Peringatan WHO: Covid-19 Bisa Infeksi 44 Juta di Afrika

Peringatan WHO: Covid-19 Bisa Infeksi 44 Juta di Afrika
Ilustrasi pemeriksaan Covid-19 di laboratorium. ( Foto: AFP )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 9 Mei 2020 | 06:03 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Sebanyak 44 juta orang di Afrika berpotensi terinfeksi virus corona (Covid-19) pada tahun pertama pandemi jika tindakan penahanan gagal dilakuan. Hal ini menyebabkan 83.000 hingga 190.000 kematian menurut pemodelan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mencerminkan kekhawatiran potensi krisis makin meluas.

Penelitian yang dirilis pada Kamis atau Jumat WIB (9/5/2020) oleh WHO Afrika, mengamati 47 negara dengan populasi gabungan 1 miliar orang. WHO juga mencatat perlu tindakan prioritas pada sejumah negara di Aljazair, Afrika Selatan dan Kamerun karena memiilki risiko tinggi.

Sejauh ini Afrika belum terdampak signfikan akibat Covid-19 dibanding negara lain di dunia. Namun minimnya sistem perawatan kesehatan dan rentannya ekonomi di beberapa negara membuat para pejabat kesehatan khawatir. Sebuah studi WHO pada Maret memperkirakan kapasitas ruang intensive care unit (ICU) rumah sakit rata-rata hanya sembilan tempat tidur per 1 juta orang.

Baca jugaTrump Akui Pernah Satu Ruangan dengan Ajudan yang Terinfeksi Corona

Direktur Regional WHO untuk Afrika, Matshidiso Moeti mengatakan hampir 1.000 petugas kesehatan Afrika telah terinfeksi Covid-19. "Kita tahu bahwa sebagian besar negara Afrika kekurangan tenaga kesehatan," katanya.

Di tengah keberhasilan di Namibia dan Seychelles di mana tidak ada kasus baru selama sebulan terakhir berkat pengawasan dan isolasi, WHO memperingatkan rumah sakit bisa kewalahan jika pandemi tidak dikendalikan.

Pemodelan WHO juga mencatat laju penularan yang lebih lambat di Afrika dan kematian yang lebih sedikit dapat menyebabkan pandemi ini berlangsung lama selama beberapa tahun. “Covid-19 kemungkinan tidak akan menyebar cepat secara eksponensial di Afrika seperti halnya di tempat lain di dunia, Covid-19 akan membara di pusat hotspot transmisi,” kata Moeti.

WHO mengatakan Covid-19 dapat menjadi sesuatu yang akrab dalam kehidupan sehari-hari selama beberapa tahun ke depan jika tidak ada pendekatan proaktif oleh banyak pemerintah di kawasan ini. "Kita perlu menguji, melacak, mengisolasi dan merawat," kata Moeti.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Afrika Tembus 50.000

WHO mengatakan rendahnya tingkat penularan di Afrika dikaitkan dengan banyaknya populasi muda yang kemungkinan terinfeksi tanpa gejala. Selain itu, kemampuan mengontrol penyakit menular lainnya seperti HIV dan TBC dinilai lamban.

Pemberlakukan jam malam dan lockdown serta peningkatan langkah kesehatan masyarakat seperti pengawasan, telah membantu menekan penyebaran Covid-19, menurut laporan yang diterbitkan Selasa oleh sebuah koalisi termasuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (the Africa Centres for Disease Control and Prevention/CDC) dan WHO.

Tapi studi itu memperingatkan negara-negara yang mulai memperlonggar lockdown harus menemukan keseimbangan antara mengurangi transmisi lokal sekaligus mencegah gangguan sosial dan ekonomi.

Afrika mungkin sangat rentan, dengan 56 persen dari populasi perkotaan terkonsentrasi di daerah kumuh atau tempat tinggal informal. Hanya 34 persen rumah tangga di Afrika yang memiliki akses ke fasilitas cuci tangan dasar, kata Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika Vera Songwe bulan lalu.

WHO juga mengkhawatirkan Covid-19 dapat menghambat kemajuan menangani penyakit-penyakit endemik lainnya di wilayah ini. Dalam komentar bulan lalu, Moeti memperingatkan bahwa, dalam skenario kasus terburuk, kematian akibat malaria di Afrika Sub-Sahara dapat melebihi 700.000 - dua kali lipat dari 2018, jika layanan pencegahan dan perawatan terganggu akibat Covid-19.

Para pemimpin dunia awal pekan ini, menyerukan upaya internasional untuk memastikan akses yang adil pada vaksin, diagnostik dan perawatan Covid-19, saat nanti tersedia. Para pemimpin Italia, Jerman, Prancis, Belanda, Kanada dan Komisi dan Dewan Eropa menyerukan penguatan sistem kesehatan untuk membuat alat perawatan kesehatan ini tersedia bagi semua, dengan perhatian khusus ke Afrika.

Afrika mencatat lonjakan infeksi virus Covid-19. Pada Jumat (8/5/2020), kasus infeksi di benua Afrika melampaui 50.000 kasus. "Jumlah kasus positif Covid-19 yang dikonfirmasi di seluruh Afrika naik dari 49.352 dari Rabu sore menjadi 51.698 pada Kamis pagi," bunyi laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika.

Dari Nigeria di barat ke Afrika Selatan dan Kenya di timur, kasus Covid-19 mengalami percepatan pada tingkat yang mengkhawatirkan karena sebagian besar negara terlibat dalam pengujian massal.



Sumber: South China Morning Post