Percobaan Penyuapan, Pengamat Nilai Advokat Langgar Kode Etik

Percobaan Penyuapan, Pengamat Nilai Advokat Langgar Kode Etik
Tim penyelamat berjalan melewati kantong jenazah para penumpang di lokasi kecelakaan Ethiopia Airlines dekat Bishoftu, bagian tenggara Addis Ababa, Ethiopia, Minggu (10/3). (Foto: AFP / Michael Tewelde )
/ YUD Rabu, 18 Desember 2019 | 15:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat hukum Petrus Selestinus mengomentari kabar ditangkapnya sejumlah warga negara asal Indonesia oleh aparat berwenang di Nairobi, Kenya atas kasus dugaan penyuapan terkait kompensasi korban kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 di Ethiopia.

Warga negara Indonesia yang bekerja untuk tim pengcara Steve Marks dari Podhurst Orseck, firma hukum di Miami AS itu diduga menyuap pengacara lokal dan anggota keluarga korban. Hal tersebut dilakukan agar Steve Marks dari Podhurst Orseck dapat mengambil alih perwakilan terhadap kasus-kasus itu.

Padahal para korban kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 di Ethiopia disebut sudah menyewa pengacara dari Kenya dan AS.

Menurut Petrus, jika benar kabar tersebut, maka firma hukum yang menyebabkan sejumlah warga negara asal Indonesia yang ditahan itu telah menyalahi kode etik advokat bahkan bisa diskualifikasi dalam tindakan pidana.

"Tindakan para pengacara dari firma hukum tersebut, bukan saja melanggar kode etik tetapi bisa masuk kualifikasi tindak pidana apalagi melakukan percobaan penyuapan terhadap pengacara lokal (Kenya)," kata Petrus melalui keterangan tertulis, Rabu (18/11/2019).

Anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) ini menambahkan, organisasi profesi advokat Indonesia bisa menjatuhkan sanksi etik jika memang terbukti ada pengacara dari Indonesia yang terlibat dan bersalah.

"Organisasi profesi advokat Indonesia harus menyikapi perilaku advokat Indonesia dengan menjatuhkan sanksi etik jika memang terbukti ada pengacara dari Indonesia yang terlibat dan bersalah. lalu mendorong penyelesaian secara pidana di Kenya atau di Indonesia," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah pengacara termasuk 4 orang berkewarganegaraan Indonesia telah ditangkap oleh aparat berwenang di Nairobi, Kenya dengan tuduhan telah menyuap terkait kompensasi korban kecelakaan pesawat Boeing 737 Max 8 di Ethiopia.

Mengutip Viusasanews, empat warga negara Indonesia, yaitu Ivan Henry, Vini Wulandari, Gustavina Komala Gani dan Mohammad Narobby asal Indonesia yang bekerja untuk Steve Marks dari Podhurst Orseck, firma hukum di Miami, Flordia, ditangkap pada 27 November karena percobaan penyuapan dan bekerja secara ilegal di Kenya.

Mereka datang ke Afrika untuk menawarkan sejumlah uang kepada keluarga para korban kecelakaan Penerbangan 302 Ethiopian Airlines untuk memikat mereka untuk mengganti pengacara.

Penerbangan 302 Ethiopian Airlines adalah penerbangan dari Addis Ababa di Etiopia ke Nairobi, Kenya. Pada 10 Maret 2019, pesawat Boeing 737 MAX 8 yang mengoperasikan penerbangan itu jatuh di dekat kota Bishoftu enam menit setelah lepas landas, menewaskan semua 157 orang di dalamnya.

Keluarga para korban yang mereka hubungi sudah menyewa pengacara dari Kenya dan AS. Tujuan mereka adalah untuk menyuap pengacara lokal dan anggota keluarga sehingga Steve Marks dari Podhurst Orseck dapat mengambil alih perwakilan dari kasus-kasus itu.

Polisi dan otoritas imigrasi mencegah warga negara Indonesia tersebut untuk melanjutkan rencana mereka ketika seorang anggota keluarga yang diwakili oleh Firma Hukum Clifford menelepon pihak berwenang.

Seorang warga lokal Kenya bernama Amos direkrut oleh Steve Marks dari firma hukum Podhurst Orseck untuk menghubungi secara tidak etis keluarga-keluarga korban kecelakaan itu menurut komentar yang dibuat oleh Ivan Henry.

Menurut penyelidikan, Vini Walandari akan menghubungi keluarga dengan dalih memberikan berita tentang kasus pengadilan di Chicago dan menawarkan "kenyamanan" untuk kehilangan tragis keluarga korban. Setelah keluarga setuju untuk bertemu dengannya, maka Vini dan rekan-rekannya akan menawarkan uang kepada keluarga korban untuk berganti pengacara.

Ivan Henry mewakili Steve Marks dari Podhurst Orseck akan membayar US$ 30.000,00 kepada pengacara setempat sehingga mereka akan mengakhiri kontrak mereka dengan firma hukum seperti Firma Hukum Clifford dan memberikan kasus mereka kepada Steve Marks dari Podhurst Orseck.

Selain membayar suap kepada pengacara lokal Steve Marks dari Podhurst Orseck juga akan membayar uang muka kepada klien untuk berganti pengacara. Jumlah yang dibayarkan kepada klien bervariasi dari US$ 20.000,00 hingga ratusan ribu dolar tergantung pada nilai kasus mereka.

Selain pembayaran awal untuk beralih pengacara, klien juga dibayar pembayaran bulanan setara dengan gaji penumpang sampai kasus mereka diselesaikan.

Mercy Wambua, Kepala Pejabat Eksekutif Masyarakat Hukum Kenya menyatakan, “Kami marah dengan praktik Steve Marks yang tidak etis dari firma hukum Podhurst Orseck di Kenya. Kami akan mengajukan pengaduan ke Florida dan akan menentukan hukuman yang tepat sesuai peraturan pemerintah Kenya setempat."

Mercy Wambua menambahkan bahwa ini adalah pelanggaran yang sangat serius terhadap aturan hukum dan etika yang dapat menyebabkan pengacara ini diberhentikan dan diproses secara hukum pidana



Sumber: BeritaSatu.com