Vokalis Band Zivilia Pengedar Besar

Vokalis Band Zivilia Pengedar Besar
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono (ketiga kanan) dan tersangka vokalis grup band Zivilia, Zulkifli alias Zul (kedua kanan). ( Foto: Antara )
Bayu Marhaenjati / BW Jumat, 8 Maret 2019 | 23:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Vokalis grup band Zivilia, Zulkifli, ternyata termasuk dalam jaringan besar peredaran narkotika jenis sabu-sabu dan ekstasi.

Selain menangkap Zulkifki dan delapan tersangka lainnya, polisi juga menyita barang bukti 50,6 kilogram sabu-sabu dan 54.000 butir ekstasi.

"Kita berhasil mengungkap peredaran narkotika sebanyak 50,6 kilogram sabu-sabu. Kemudian ada 54.000 butir ekstasi," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono, Jumat (8/3).

Dikatakan Gatot Eddy Pramono, jaringan narkotika Zulkifli dan kawan-kawan bekerja dengan sistem sel tertutup.

"Kalau kita ingin mengambil satu rangkaian ceritanya, ada satu aktor di atas, mereka ini bekerja dengan sistem sel tertutup. Ini yang di atas tidak kenal, (saling) tidak kenal. Modusnya, bandar ini memerintahkan pengedar di tempat tertentu, kemudian setelah mengambil, barang ditempatkan di tempat tertentu lagi. Seperti itu yang mereka kerjakan. Jadi mereka ada pembagian-pembagian tugasnya," kata Gatot Eddy Pramono.

Gatot Eddy Pramono menyampaikan, pengungkapan kasus ini bermula dari pengkapan tiga orang tersangka pengedar sabu-sabu berinisial MB alias Dimas (25), RHS (29), dan MRM (25), di Hotel Harris, Jalan Boulevard, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (28/2/2019). Polisi menyita barang bukti 0,5 gram sabu-sabu, tiga handphone dan uang Rp 308 juta.

"Awalnya yang tertangkap hanya disita sebanyak 0,5 gram sabu-sabu. Dari sini dikembangkan dengan penyelidikan, kemudian kami mengungkap kembali di salah satu apartemen," ungkap Gatot Eddy Pramono.

Polisi menangkap empat orang tersangka berinisial MH alias Rian (26), HR alias Andu (28), Z alias Zul -Zulkifli- (38), dan D (26) seorang perempuan, di Apartemen Gading River City, jalan Boulevar Barat Raya, Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara, sekitar pukul 16.30 WIB, Jumat (1/3). "Di sini kita bisa mengungkap sebanyak 9,5 kilogram sabu dan 24.000 butir ekstasi," sebut Gatot Eddy Pramono.

Gatot Eddy Pramono melanjutkan, penyidik kembali melakukan pengembangan dan menggerebek dua lokasi di Palembang, Sumatera Selatan. Pertama, menangkap IPW (25) selaku pengedar atau sub bandar, di Hotel Excelton, Jalan Demang Lebardaun Ilir barat, Palembang, Sumatera Selatan, sekitar pukul 21.00 WIB, Jumat (1/3/2019). Penyidik menyita barang bukti 25,6 kilogram sabu-sabu-sabu, 5.000 butir ekstasi, satu handphone, ATM, dan uang tunai Rp 712.000.

Kedua, penyidik menangkap tersangka RR (25), di Hotel Aston, Jalan Basuki Rahmat, Kemuning, Palembang Sumatera Selatan, sekitar pukul 00.57 WIB, Sabtu (2/3/2019). Barang bukti yang disita berupa 15,453 kilogram sabu-sabu, 25.000 butir ekstasi, satu telepon genggam, dan uang Rp 377.000.

"Ini adalah suatu upaya yang kita lakukan. Pada saat di Palembang kita juga bekerja sama dengan Polda Sumatera Selatan. Saat ini, kita masih mengembangkan lagi kepada pelaku yang belum tertangkap," jelas Gatot Eddy Pramono.

Menyoal apa peran Zulkifli dalam jaringan ini, Gatot Eddy Pramono menyampaikan, bisa dibilang sebagai pengedar.

"Dia bungkus. Kemudian dia mengirimkan kepada tujuannya. Ya pengedarlah istilahnya dia. Karena ini kan ada bandar besar, dia sub-nya di bawah itu," tandas Gatot Eddy Pramono.

Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Suwondo Nainggolan menuturkan, Zulkifli termasuk jaringan pengedar besar bukan pengecer.

"Dia bukan level pengecer. Ada bandar besar, dia pengedar, ada lagi nanti diterima levelnya pengecer. Pengecer itu terbagi lagi menjadi pengecer-pengecer kecil. Biasanya yang berhubungan dengan konsumen itu adalah pengecer-pengecer kecil. Beli 1 gram, 2 gram. Sehingga jarak dia (Zulkifli) dengan pembeli itu jauh, karena dia main kiloan. Hampir tidak ada konsumen yang langsung beli 1 kilo. Itu pasti (kalau beli 1 kilogram) untuk dijual kembali," kata Suwondo Nainggolan.

Akibat perbuatannya, Zulkifli dan kawan-kawan dikenakan Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika, dengan ancaman pidana mati, penjara seumur hidup atau paling singkat 6 tahun, dan paling lama 20 tahun, serta denda paling sedikit Rp 1.000.000.000 atau paling banyak Rp 10.000.000.000.

Lihat video:



Sumber: BeritaSatu.com