Superqurban Solusi Ketahanan Pangan Indonesia

Superqurban  Solusi Ketahanan Pangan Indonesia
CEO Rumah Zakat Nur Efendi saat penyampaian penyampaian program Superqurban di Jakarta, Rabu (10/7). Selama 2018 Rumah Zakat telah menyalurkan 502.521 paket Superqurban untuk 251.257 manfaat. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: beritasatu / defrizal )
Rully Satriadi / RSAT Rabu, 10 Juli 2019 | 18:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sebagai negara yang terletak di wilayah rawan bencana, Indonesia harus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana serta potensi kerawanan pangan yang bersifat transien sebagai dampak bencana.

Mengatasi hal itu, Rumah Zakat memberikan solusi dalam ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat yang terkena bencana melalui program Superqurban. Dengan Superqurban jutaan ton hewan daging kurban yang habis tiga hari dapat dioptimalkan menjadi cadangan makanan sebagai ikhtiar terwujudnya ketahanan pangan Indonesia dan dunia,” ujar CEO Rumah Zakat, Nur Efendi yang didampingi Ketua Komisi Fatwa MUI, H Hasanudin.kepada wartawan di Jakarta, Rabu (10/7/2019).

Superqurban merupakan program optimalisasi kurban dengan mengolah dan mengemas daging kurban menjadi cadangan pangan dari protein hewani dalam bentuk kornet ataupun rendang

Diproses dengan menggunakan teknologi tinggi dan suhu tertentu, Superqurban bisa tahan hingga tiga tahun. Hal ini yang membuat Superqurban bisa dinikmati sepanjang tahun oleh masyarakat pelosok Indonesia bahkan dunia.

Selain itu dengan inovasi Superqurban, pembagian dapat dilakukan dengan lebih merata karena dapat dilakukan sepanjang tahun. Begitu juga penerima mulai dari masyarakat yang membutuhkan di kawasan tertinggal, terluar dan terdepan Indonesia, serta daerah yang terkena bencana.. “Tidak seperti selama ini hanya di wilayah sekitar, dan seringkali menimbulkan korban dalam pembagiannya,” katanya.

Menurut Nur Efendi, solusi pemenuhan pangan tidak hanya diperuntukan bagi masyarakat yang ada di Indonesia, tapi juga bagi para pengungsi di empat negara yang mengalami bencana perang maupun kelaparan seperti Palestina, Suriah, Myanmar, dan Bangladesh. “Selama tahun 2018 – 2019 Superqurban telah menyalurkan bagi ribuan pengungsi tersebut,” ujarnya.

Dikatakan, selama 2018 Rumah Zakat telah menyalurkan 502.521 paket Superqurban untuk 251.257 penerima manfaat. Sedangkan dari Januari hingga Juni 2019 telah disalurkan 161.986 paket untuk 80.993 penerima manfaat. Dengan jumlah terbanyak disalurkan di desa dan pelosok, kemudian terbanyak kedua untuk wilayah bencana.

Untuk Idul Adha 2019 ini, Rumah Zakat menargetkan 15.000 pekurban dengan satu juta paket Superqurban untuk didistribusikan ke 1.435 desa berdaya dan 5 negara.

“Karena praktis saat disalurkan dan tahan lama, Superqurban menjadi paket andalan dalam penyaluran bantuan pangan bagi masyarakat di luar Indonesia. Dengan demikian kami berharap Superqurban benar-benar bisa menjadi solusi ketahanan pangan bagi Indonesia dan dunia,” ungkap Nur.

Raih Muri
Sementara itu, inovasi Superqurban yang digulirkan sejak tahun 2000 mendapat apresiasi dari berbagai pihak, salah satunya dari Museum Rekor Indonesia (Muri). Menjadi pionir dalam melakukan inovasi mengolah daging kurban menjadi kornet dan rendang, Rumah Zakat mendapat penghargan dari Muri.

Piagam penghargaan diberikan Senior Manager Muri, Ngadmi kepada CEO Rumah Zakat Nur Efendi atas inovasi yang dilakukan sebagai Pengolah dan Pengemas Daging Kurban Pertama di Indonesia.

Ketua Komisi Fatwa MUI H. Hasanuddin mengatakan, inovasi yang dilakukan Rumah Zakat melalui program Superqurban ini sangat luar biasa dan tidak menyalahi aturan hukum Islam.

Dari sisi hukum Islam tidak ada masalah atau boleh dilakukan karena dilakukan untuk kemaslahatan umat.

Sedangkan dari sisi Fatwa belum ada. Untuk itu dia berharap Rumah Zakat segera mengusulkan ke Komisi Fatwa MUI. “Insya Allah jika ada yang meminta dalam waktu dekat akan dikeluarkan.,” ujar Hasanuddin.



Sumber: Suara Pembaruan