Polisi Bogor Antisipasi Aksi Massa 22 Mei

Polisi Bogor Antisipasi Aksi Massa 22 Mei
Ilustrasi ( Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin )
Vento Saudale / CAH Selasa, 21 Mei 2019 | 10:31 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Polres Kota Bogor melakukan antisipasi dan penyekatan massa yang akan melakukan aksi massa 22 Mei di Gedung KPU, Jakarta. Sebanyak 1.000 personel disiagakan untuk melakukan pengamanan di Kota Bogor.

Kapolresta Bogor Kota, Komisaris Besar Hendri Fiuser menuturkan, pun hasil rekapitulasi KPU sudah diumumkan seluruh personel aparat tetap siaga hingga hari penetapan KPU pada Jumat 24 Mei 2019.

Ia pun menilai aksi massa penolakan hasil rekapitulasi perhitungan suara pemilu 2019, sudah tidak relevan dilakukan Rabu besok mengingat KPU sudah mengumumkan hasilnya.

“Kita masih lakukan antisipasi masyarakat yang akan melakukan aksi massa besok 22 Mei. Kita akan lakukan beberapa penyekatan di beberapa titik di Kota Bogor. Bila alasan ke Jakarta mengganggu ketertiban dan keamanan kita suruh pulang, ” kata Hendri, Selasa (21/5/2019).

Kata dia, hingga saat ini belum ada indikasi masyarakat Kota Bogor yang secara berkelompok melakukan aksi di Jakarta. Namun, kata Hendri, tidak menutup kemungkinan ada memaksakan berangkat dengan tidak menggunakan atribut untuk aksi massa besok.

“Kemungkinan ada yang berangkat sendiri-sendiri. Yang pasti kita antisipasi lah,” paparnya.

Sebanyak 1.000 personel gabungan TNI dan Polri untuk menjaga keamanan Kota Bogor. Khususnya di seputar Istana Kepresidenan Bogor. Pengamanan di kediaman Presiden Jokowi dan beberapa fasilitas objek vital akan dipertebal.

Sebelumnya, Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan bahwa aparat gabungan TNI-Polri yang melakukan pengamanan 22 Mei tidak dilengkapi dengan senjata api dan pelurutajam. Aparat keamanan hanya dilengkapi tameng, gas air mata, dan water canon.

"Konsep pengamanan Polri untuk tanggal 22 Mei paling pokok adalah seluruh aparat keamanan yang melaksanakan pengamanan tidak dibekali senjata api dan peluru tajam. Semua anggota yang melakukan pengamanan hanya dilengkapi tameng, gas air mata, water canon," tambah Dedi.

Dedi mengatakan seluruh aparat keamanan telah diinstruksikan bahwa tidak boleh membawa senjata api dan peluru tajam saat mengamankan aksi 22 Mei. Jika ditemukan ada di antara demonstran yang membawa senjata api dan peluru tajam maka patut diduga serangan teroris.

"Apabila nanti tanggal 22 Mei ada yang menggunakan peluru tajam maka patut diduga bahwa itu adalah serangan terorisme. karena aparat keamanan tidak boleh, ini sudah perintah dari pimpinan tidak boleh membawa senjata api dan peluru tajam di saat mengamankan seluruh aksi masyarakat" jelas Dedi.

Selain itu, Dedi menyebutkan TNI-Polri telah mempersiapkan tim anti anarkis untuk menghadapi kemungkinan adanya anarkis di 22 Mei. "Kita juga mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi, TNI-Polri sudah memiliki tim anti anarkis" lanjut Dedi.



Sumber: BeritaSatu.com