Polres Jakut Tahan Pelaku Ajakan Jangan Pajang Foto Presiden

Polres Jakut Tahan Pelaku Ajakan Jangan Pajang Foto Presiden
Unggahan Asteria Fitriani di Facebook yang berisi ajakan untuk tidak memasang foto Presiden Joko Widodo. ( Foto: Istimewa )
Carlos Roy Fajarta / JAS Jumat, 12 Juli 2019 | 11:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polres Metro Jakarta Utara melakukan penahanan terhadap Asteria Fitriani (43) warga Jalan Menteng Gang V Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja yang memposting ajakan untuk tidak memajang foto Presiden pada Kamis (11/7/2019) kemarin.

Pelaku diamankan di tempat les bimbingan belajar di daerah Koja pada Selasa (9/7/2019) lalu oleh kepolisian setelah mengunggah tulisan yang masuk dalam kategori menyiarkan berita bohong. Tindakan Asteria dianggap menyebabkan keonaran, atau menyebarkan ujaran kebencian, atau menghasut jangan menurut peraturan undang undang atau pemerintah yang sah menurut peraturan perundang undangan atau menghina sesuatu kekuasaan yang ada di negara Indonesia.

Atas dasar laporan seorang warga Penjaringan berinisial TCS pihak kepolisian kemudian melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan beberapa ahli, baik ahli ITE, ahli bahasa, maupun ahli pidana.

"Postingan tersangka dalam akun media sosial adalah, 'kalau boleh usul, di sekolah sekolah tidak usah lagi memajang foto presiden dan wakil presiden. Turunin aja foto-fotonya. Kita sebagai guru nggak mau kan mengajarkan anak anak didik kita untuk mengikuti dan membiarkan kecurangan dan ketidakadilan. Cukup pajang foto goodbener kita aja, gubernur Indonesia Anies Baswedan," ujar Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Budhi Herdi Susianto.

Dikatakannya AF melakukan perbuatannya tersebut menggunakan media sosial Facebook pada 26 Juni 2019 yang kemudian pada 1 Juli 2019 postingan AF tersebut di-capture oleh salah satu masyarakat yg melapor ke kami tentang adanya dugaan pelangggaran UU ITE.

"Atas laporan tersebut kami melakukan penyelidikan dan kemudian kami meningkatkan statusnya ke penyidikan. Dan tersangka AF patut diduga melakukan pelanggaran pidana, baik UU ITE maupun UU hukum pidana," tambah Budhi.

Pasal yang dikenakan terhadap Asteria Fitriani adalah pasal 28 ayat 2 juncto pasal 45 huruf a ayat 2 UU RI Nomor 19 tahun 2016 sesuai perubahan UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik juncto pasal 14 ayat 1 atau ayat 2 atau pasal 15 UU RI Nomor 1 tahun 46 tentang peraturan hukum pidana atau pasal 160 KUHP atau pasal 207 KUHP dengan ancaman hukuman pidana paling lama 6 tahun penjara atau denda maksimal Rp 1 miliar.

"Yang bersangkutan terpengaruh oleh lingkungan sekitar, terutama kondisi pasca-pemilu, dia masih terbawa emosi, sehingga belum bisa menahan dirinya, sehingga melakukan posting tersebut. AE juga berprofesi sebagai guru meski hanya guru les bimbingan belajar. Karena ancaman hukumannya di atas lima tahun, maka tersangka dapat dilakukan penahanan. Oleh karena itu, saat tersangka ditangkap hari Rabu, ini sudah 1x24 jam. Sudah masuk penahanan," tandas Budhi.

Pihak kepolisian meminta agar masyarakat lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial dan memikirkan dampak dari unggahan khususnya unggahan yang menyebarkan kebencian ataupun menghina maupun menghasut agar masyarakat tidak menurut pada pemerintah yang sah.



Sumber: Suara Pembaruan