Libia dan Somalia, Negara Paling Berbahaya untuk Perjalanan

Libia dan Somalia, Negara Paling Berbahaya untuk Perjalanan
Polisi Libia berjaga di samping mobil yang terbakar di lokasi ledakan pada 17 Januari 2015 di luar kedutaan Aljazair di distrik Dahra di ibu kota Libia, Tripoli. ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 20 November 2019 | 20:45 WIB

Singapura, Beritasatu.com-  Libia, Somalia, Sudan Selatan, dan Republik Afrika Tengah adalah negara-negara paling berbahaya di dunia. Menurut Travel Risk Map, empat negara yang semuanya terletak di Afrika itu adalah negara paling berisiko bagi pelancong.

Dibuat oleh para pakar risiko global, International SOS yang berbasis di Singapura, Peta Risiko Perjalanan 2020 ini mengurutkan keselamatan negara di tiga kriteria berbeda yakni: medis, keamanan, dan keselamatan jalan.

Untuk dua kategori pertama, satu negara diberi peringkat lima, sementara keselamatan jalan dinilai dari empat berdasarkan tingkat kematian per 100.000 orang.

Hanya empat negara Afrika itu yang mencetak pita pengaman terendah di setiap kategori: “sangat tinggi” untuk risiko medis perjalanan; "Ekstrem" untuk risiko keamanan perjalanan; dan lebih dari 25 (kematian per 100.000) karena risiko keselamatan jalan.

Di ujung lain spektrum, Islandia, Norwegia, Finlandia, Denmark, Swiss, Luksemburg, Slovenia, Andorra, dan Svalbard. Semua negara itu mencapai tanda keselamatan tertinggi untuk ketiga kriteria.

Inggris mencetak "rendah" untuk risiko medis dan peringkat kematian terendah untuk keselamatan di jalan. Tetapi peringkat Inggris yang "rendah" berubah menjadi "tidak signifikan" dalam kategori risiko keamanan perjalanan.

Negara-negara lain dinilai "ekstrem" untuk risiko keamanan termasuk Mali di barat laut Afrika dan Suriah, Irak, Yaman, dan Afghanistan di Timur Tengah.

Venezuela, Haiti, Korea Utara, Suriah, Irak, Afghanistan, Yaman, Eritrea, Burkina Faso, Niger, Guinea, Sierra Leone, Liberia, Guinea-Bissau, dan Burundi. Semua negara itu mendapat skor "sangat tinggi" untuk risiko medis perjalanan.



Sumber: Suara Pembaruan