Milad Ke-39, Masjid Istiqlal Adakan Pameran Arsip Sejarah

 Milad Ke-39, Masjid Istiqlal Adakan Pameran Arsip Sejarah
Pengunjung mengamati koleksi yang ditampilkan dalam Pameran Arsip Istiqlal, Kaligrafi, dan Mushaf Al Quran di Selasar Utama Teras Raksasa Masjid Istiqlal, Jakarta, 22 Februari 2017. ( Foto: Antara/Aprillio Akbar )
Maria Fatima Bona / CAH Rabu, 22 Februari 2017 | 20:27 WIB

Jakarta - Masjid Istiqlal merayakan milad ke-39. Pengurus masjid bekerjasama dengan Direktorat Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) mengadakan pameran arsip sejarah seputar Masjid Istiqlal yang tidak pernah dimuat dimedia manapun. Pameran ini akan berlangsung mulai dari 22- 27 Februari 2017.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan, pameran ini menampilkan dokumentasi gambar dan foto- foto sejarah masjid Istiqlal yang belum pernah dimuat di media manapun sejak masjid tersebut didirikan. Kata dia, pameran ini diharapkan menguatkan rasa kebhinekaan, rasa saling pengertian dan toleransi antar umat beragama, serta menimbulkan kesadaran jati diri bangsa Indonesia.

“Milad masjid Istiqlal pada22 Februari ini ada pameran arsip kaligrafi. Memang milad itu memunculkan ingatan kolektif bangsa mengenai pembangunan, semangat kekayaan diberikan oleh budaya bangsa salama beberapa abad untuk menguatkan rasa kebhinekaan,”kata Hilmar pada pembukaan Pameran Arsip Sejarah Masjid Istiqal, di Masjid Istiqal, Jakarta, Rabu,(22/2).

Hilmar menambahkan, pameran yang dilakukan pada Milad Masjid Istiqlal merupakan langkah awal mengenalkan kebudyaan bangsa dari keberadaan masjid. Mendatang, akan diadakan festival dan pameran serupa di masjid lain yang ada di Jambi, Aceh, dan Ternate, serta daerah lainnya.

Masjid Istiqlal pada usia yang tidak muda ini, mencatat banyak sejarah. Pasalnya Istiqlal dibangun sebagai simbol dari Kemerdekaan dan persatuan Indonesia. Berdasarkan keterangan tertulis dari Direktorat Kebudayaan, pemancangan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan masjid Istiqlal dilakukan oleh Presiden pertama Indonesia yakni Soekarno pada 24 Agustus 1961. Melalui waktu yang cukup panjang Masjid Istiqlal diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 22 Febrari 1998. Tanggal persemian tersebut ditetapkan sebagai hari Milad Masjid Istiqlal.

Hilmar juga menuturkan, adanya keragamaan dan toleransi karena bentuk masjid Istiqlal ini merupakan rancangan dari aristek Indonesia bernama Friederich Silaban. Ia merupakan seorang perancang yang beragama Kristen Protestan.

Ia memenangkan sayembara pemilihan desian yang diikuti oleh 30 peserta. Pada tahap tersebut ada 22 orang yang memenuhi syarat. Pada selanjutnya dipilih lima terbaik dan Friederich Silaban merupakan pemenang sayembara dengan rancangan sandi Ketuhanan.

Ada pun juri sayambara itu, diketuai oleh Presiden Ir Soekrno dan beranggotakan Ir Rosseno Soerjohadikoesomo, Ir Djoanda Kartawidjaja, Ir Suwardi, Ir Ukar Bratakusumah, Rd Soeratmoko, H Abdul Malik Karim Amrullah, dan H Aboebakar Atjeh Oemar Husein Amin.

Dengan demikian, kata Hilmar, adanya pameran ini menyegarkan kembali atas ingat bangsa tentang pentingnya cita- cita kemerdekaan bangsa dan semangat kebinekaan. Sebab selain dirancang oleh seorang non-muslim, pemilihan lokasi masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral dan Emmanuel adalah lambang kebersamaan dan keberagaman.

“Inilah Indonesia negara yang dibangun dengan dasar kemajemukan dan yang disatukan dengan Pancasila,” kata Hilmar.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengaku, bersyukur mendapat amanah untuk terlibat dalam milad Masjid Istiqlal yang ke-39. Kata dia, pelestarian budaya merupakan program Kemdikbud.

“Kita akan gali terus, kekayaan khasanah Kebudayaan kita. Kita rawat dan difungsikan kembali sebagai sarana budaya untuk meningkatkan kebudayaan negara kita,” kata Muhadjir.

Salah satunya untuk meningkatkan perekonomian nasional melalui budaya yang telah dijadikan industri wisata. Sebab industri wisata sebagai salah satu andalan produksi ekonomi nasional.