Polisi Nigeria Bebaskan 150 Siswa yang Disiksa di Sekolah

Polisi Nigeria Bebaskan 150 Siswa yang Disiksa di Sekolah
Sejumlah siswa sekolah agama dibebaskan aparat polisi setelah mereka disiksa dan dianiaya di Nigeria utara. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Minggu, 20 Oktober 2019 | 18:44 WIB

Abuja, Beritasatu.com- Aparat kepolisian membebaskan hampir 150 siswa dari sekolah di Nigeria utara. Seperti dilaporkan Al Jazeera, Minggu (20/10), operasi pembebasan ini merupakan yang keempat dalam sebulan. Dengan demikian, total siswa yang dirilis dari sekolah-sekolah agama di Nigeria utara menjadi lebih dari 1.000 anak.

Pada Sabtu (19/10), polisi mengatakan aparat telah membebaskan hampir 150 siswa dari satu sekolah yang mengklaim telah mengajarkan Al-Quran tetapi sebaliknya justru menyiksa anak-anak.

Tindakan ini merupakan operasi polisi yang keempat dalam sebulan dan membuat jumlah siswa yang dibebaskan dari sekolah-sekolah agama di Nigeria utara menjadi lebih dari 1.000 anak.

Serangan itu akan memberi tekanan lebih besar kepada Presiden Muhammadu Buhari untuk mengambil tindakan terhadap sekolah-sekolah Islam yang diatur secara longgar bernama Almajiris, yang menurut para ahli mengajar jutaan anak-anak di sebagian besar Muslim di Nigeria utara.

Gubernur negara bagian Kaduna, Nasir El Rufai, memerintahkan penggerebekan sekolah reformasi Islam di Rigasa, Para siswa yang ditawan dikumpulkan kemudian di satu kamp. Mereka berbaris dengan seragam merah marun ketika para pejabat negara mengumpulkannya.

“Tidak seperti sekolah-sekolah lain, setidaknya 22 dari 147 siswa yang dibebaskan adalah perempuan,” kata Hafsat Baba, komisaris Kaduna untuk layanan kemanusiaan mengatakan kepada Reuters.

Kondisi para siswa yang dibebaskan tidak jelas.

Seorang pejabat mengatakan bahwa sekolah itu dimiliki oleh orang yang sama yang memiliki salah satu sekolah yang digerebek di negara bagian Katsina yang berdekatan awal pekan ini. Para pengurusnya telah ditangkap oleh polisi.

Anak-anak itu dibebaskan dari sekolah lain selama sebulan terakhir - termasuk dua minggu ini. Mereka dirantai ke dinding, dipukuli bahkan dianiaya secara seksual.

Di lokasi penggerebekan lain, beberapa orang tua berpikir anak-anak mereka akan dididik dan bahkan membayar uang sekolah. Keluarga lain mengirim anggota keluarga yang nakal atau yang miskin kepada sekolah tersebut untuk disiplin.

Pada Juni lalu, Buhari, yang berasal dari negara bagian Katsina, mengatakan bahwa ia berencana untuk melarang Almajiris. Tapi pada akhirnya dia tidak segera melakukannya.

"Tidak ada pemerintah demokratis yang bertanggung jawab akan mentolerir keberadaan kamar penyiksaan dan pelanggaran fisik terhadap para tahanan atas nama rehabilitasi para korban," bunyi pernyataan kantor Presiden Nigeria.



Sumber: Suara Pembaruan