MRT Siapkan Lahan untuk Pembangunan Gardu Induk Listrik

MRT Siapkan Lahan untuk Pembangunan Gardu Induk Listrik
Penumpang antusias menjajal MRT. ( Foto: Beritasatu.com / Bayu Marhaenjati )
Lenny Tristia Tambun / BW Kamis, 9 Mei 2019 | 14:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta sedang menyiapkan lahan yang akan digunakan bagi pembangunan dinding diafragma (d-wall) untuk gardu induk listrik (receiving substation-RSS) di Monas.

Gardu induk listrik itu untuk MRT koridor utara-selatan fase II (Bundaran Hotel Indonesia-Kota). Fase II telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 25 Maret 2019 bersamaan dengan peresmian fase I (Lebak Bulus-Bundaran HI) secara komersial.

Selain itu, PT MRT Jakarta juga sudah mengantongi surat rekomendasi dari Sekretariat Negara (Setneg) untuk pembangunan d-wall RSS di kawasan Monas yang menjadi kawasan objek vital dan ring 1.

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, proyek pembangunan MRT fase II akan dimulai dengan membangun d-wall RSS atau paket CP200. Saat ini, prosesnya masih dalam tahap penyiapan lahan untuk pembangunan.

Proyek ini akan dikerjakan oleh PT Trocon Indah Perkasa yang menjadi pengembang pemenang lelang. Lahan yang disiapkan tepatnya berseberangan langsung dengan Museum Nasional.

“Jadi kita sedang menyiapkan lahan. Dalam rapat, kita sudah sepakati untuk segera dimulai,” kata William Sabandar, Kamis (9/5/2019).

Setelah lahan siap, lanjut William Sabandar, maka area konstruksi proyek d-wall RSS ini akan ditutup dan diberikan pembatas, seperti yang dilakukan pada pembangunan konstruksi fisik MRT fase I.

Meski diberikan pembatas konstruksi, William menjamin pengerjaan proyek ini tidak akan mengganggu arus lalu lintas karena letaknya di dalam kawasan Monas.

“Dalam waktu dekat akan segera dimulai prosesnya, karena proses konstruksinya harus selesai tahun ini. Jadi waktu kerjanya hanya tujuh bulan,” jelas William Sabandar.

Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan, seiring pembangunan d-wall RSS di Monas, pihaknya juga telah menyiapkan proses tender lima paket pembangunan MRT fase II.

“Tiga paket di antaranya adalah pembangunan konstruksi MRT Jakarta, yaitu CP201, CP202 dan CP203. Saat ini dokumen tender masih dalam proses review JICA,” kata Silvia.

Untuk CP201, akan dibangun jalur kereta MRT sepanjang 2,6 kilometer (km) yang di dalamnya ada dua stasiun bawah tanah. CP202 sepanjang 1,8 km dengan tiga stasiun bawah tanah dan CP203 sepanjang 1,2 km dengan dua stasiun bawah tanah.

“Ketiga konstruksi ini ditargetkan akan dibangun selama 57 bulan. Diharapkan, April 2020 sudah dilakukan pembangunannya,” ujar Silvia Halim.

Dua paket lainnya, adalah CP205 adalah pembangunan dan penginstalan sistem perkeretaapian serta rel. Diharapkan pembangunan bisa dilakukan pada Juli 2020 dengan waktu pengerjaan selama 54 bulan.

Untuk CP206 adalah paket pengadaan rolling stock atau kereta MRT Jakarta. Nantinya akan ada enam set rangkaian kereta.

Masing-masing rangkaian terdiri dari enam kereta. Jadi total kereta yang akan dioperasikan dalam Fase II ini ada sebanyak 36 kereta. Diharapkan Juli 2020 sudah bisa dilakukan pembuatan kereta oleh pemenang tender dengan waktu pengerjaan 54 bulan.

“Untuk dua paket ini dalam penyusunan dokumen tender. Karena itu, diperlukan segera keputusan atas lokasi depo fase II untuk finalisasi BED dan dokumen tendernya,” terang Silvia Halim.



Sumber: Suara Pembaruan