Tahun 2018, Palyja Selamatkan 1,9 Juta Meter Kubik Air

Tahun 2018, Palyja Selamatkan 1,9 Juta Meter Kubik Air
Teknisi Palyja memeriksa saluran air bersih. ( Foto: i )
Lenny Tristia Tambun / JAS Sabtu, 27 April 2019 | 11:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Dalam upaya menekan angka tingkat kehilangan air, PT PAM Lyonnaise (Palyja) berupaya melakukan penindakan yang mengakibatkan kebocoran air baik secara fisik maupun komersil.

Presiden Direktur PT Palyja, Robert Rerimassie mengatakan sepanjang tahun 2018 lalu, pihaknya telah berhasil memperbaiki 33.726 titik kebocoran. Kemudian mengganti 30.428 meteran air yang telah rusak dan melakukan tindakan penegakan hukum sebanyak 3.405 kasus penanganan ilegal.

“Ini semua kami lakukan untuk mengurangi tingkat kehilangan air. Memang kita harus bekerja keras untuk menekan tingkat kehilangan air ini. Upaya itu terbukti dalam tahun 2018, kita mampu menyelamatkan 1,9 juta meter kubik air,” kata Robert dalam acara Journalist Workshop Palyja di Yogyakarta, Sabtu (27/4/2019).

Dari angka 3.405 kasus penanganan ilegal, 2.070 di antaranya merupakan penindakan sambungan ilegal. Penindakan ini merupakan upaya penurunan tingkat kehilangan air dari sisi komersial.

Dengan adanya penindakan hukum, lanjutnya, terlihat adanya penurunan kasus sambungan ilegal yang dilakukan warga selama tiga tahun terakhir ini. Terlihat dari tahun 2016, terdapat 2704 kasus sambungan ilegal, kemudian di tahun 2017 menurun menjadi 2.246 kasus sambungan ilegal dan di tahun 2018 ditemukan sambungan ilegal sebesar 2.070 kasus.

“Memang kita harus kejar-kejaran dengan para pelaku. Misalnya kita putus hari ini, terus mereka sambung lagi secara ilegal besoknya. Tapi kita terus lakukan penindakan hukum secara tegas untuk menimbulkan efek jera,” ujar Robert.

Dalam acara yang sama, Direktur Operasional dan Teknik PT Palyja, Wilmart Siburian mengatakan pencurian air paling sering terjadi di Jakarta Utara. "Paling banyak di Jakarta Utara, justru di daerah illegal settlements (permukiman ilegal)," kata Wilmart.

Dicontohkannya, pencurian air di Muara Baru. Pipa distribusi air Palyja dilubangi oknum, kemudian dipasangkan pipa-pipa kecil untuk mendistribusikan air secara ilegal ke rumah-rumah warga. “Contohnya di Muara Baru, air kita dicolongin dari bawah pakai pipa-pipa kecil,” ujar Wilmart.

Untuk menimbulkan efek jera, sambung Wilmart, Palyja tidak hanya melakukan penindakan hukum secara tegas. Juga, menggandeng Direktorat Pengamanan Objek Vital (Obvit) Polda Metro Jaya turut serta dalam penanganan pencurian air dan sambungan ilegal tersebut. Langkah ini sudah dilakukan selama dua tahun terakhir ini.

“Pada tahun 2018, ada 2.070 sambungan ilegal yang tertangkap, langsung diputus dan oknum diusut polisi,” ungkap Wilmart.

Sayangnya, solusi penindakan ini tak menyelesaikan akar masalah warga di permukiman liar yang membuat sambungan ilegal. Wilmart mengakui pihaknya memang tak bisa melayani mereka karena sambungan hanya bisa dibangun di permukiman legal yang membayar pajak bumi dan bangunan (PBB).

"Penanganan sambungan ilegal tidak optimal dikarenakan belum adanya solusi mengenai penyambungan air bersih untuk illegal settlements," terang Wilmart.



Sumber: BeritaSatu.com