlakukan lebih buruk daripada kondisi yang sudah mengerikan bagi para tahanan Mesir," kata Sarah Leah Whitson, Direktur Eksekutif Divisi HRW di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Morsi meninggal pada Senin (17/6), saat menghadiri persidangan kasus spionase yang didakwakan terhadapnya. Dia terjatuh di ruang sidang dan pingsan kemudian dilarikan ke rumah sakit namun tak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia.



Sumber: Suara Pembaruan