Pemprov DKI Disarankan Perketat Aturan Limbah B3

Pemprov DKI Disarankan Perketat Aturan Limbah B3
Kontainer berisi limbah cair yang mengandung bahan berbahaya dan beracun. ( Foto: Antara )
/ FER Sabtu, 5 Januari 2019 | 16:55 WIB

Jakarta - Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis, menyarankan pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuat peraturan yang jelas terhadap penggunaan limbah Spent Bleaching Earth (SBE), serta limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) lainnya yang digunakan untuk pembangunan.

Bahan yang menyerupai dodol itu diduga digunakan sebagai perekat untuk menutupi kebocoran yang ada pada kawasan Rumah Susun (Rusun) Marunda, Jakarta Utara (Jakut).

"Tata kelolanya yang harus dirapikan, Pemprov DKI itu kalau memang sudah tahu begini harus menyiapkan aturan main yang jelas. Barang-barang yang dilarang, bukan berarti membuat masyarakat lebih sulit tapi membuat masyarakat lebih aman. Karena berbahaya, sebaiknya segera dikeluarkan peraturan daerah atau peraturan gubernurnya bahwa ini tidak boleh di kawasan Jabodetabek. Kalau sosialisasi saja tidak cukup, ada efek jera yang seharusnya dihukum itu bukan pembelinya menurut saya tapi penjualnya," jelas Rissalwan di Jakarta, Sabtu (5/1).

Limbah SBE, lanjutnya, akan berbahaya bila terkena air. Meskipun warga sekitar Marunda tidak menggunakan air tanah, namun efek yang ditimbulkan bagi kesehatan tentu kemungkinan ada. Bahan bangunan yang telah dihindari pemakaiannya karena berbahaya misalnya asbes karena serbuknya dapat merusak sistem pernafasan.

"Masyarakat tetap harus diedukasi, dugaan saya ini dipakai untuk menangani kebocoran jadi lebih baik pakai yang agak mahal kayak cat tahan air, daripada beli yang murah tapi berbahaya. Kalau unit rumah kan harusnya pribadi, tapi ini kan lingkungan. Rusun-rusun di sana satu punya pusat dan Pemda DKI, jadi sebaiknya pakai dana Pemda DKI," tambah pengamat konsentrasi lingkungan itu.

Rissalwan juga mengimbau agar pengelola sebaiknya tetap memantau dan memperhatikan agar warga tidak memakai bahan-bahan yang murah tapi berbahaya untuk lingkungan di sekitar rusun.



Sumber: ANTARA
CLOSE