Soal Naturalisasi atau Normalisasi, BTP: Pak Gubernur Sekarang Lebih Pintar daripada Saya

Soal Naturalisasi atau Normalisasi, BTP: Pak Gubernur Sekarang Lebih Pintar daripada Saya
Basuki Tjahaja Purnama. ( Foto: Antara )
Lenny Tristia Tambun / JAS Selasa, 30 April 2019 | 22:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Masih terjadinya polemik antara naturalisasi versi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dengan normalisasi versi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) untuk penanganan banjir di Jakarta, mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) tidak mau berkomentar banyak.

Ketika dia ditanya apakan akan memilih naturalisasi atau normalisasi untuk dijadikan solusi yang tepat dalam penanganan banjir di Jakarta, BTP menjawab soal permainan kata, Gubernur DKI yang sekarang lebih pintar darinya.

“Aduh, soal kata-kata begitu, pak Gubernur sekarang lebih pintar dari saya,” kata BTP sambil tertawa di rumah dinas Ketua DPRD DKI, Prasetio Edi Marsudi, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (30/4/2019).

Namun ia mengungkapkan DKI Jakarta sebelum ditinggalkannya sudah sangat siap menghadapi banjir kiriman dari hulu sungai Ciliwung di Bogor, Jawa Barat. "Karena sebenarnya Jakarta itu pompanya sudah cukup oke, tanggul juga sudah oke," ujar BTP.

Hanya saja, pompa-pompa tersebut sering tidak diperhatikan saat musim kemarau. Sementara saat tiba musim hujan, banyak sampah di sungai, situ, maupun embung yang sering menyumbat pompa-pompa air tersebut.

“Tiap kali hujan, Jakarta kan kadang-kadang ada yang buang sampah. Nah sampahnya diupayakan jangan menyumbat. Kalau menyumbat, volume turunnya jadi telat,” terang BTP.

Karena itu, Pemprov DKI dulu sering menurunkan alat berat seperti eskavator untuk mengambil sampah dari dasar maupun permukaan sungai sampai embung yang ada di Jakarta.

"Karena kalau saringan (pompa) ketutup, volume air tidak bisa turun cepat, dan tentu pasukan oranye dulu mesti keliling, pasukan biru juga keliling," ungkap BTP.

Diakuinya, debit air yang dikirim dari hulu sungai Ciliwung yang melintasi Jakarta sebelum menuju hilir sangat luar biasa. Karena itu, sejak memerintah dirinya tak pernah lelah mengingatkan seluruh petugas pintu air dan rumah pompa untuk selalu siaga.

"Jalan jamnya (air) mesti diperhatikan dan dipenuhi, jangan ngidupin pompa telat, kalau kamu telat enggak akan keburu. Saya kira mungkin tergenang itu karena ada pompa yang telat dihidupkan atau datang, tapi saya enggak tahu," tutur BTP.

Pengalamannya sebagai orang yang pernah bekerja di pertambangan, tidak boleh telat untuk menghidupkan pompa air agar dapat menyedot air tepat waktu. Karena kalau air sudah terlanjut tinggi, maka daya kerja pompa tidak akan terasa.

“Saya orang tambamg. Teori di pertambangan, menghidupkan pompanya telah, air akan terlalu tinggi, enggak keburu disedot. Saya kira, mungkin tergenang itu karena ada pompa yang telat, saya enggak tahu lah. Saya sudah hampir dua tahun enggak tahu urusan ini lagi,” papar BTP.



Sumber: BeritaSatu.com