Tarif Normal, Penumpang MRT Jakarta Semakin Bertambah Setiap Hari

Tarif Normal, Penumpang MRT Jakarta Semakin Bertambah Setiap Hari
Penumpang menggunakan moda raya terpadu (MRT) Jakarta yang kini telah beroperasi secara komersial. ( Foto: Antara )
Lenny Tristia Tambun / CAH Senin, 20 Mei 2019 | 11:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemberlakuan tarif normal sejak 13 Mei 2019, ternyata tidak mengakibatkan penurunan jumlah penumpang Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta. Justru, terjadi peningkatan jumlah penumpang setiap harinya.

Berdasarkan catatan PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, jumlah penumpang pada hari pertama, Senin (13/5/2019) 2019 diberlakukannya tarif normal mencapai 77.636 orang.

Jumlah tersebut mengalami peningkatan pada Selasa (14/5/2019), dengan jumlah penumpang mencapai 79.431 orang.

Namun pada hari Rabu (15/5/2019), jumlah penumpang sempat mengalami penurunan sedikit. Saat itu, jumlah penumpang mencapai 78.891 orang.

Tetapi terjadi peningkatan kembali di hari Kamis (16/5/2019) mencapai 81.965 orang dan pada Jumat (17/5/2019) mencapai 89.372 orang.

Sekretaris Perusahaaan PT MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin mengatakan dengan adanya peningkatan jumlah penumpang MRT Jakarta setiap harinya, menandakan keberadaan transportasi publik berbasis rel ini sangat dibutuhkan warga Jakarta dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Terutama yang berkantor di pusat kota, dapat menempuh perjalanan dari Lebakbulus ke Bundaran Hotel Indonesia (HI) hanya 30 menit saja.

“Jadi meski tarif normal, namun tidak mempengaruhi jumlah penumpang sampai sejauh ini. MRT Jakarta tetap diminati mereka yang ingin beraktivitas dengan cepat dan tepat waktu,” kata Muhamad Kamaluddin, Senin (20/5/2019).

Stasiun Bundaran HI, Stasiun Lebak Bulus dan Stasiun Dukuh Atas masih menjadi stasiun paling banyak penumpangnya. Karena di ketiga stasiun ini sudah terintegrasi dengan Transjakarta dan commuter line.

“Seperti di Dukuh Atas, terintegrasi dengan dua moda transportasi publik. Yakni Transjakarta dan commuter line. Begitu juga dengan Stasiun Lebak Bulus dan Bundaran HI, sudah terkoneksi dengan Transjakarta. Sehingga memudahkan penumpang untuk berpindah ke transportasi publik lainnya,” terang Kamaluddin.

Menurutnya, jumlah penumpang yang hampir menembus angka 90.000 orang ini sudah melampui target tahun pertama operasi MRT sebesar 65.000 orang per hari.

Untuk jumlah penumpang, pihaknya merencanakan 130.000 orang per hari. Namun, target tersebut tidak akan tercapai pada tahun pertama operasi, melainkan diperkirakan akan tercapai pada tahun keempat MRT beroperasi secara komersial.

“Jadi untuk tahun ini, kami merencanakan jumlah penumpang 65.000 orang per hari, dengan masa operasi komersial di tahun pertama selama sembilan bulan. Lalu tahun kedua, menjadi 91.000 per hari, pada tahun ketiga meningkat menjadi 117.000 orang per hari dan tahun keempat baru mencapai 130.000 per hari,” terang Kamaluddin.

Integrasi Transjakarta

Sementara itu, Direktur Utama PT MRT Jakarta, William P Sabandar mengatakan untuk menjaga ridership setelah tarif MRT Jakarta kembali normal menjadi Rp 4.000 hingga Rp 14.000, maka ada beberapa langkah yang telah dilakukan perusahaannya.

Yakni menambah interkoneksi MRT Jakarta dengan Transjakarta. Bila dulu hanya tiga, kini sudah lima stasiun MRT Jakarta yang terintegrasi dengan Transjakarta. Integrasi dilakukan berdasarkan Pergub Nomor 79 tahun 2019.

“Dinas Perhubungan DKI menetapkan trayek layanan bus Transjakarta yang terintegrasi dengan layanan kereta MRT Jakarta,” kata William Sabandar.

Kelima stasiun MRT yang terintegrasi dengan Transjakarta adala Stasiun MRT Asean, Stasiun MRT Blok A, Stasiun MRT Haji Nawi, Stasiun MRT Cipete dan Stasiun MRT Fatmawati.

Untuk Stasiun MRT Asean, ada tiga trayek Transjakarta. Yakni Stasiun MRT Asean-Jalan Pakubuwono VI, Stasiun MRT Asean-Jalan Kramat Pela, dan Stasiun MRT Asean- Jalan Wijaya I.

Kemudian ada dua trayek di Blok A yaitu, Stasiun MRT Blok A ke Jalan Pangeran Antasari dan ke Radio Dalam Raya.

Begitu juga di Stasiun MRT Haji Nawi ada dua trayek. Terdiri dari Stasiun MRT Haji Nawi ke Jalan Pangeran Antasari dan ke Jalan Metro Pondok Indah.

Sedangkan untuk Stasiun MRT Cipete dan Fatmawati terintegrasi dengan satu trayek. Masing-masing terdiri dari Stasiun MRT Cipete ke Jalan Pangeran Antasari dan Stasiun Fatmawati ke Jalan Lebak Bulus I.

“Layanan Transjakarta sebagai prioritas angkutan integrasi dari dan menuju stasiun MRT. Untuk itu ada 10 rute integrasi baru Transjakarta,” ujar William Sabandar.

Kesepuluh rute integrasi baru Transjakarta itu adalah Dukuh Atas-Kota, Dukuh Atas-Tanah Abang, Dukuh Atas-Kuningan, Dukuh Atas-Sam Ratulangi, Bundaran HI-Kota, BSD-Bundaran Senayan, Bintaro-Blok M, Pondok Cabe-Tanah Abang, Cinere-Kuningan dan Jatijajar-Lebakbulus.

“Titik transit ada di Stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, Stasiun Blok M, Asean, Dukuh Atas dan Bundaran HI,” papar William Sabandar.

Selain menambah integrasi dengan Transjakarta, PT MRT Jakarta menambah area park and ride. Sehingga semakin memudahkan perpindahan dari kendaraan pribadi ke MRT untuk meneruskan perjalanan ke pusat kota.

Awalnya, baru tiga park and ride yang disediakan. Satu di lahan eks Polri dekat kawasan Stasiun Lebak Bulus dan dua area lainnya ada di dekat stasiun Fatmawati. Ketiganya mampu menampung 630 motor dan 285 mobil.

Kemudian, PT MRT Jakarta menambah empat area park and ride. Diantaranya di Tripatra dan Mulia Graha. Selanjutnya, Lorena yang telah bersedia lahannya digunakan sebagai park and ride. Sekarang dalam persiapan untuk perizinan dan pembangunan infrastruktur.

Sedangkan di JIS, masih dalam penjajakan. Karena mereka memiliki kewajiban ke Pemprov DKI sekitar Rp 18 miliar,” ungkap William Sabandar.

 



Sumber: BeritaSatu.com