Serangan Udara di Tripoli, 5 Dokter Tewas

Serangan Udara di Tripoli, 5 Dokter Tewas
Asap membumbung tinggi setelah serangan udara di dekat tank tempur dan truk milik pasukan yang setia kepada pasukan GNA Libia. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 29 Juli 2019 | 11:08 WIB

Tripoli, Beritasatu.com- Serangan udara oleh pasukan yang setia kepada komandan militer Khalifa Haftar di dekat ibu kota Libia, Tripoli menewaskan lima dokter. Pengumuman itu disampaikan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Minggu (28/7).

"Rumah sakit lapangan yang terletak di jalan bandara [Tripoli selatan] dilanda serangan udara," kata juru bicara kementerian kesehatan Lamine al-Hashemi.

Al Hashemi mengatakan lima dokter tewas dan tujuh orang lainnya, termasuk tim penyelamat, terluka" dalam serangan hari Sabtu yang menurut al-Hashemi dilakukan oleh pesawat perang Haftar.

Jenderal Khalifa Haftar yang Tentara Nasional Libia-nya (LNA) mendapat dukungan Prancis, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan Rusia, melancarkan serangan pada awal April untuk merebut kendali Tripoli.

Pasukan Pro-GNA memulai serangan awal dan sejak itu pertempuran tetap menemui jalan buntu di pinggiran ibu kota. Sementara kedua belah pihak melakukan serangan udara dalam beberapa hari terakhir.

Tidak ada konfirmasi atau penolakan tanggung jawab langsung dari pasukan Haftar.
Serangan hari Sabtu adalah peristiwa yang ketiga yang menargetkan rumah sakit di selatan Tripoli.

Menuruut Al Jazeera, sejak awal, serangan Haftar pada bulan April menyasar fasilitas medis, termasuk rumah sakit lapangan dan ambulan. Para pekerja medis menunjukkan sisa-sisa roket berpemandu yang mengenai fasilitas itu. Mereka mengatakan bahwa roket itu kemungkinan besar diluncurkan dari satu pesawat nirawak. Diketahui, roket UEA telah mendukung pasukan Haftar sejak awal pertempuran.

Pada 16 Juli, tiga dokter dan seorang paramedis terluka dalam serangan udara di Rumah Sakit Swani di dekat Tripoli, yang kedua kalinya menjadi sasaran.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan kelompok-kelompok hak asasi manusia telah berulang kali meminta kedua belah pihak dalam konflik untuk menyelamatkan personel medis, klinik dan rumah sakit.



Sumber: Suara Pembaruan