Wali Kota Bogor Sambut Baik Pemindahan Ibu Kota

Wali Kota Bogor Sambut Baik Pemindahan Ibu Kota
Wali Kota Bogor Bima Arya memberikan keterangan pers di Balai Kota Bogor, Jumat (9/11/18). ( Foto: Vento Saundale / vento Saundale )
Vento Saudale / JAS Jumat, 3 Mei 2019 | 14:25 WIB

Bogor, Beritasatu.com – Sebagai daerah penyangga DKI Jakarta, pemerintah Kota Bogor menyambut baik terkait wacana pemindahan Ibu Kota. Dengan demikian, dapat mengurangi beban Bogor sebagai daerah penyangga Ibu Kota.

"Bogor menurut saya diuntungkan kalau ibu kota jadi pindah," kata Wali Kota Bogor Bima Arya, di Balai Kota, Jumat (3/5/2019).

Bima menilai, saat ini banyak warga Bogor yang mempunyai aktivitas atau bekerja di pemerintahan/kementerian di Jakarta. Aktivitas pemerintahan sedikit banyak juga berimbas sehingga ketika Ibu Kota pindah beban Kota Bogor akan berkurang.

Beban Jakarta saat ini memang sudah semakin berat karena menjadi pusat bisnis dan pemerintahan. Di sisi lain juga masalah klise seperti banjir dan kemacetan juga belum terselesaikan.

Daya dukung Jakarta sebagai ibu kota sudah semakin lemah. Sehingga kajian mengenai rencana pemindahannya harus segera di lakukan karena prosesnya membutuhkan waktu yang cukup lama.

Banyak juga yang harus di siapkan baik dari sisi kebijakan, keuangan bahkan undang-undang tentang wilayah sekitaran ibu kota.

Bima Arya yang terlibat langsung dalam rapat itu menyampaikan, sampai saat ini memang belum mengerucut karena beberapa wilayah yang diusulkan seperti Sulawesi dan Kalimantan belum terlalu mendukung.

Benar memang kedua wilayah itu ada di tengah-tengah sesuai dengan permintaan Jokowi, sayangnya Sulawesi, di sana merupakan wilayah pegunungan berapi (ring of fire). Sementara di Kalimantan sumber daya airnya tidak mendukung.

"Saya lihat belum mengerucut karena dari kriteria yang di sampaikan pak Wakil presiden menjelaskan tidak ada yang ideal. Artinya begini, kalau di lihat dari tengah-tengah itu antara Sulawesi dan Kalimantan. Tapi masalahnya di Sulawedi ring of fire. Kalau di Kalimantan itu airnya jelek. Jadi tidak ada yang ideal. Begitu lihat kriteria disusun. Tidak ada yang ideal. Bisa enggak memenuhi semuanya. Bahkan Pak JK menyampaikan berada di sekitaran Jakarta," katanya.

Bima menambahkan, Jokowi tidak ingin tergesa-gesa dalam mengimplementasikan rencana itu serta meminta Bappenas untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai lokasi ibu kota yang baru. Makanya Jokowi juga terus meminta masukan dari masyarakat di mana lokasi ibu kota baru yang ideal.

"Yang paling penting, pertama tujuan dari pemindahan ibu kota tersebut untuk mengurangi pertumbuhan penduduk. Ketika digeser ke tengah-tengah pertumbuhan penduduk menjadi seimbang karena Pulau Jawa sudah terlalu berat. Kedua tentunya mendorong pembangunan wilayah Indonesia timur," ungkapnya.



Sumber: BeritaSatu.com